Mahesa membiarkan Britney bersandar pada Sofa dan berlari meninggalkan Britney untuk menuju kamar nya . Untung saja ia memiliki peralatan medis dan beberapa obat-obatan untuk penderita penyakit jantung di kamarnya walaupun tidak selengkap dirumah sakit tapi setidak nya di saat darurat seperti ini tidak perlu panik .
Tidak lama ia kembali menghampiri Britney yang masih meringis memegangi dadanya di sofa. Ia membawa 2 botol obat dan satu tabung oksigen kecil berserta maskernya.
"Pake ini dulu ney" ia memakaikan masker oksigen itu untuk menutupi hidung dan mulut Gadisnya. "Sekarang minum obat nya, biar sakit di dada kamu cepet ilang" sambung nya sembari membuka dua botol obat tersebut dan berniat memasukan nya kedalam mulut Britney, namun sayang mulut gadis itu tak kunjung terbuka . "Buka mulut nya sayang" pinta Mahesa dan hanya di jawab gelengan lemah oleh Britney . "Minum obat nya ney , kamu gak mau sakit kan ? Aku mohon minum obat nya" lagi-lagi Mahesa meminta dengan sungguh-sungguh dan tanpa anggukan Britney membuka mulut nya , menelan 2 obat itu dengan segelas air mineral .
"Kamu istirahat ke kamar ya"
Britney menggeleng , kemudian ia mengalihkan wajah nya dari Mahesa. Rasa kecewa dan sakit hati nya masih sangat terasa di dalam hatinya namun sialnya dalam keadaan yang menyakitkan seperti ini kenapa penyakit nya harus kambuh ? Sungguh ini waktu yang sangat tidak tepat .
"Kamu harus istirahat , ayo aku anter ke kamar" dengan susah payah Mahesa membopong tubuh Britney dan mengangkat tabung gas oksigen kecil itu di tangan kirinya. Britney tidak berontak , ia hanya diam pasrah dengan rasa sakit yang bertubi-tubi .
Setelah sampai di dalam kamar nya , Mahesa mebaringkan tubuh Britney di atas tempat tidur nya. Ia meletakan tabung oksigen itu tepat di samping Britney dan menutupi setengah tubuh Britney dengan bed cover di kasur nya .
"Kamu istirahat ya, mau aku temenin atau aku tinggal ?" Tanya Mahesa dengan lembut .
Britney tidak menjawab lagi-lagi ia mengalihkan wajah nya dari hadapan Mahesa , ia tidak ingin memandang wajah kekasih nya untuk saat ini. Namun rasa sakit di dadanya kini terasa kalah oleh rasa sakit hati sekaligus kecewa dengan Mahesa saat ini . Ia tidak menyangka bisa-bisa nya Mahesa berciuman dan berpelukan dengan perempuan lain dan bahkan Mahesa tidak pernah jujur apapun pada dirinya . Entah rasanya sudah tidak bisa di gambarkan seperti apa perasaannya saat ini yang ia tau baru kali ini ia merasakan ada yang lebih sakit dari pada rasa sakit karna penyakitnya , yaitu rasa sakit karna tersakiti oleh perasaannya sendiri .
Bulir demi bulir air matanya berhasil membasahi pipinya dan mengalir kebantal, ia menangis dalam diam , tidak mengeluarkan isakan ataupun suara sekecil apapun.
"Ney" niat nya untuk meninggalkan Britney sendiri dikamar ia hilangkan begitu saja ketika melihat gadisnya kembali meneteskan air mata. Mahesa tau seberapa kecewa Britney saat ini tapi yang sampai saat ini Mahesa belum sadari dari mana Britney bisa mengetahui semuanya ? Kenapa secara tiba-tiba seperti ini ? Bahkan tadi sore pun Britney masih terlihat baik-baik saja, bahkan ia sempat memberinya kejutan dengan membuatkan Cookies kesukaan Mahesa .
"Sayang liat aku" kini ia duduk di bibir tempat tidur , tangan kanan nya memegang lengan Britney. "Sayang semua yang kamu tau gak seburuk yang kamu fikir. Aku mohon kamu jangan mikirin itu dulu ya, aku janji setelah kamu pulih aku akan jelasin semuanya. Tapi untuk saat ini aku minta kamu jangan stress mikirin hal yang gak benar, demi kesehatan kamu." Sambung Mahesa dengan lembut.
Britney masih diam membeku , ia masih tidak ingin menatap wajah Mahesa sedikitpun, ia masih tidak ingin berbicara dengan Mahesa, ia masih ingin diam berusaha mendamaikan hati dan perasaannya yang sempat hancur.
"Yaudah, aku tinggal ke bawah ya. Kalo butuh apa-apa panggil aku ataupun bibi." Baru saja Mahesa hendak berdiri lengan nya di tahan oleh tangan kiri Britney. Hal itu membuat Mahesa kembali menatap gadisnya yang kini sudah memandang nya terlebih dahulu, bisa Mahesa liat raut wajah Britney menggambarkan betapa kecewanya dia pada Mahesa saat ini. Hal yang paling di benci Mahesa kini Jadi kenyataan, mengapa ? Mengapa ia tega membuat gadis yang begitu ia cintai menangis sampai jatuh sakit seperti ini ? Mahesa benci melihat kedua bola mata milik Britney yang seakan mengisyaratkan kekecewaan sekaligus rasa sakit yang bertubi-tubi . Mahesa benci pada dirinya untuk saat ini, namun ia lebih benci pada maya, karna maya yang mengakibatkan semua ini terjadi , sudah pasti ini semua ulah maya.
Britney berusaha untuk duduk dan melepas masker oksigen yang sedari tadi menutupi mulut dan hidung nya. Setelah masker oksigen itu benar-benar terlepas ia mencoba untuk mengatur nafasnya dengan baik , ia merasa nafas nya sudah tidak sesak seperti tadi , rasa nyeri di dadanya pun sudah membaik .
KAMU SEDANG MEMBACA
MALAIKAT TANPA SAYAP
RomanceMalaikat tidak selamanya memiliki sayap . Contoh nya kamu.. mungkin bagi ku hanya kamu satu-satu nya malaikat berbalut jas dokter . Terimakasih telah merawat ku dengan penuh kasih sayang, sampai akhir tarikan nafas terakhir ku berhembus di dalam d...
