KEVIN membaca beberapa email masuk dengan seksama. Kurang dari satu hari saja–namun bisa dipastikan menambah deretan pekerjaan barang terabaikan sedikit saja. Meninggalkan fokusnya. Kevin mengalihkan padangan, menyandarkan punggung pada sandaran kursi kerja seraya melipat kedua tangan didepan dada. Hening beberapa detik– memanjakan matanya untuk berpekur lurus pada sosok yang tengah tersenyum manis padanya.
Tangan Kevin terulur, mengajak Mila untuk mendekat dan duduk diatas pangkuannya.
"Apa yang kamu bawa?"
Sejurus pada sesuatu yang Mila bawa ditangannya. Aroma khas dan uap hangat yang menyentuh permukaan wajah Kevin membuat pria itu memejamkan mata sekilas.
"Jahe hangat. Biar lebih enakan".
Mila mendekatkan cangkir yang dibawanya ke bibir Kevin, dengan lambat. Agar Kevin bisa menyesuaikan suhu panas dari minuman itu ketika menyentuh lidahnya. Sebelum ini, panas tubuh Kevin sempat tinggi karena flu dan demam. Alasan pekerjaan lagi-lagi membuat pria itu enggan menyentuh kasur barang sebentar saja beristirahat. Boleh jadi ia menyimpan kekesalan pada Galang, namun bukan bearti akan membirkan– sahabatnya bekerja sendiri. Emosi Galang tidak berpengaruh baik pada urusan pekerjaan, apalagi ketika mengingat seperti apa murkanya pria itu ketika tahu ia akan bertugas lama di Singapore hingga tiga minggu mendatang.
Mahkluk astral dan penderitaannya! Rasakan!
"Sebelum ini kau sudah memberiku vitamin dan obat penurun demam" ucap Kevin skeptic.
"Jika kamu berpikir aku mencampurkan obat tidur didalamnya, itu salah!" Sahut Mila cepat seolah mengetahui isi kepala Kevin. Matanya berputar jengah, seraya meletakkan cangkir ditangannya keatas meja.
Sadar Mila akan beranjak dari pangkuannya. Kevin dengan segera mengurung Mila dengan kedua tangan yang dilingkarkan pada pinggang ramping itu. Menyandarkan kepalanya didada Mila seraya menghirup aroma lily yang menguar dari ceruk– istrinya.
"Memaksakan diri untuk bekerja disaat tidak sehat. Kamu pikir dewa?" gerutu Mila.
"Kondisi yang memaksa, Angel". Sahut Kevin bergeming. "Hanya sebentar setelahnya aku akan tidur sesuai anjuranmu" lanjut Kevin sengaja berbicara dengan bibir menempel pada leher Mila.
Wanita itu meremang. Bulu halus diarea lehernya berdiri karena sentuhan udara hangat dari mulut Kevin. Tidakkah pria ini sadar jika situasi ini membuat Mila seketika merasa seperti wanita liar yang menginginkan penyatuan dalam kondisi apapun? Entahlah– tapi belakangan Mila merasa ada yang salah pada dirinya.
"Hari esok akan terasa melelahkan jika tidak diimbangi istirahat yang cukup", Mila mendorong bahu Kevin dan memaksa pria itu mengangkat wajah untuk menatapnya. "Dan kamu tidak dalam keadaan baik-baik saja" raut wajah Mila menegang saat mendapati mata Kevin yang merah dan berair. Menyentuh dahi Kevin. Lagi, suhu tubuhnya tidak normal.
"Sepertinya kau benar– kepalaku seketika pusing" memijat kedua sisi kepalnya yang berdenyut nyeri. Mila mengambil alih tindakan kecil itu dan beringsut dari pangkuan Kevin.
"Sebaiknya kita pindah ke kamar" ajak Mila.
Kevin tersenyum tipis tapi jenaka diantara tatapan lemah karena suhu tubuh yang meningkat.
"Disini juga tidak masalah, Angel". Mila mengernyit.
Mencari tahu arah pembicaraan Kevin. Namun menemukan Kevin tersenyum semakin jenaka. Membuat Mila mengerti maksud ucapan pria itu.
Sentilan ringan mendarat didahi Kevin. "Tidak ada aktivitas malam, Dear". Geram Mila tertahan. "Persetan dengan pedang Arthur-mu, istirahat pilihan terakhir" putus Mila sepihak. Melangkah sendiri ketika tidak ada niatan dari Kevin untuk mengikuti ajakannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
DEAR YOU
FanfictionCinta yang besar membuatnya bertahan pada sebuah kata "Kesetiaan", namun bagaimana saat (terpaksa) kesetiaan itulah dipertanyakan? -Louisa Mila Calysta - Kesetiaan hanya akan membawamu pada kesengsaraan, sedang mencintai adalah anugerah. Tapi cin...
