Part 41

725 37 0
                                        

Jendela kamarnya menyala, apa dia sedang belajar?

Bintang terus memandangi lantai atas rumah Sinta dari depan gerbang. Kenapa menemui gadis itu terasa sulit sekarang?

Namun, terlalu samar dan bimbang bila ia menemui Sinta sekarang, tentang Mama Sinta dengan kedua orang tua-nya, selama ini ia selalu berpikir sulit, berkelit, tetapi Sinta selalu memiliki pandangan berbeda, yang terlalu polos dan sederhana dan tak pernah terpikirkan oleh Bintang.

Pria itu menghela, melilhat barang yang dibawanya dan pergi dari sana.

Sinta berjalan santai sambil menikmati udara malam. Ia menoleh ke belakang, Bisma sepertinya mengambil jalan lain untuk pulang.

Apa mungkin sahabatnya itu belum move on dari Naomi?

Ia ingat ketika gadis cantik itu meminta padanya untuk menjodohkannya dengan Bisma, katanya Bisma itu benar-benar tipe idealnya. Meski itu sudah lama berlalu, Sinta masih ingat mata berbinar Naomi ketika memberitahunya bahwa Bisma mengajaknya berpacaran.

Harusnya mereka jadi pasangan yang sempurna, sayangnya hubungan mereka tak berlangsung lama. Setelah putus, Naomi sama sekali tidak menghubunginya lagi, sampai sekarang.

Cukup untuk Naomi, sekarang Sinta berhenti di depan sebuah mini market.

Jalan-jalan malam membuatnya haus, dan tiba-tiba ia sangat ingin makan apel.
Ia mendorong pintu berbahan kaca tersebut dan langsung mengambil buah apel merah kemasan, lalu ke lemari pendingin mengambil minuman, ia menuju bagian ATK dan mengambil cutter. Setelah itu ia ikut mengantri bersama beberapa pelanggan lain.

Kasir wanita menghitung total belanjaan Sinta, dan Sinta merogoh kantung trainingnya mencari uangnya. Dahinya berkerut dan ia memeriksa kantung satu lagi, kosong.

Ia tidak bawa uang sepeser pun.

Padahal ia yakin menaruh uang di celana trainingnya sore tadi. Sinta menundukkan kepala. Dia pakai celana training lain. Oh tidak!

“Tiga puluh lima ribu empat ratus dik.”, kata kasirnya lagi.

Sinta menggaruk kepalanya yang mendadak gatal, ia menoleh ke kanan kiri memastikan. Mini market malam ini cukup sepi, ia mendekatkan wajahnya,

“Sini deh mba.. mbak, saya boleh pinjem uang mbak dulu gak?”

“Ya?”

“Jangan kenceng-kenceng! Anu.. ini uang saya ketinggalan, saya pinjam uang mbak kasirnya dulu ya? Nanti saya kesini lagi kembaliin uangnya. Ya mbak?”

“Duh, dik. Maaf tidak bisa. Kalau adik tidak punya uangnya, silahkan keluar dari sini ya?”

“Ih, mbak! Siapa yang gak punya uang, saya gak bawa—“

“Totalin sama belanjaan saya saja ya, mbak.”

Tiba-tiba seorang pria berhoodie hitam muncul dan menaruh belanjaannya yang hanya minuman soda itu. Orang itu mengeluarkan satu lembar lima puluh ribuan dan disambut senyuman dari kasir.

“Permisi.” Sinta menusuk-nusuk lengan pria yang menutup seluruh kepalanya dengan tudung. “Mas-nya siapa ya? Kok bayarin belanjaan saya?”

“Ini kembaliannya, mas. Selamat malam.”

Orang itu pergi meninggalkan Sinta keluar dari mini market.

Sinta menjinjing belanjaannya dengan plastik dan menyusulnya. Sinta memanggilnya berkali-kali, tapi orang itu tetap berjalan. sinta menahan pergelangan tangan kirinya, dan pria itu langsung berbalik dan menarik kembali tangannya. Gerakannya membuat tubuh Sinta tertarik kedepan dan kepalanya terbentur langsung dengan dadanya.

Fate In You (COMPLETED)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang