Part 72

689 38 10
                                        

Hari beranjak malam, Bintang, Bisma, dan Sinta menyiapkan pemanggang, dan daging iris serta sayuran lain sebagai bahan untuk membuat BBQ. Sekitar pukul tujuh malam, Arga dan Fiona datang membawa satu kantung besar makanan ringan.

Dipan panjang di tata berbagai macam makanan, dan Bintang dan Bisma mulai memanggang daging. Fiona melahap kentang gorengnya, “Apa tidak apa-apa kita disini sampai malam?  Bukannya disini ada penghuni kost yang lain?”

“Sebagian mereka pulang ke rumahnya, dan ada juga yang pergi ke rumah teman. Jadi, malam ini tidak ada siapa-siapa.”  Jawab Bintang.

Sinta, Fiona dan Arga duduk mengelilingi alat pemanggang yang dimana Bintang sedang memanggang irisan-irisan daging. Arga tersenyum senang melihat Fiona yang masih lahap dengan kentang gorengnya.

Sejak awal, ia tak pernah setuju jika kekasihnya itu diet, Fiona selalu cantik meski bangun dengan muka berminyak dan rambut berantakan. Tubuhnya memang lebih tinggi dari kebanyakan teman di kelasnya, tapi itu jadi slalah satu daya tariknya, ia suka wanita dengan kaki yang panjang.

Arga memberikan air minum untuk wanita yang disayanginya itu, “Fi, jadi besok kau akan menemui ibumu di luar kota?”

“Ya, mau gimana lagi, salah satu persayaratan beasiswanya itu surat izin orang tua. Ah, menyebalkan, aku tak ingin melihat mama dengan suami barunya.”

“Aku akan mengantarmu besok.”

Fiona menghela, “Aku juga belum melakukan cek kesehatan, sebelum itu aku juga harus menurunkan berat badanku tiga kilo lagi. dan malam ini, aku malah makan dua porsi penuh kentang goreng.”

“Kenapa hal itu penting untukmu? Kau tidak pernah terlihat buruk kalau berat badanmu naik. Kapan sih kau akan berhenti  melakukannya?”

“Kau bisa mengatakannya karena kau terlahir sebagai laki-laki, Arga.”

“Tapi, Sinta gak gitu kok.”

“Karena Sinta tidak terlahir dengan tubuh mudah gemuk sepertiku. Ia tidak akan pernah gemuk meski makan banyak.”

“Kenapa tubuh kurus menjadi standar untuk wanita di dunia ini? Kenapa harus menderita untuk mendapat gelar cantik?”

“Ssaem, Kapan dagingnya akan matang?”
tanya Sinta tiba-tiba, dibalas senyum geli Bintang. 

“Jadi hanya itu yang membuatmu penasaran?” tanya Arga heran.

“Bukankah kalian juga penasaran tetapi malah tidak bertanya?” tanya Sinta pada Fiona dan Arga.

“Jika kupikir, sepertinya kau benar. Aku juga jadi penasaran kapan dagingnya matang.”, jawab Arga.

Fiona menatap Arga dan Sinta  bergantian. “Apa hanya aku yang tidak mengerti jalan pikiran kalian berdua?”

Bintang melirik Sinta yang begitu menantinya, lalu menyuapinya dengan daging yang telah matang. “Aaaa, buka mulutmu.”

Bisma datang dengan saus dan bumbu BBQ yang lain. Kemudian, mereka langsung menyantap lahap semua daging dan sayur yang telah matang. Larut dalam canda, dan lembutnya daging panggang dipadu dengan bumbu rempah yang memikat lidah.
Fiona melupakan prinsip hidupnya untuk mempertahankan berat badannya. Dan, Arga sangat bersyukur malam ini.

Bintang senang karena Sinta tertawa lepas, lupa pada sendunya hari dimana ia kehilangan pahlawan hidupnya, ayah berharganya.

Sementara Bisma, keputusan untuk membatalkan jadwal mendaki untuk bisa melihat Sinta sangat bahagia malam ini, ia harusnya melakukan ini sejak dahulu.

Tepat di atas langit, meski malam pergantian tahun masih beberapa jam lagi,kembang api saling sahut-menyahut, meledakkan diri, membuat kagum setiap insan yang menyaksikan.

Fate In You (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang