BAB 32

7.4K 356 1
                                        

Jason berlalu memeluk Will yang tiba pagi itu di bandara. Dengan seragam militer kecilnya, Jason terlihat menyerupai John saat muda, pikir Marie. Marie menghapus air mata di ujung kelopak matanya, terharu melihat pertemuan Jason dan Will. Sekali lagi ini mengingatkannya pada kenangan saat John kembali dari tugas nya, Will kecil berlari untuk memeluk ayahnya. Sekarang kondisi itu benar-benar terulang kembali.

Marie maju untuk memeluk Will yang sekarang duduk di kursi rodanya. Tidak banyak yang berubah dari Will sejak kecelakaan itu, hanya pelipisnya yang menunjukkan bekas gurat luka sepanjang empat sentimeter.

"Apa ayah akan kembali berjalan?" Tanya Jason dipangkuan Will. Mereka sudah berada di dalam mobil.

"Tentu saja ayah akan berjalan kembali." Jawabnya, Jason tersenyum kecil. Will menggoyang hidung putranya sekilas. "Sudah pulang dari tugas, Jenderal?" Will bercanda. Jason tergelak, tertawa mendengar pertanyaan ayahnya. "Siap, tugas sudah berakhir." Jawab Jason menirukan cara berbicara yang diajarkan John padanya. "Apa kakek yang mengajari?"

"Kakek John memberitahu jika Jenderal militer harus selalu menjawab siap, meski keadaan tidaklah siap untuk berperang." Will takjub, tentu saja John bisa diandalkan untuk mendidik putranya.

Claire sedari tadi diam, mendengarkan percakapan antara Will dan Jason. Dia seperti masuk dalam lingkaran keluarga yang hebat. Terlebih dengan kemewahan yang dia rasakan selama mengikut pria itu, semakin membuatnya takjub.

Mereka tiba di rumah Will tak lama setelah itu. Marie dan John turun lebih dulu untuk masuk membawa Jason. Claire masih terasa canggung saat berada dekat dengan Will. Tentu saja karena kejadian di pesawat tadi, saat Will menangkap basah dirinya sedang menyentuh bibir Will. Will menatap matanya tajam dan aura membunuh Will membuatnya salah tingkah sampai detik ini.

Rumah yang dimasuki Claire terbilang sangat luas, mewah, dan artistik. Jarang, mungkin tidak ada yang pernah masuk selain izin dan kesempatan seperti yang dia dapat langsung melihat ke dalam rumah itu.

Claire mendorong terus kursi roda Will menuju kamarnya. Hanya sampai depan pintu. "Jika aku butuh sesuatu, kau bisa datang." Ucap Will, lalu dia mengangguk mengerti. Tentu saja dia tak mendapat izin selebih itu, masuk ke dalam kamar Will.

Will berdiri dengan bantuan alat penyangga tulang kaki yang memungkinkannya tetap berdiri meski harus berjalan lambat. Teknologi secanggih itu harusnya cukup, tapi Will ingin melepas semuanya, berjalan seperti normal. Mungkin Claire berguna untuk itu.

Claire bingung harus seperti apa sekarang, jelas dia tidak tahu harus kemana. Dan Marie mengerti, "Terimakasih, dokter Claire sudah bersedia untuk ini semua."

"Jangan panggil aku dokter, hanya Claire. Dokter Flynn yang mengirim ku."

"Oh, maaf. Baiklah, terimakasih. Ikutlah kesana, Gloria akan membawa mu untuk beristirahat."

***

Lori bertemu dengan Thomas siang itu. Mereka menghabiskan waktu makan siang bersama. "Bagaimana hari mu?"

"Sangat baik, sebenarnya buruk." Lori menghapus bekas air di bibirnya. "Kau?"

"Entahlah, aku suka makanan pilihan mu. Jadi Alle, maksud ku sepupu mu, sejak kapan berhubungan dengan Will?"

"Will menabraknya, lalu mereka saling jatuh cinta. Sederhana, rumit, dan seperti dongeng. Kau tau, Alle perempuan yang tak pernah terlibat hubungan secara emosional seperti ini sebelum bertemu dengan Will."

"Kadang-kadang kita berpikir seperti itu, karena Will pria yang hebat. Jatuh cinta pada gadis rumahan yang punya rentang usia cukup jauh."

"Kau benar. Well, Alle sangat berterimakasih, kau tahu dia sangat senang akhirnya tahu keberadaan Will."

AFTER MORNING COMES (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang