Platform melingkar, dengan area tengah yang sangat luas, demi pertarungan memperebutkan barang atau makhluk yang dilelang. Kursi penonton disusun mengelilingi area tersebut mirip stadiun atau Cail menganggapnya menirukan Couloseum Eropa, tempat pertandingan banteng dan manusia. Nah, fungsi keduanya sama, yaitu mengadu kekuatan.
Cail duduk di barisan tertinggi dari kursi penonton, jauh dari tempat pertarungan, tetapi juga yang paling nyaman karena dapat mengamati semua barang atau makhluk yang akan dipajang.
Sembari menanti penjaga Couloseum Fregrace, yang merupakan Demigod, muncul, Cail mengatur labirin memori di kepalanya.
Ini sangat penting, demi menekankan bahwa kebodohan awalnya sebagai 'Yoo 'Han membawanya ke jalan tanpa kembali, yaitu mengikuti jejak yang sama dengan Cail asli di novel.
Nampaknya, Dewa sengaja mencegah informasi masa depan 'Cail' darinya dengan mengacak-acak fragmen memori tentang novel tersebut. Cail salah menafsirkan beberapa konten dari novel "Ways of Heroes".
Pertama, dia sebagai Yoo Han yang naif mengira protagonis seusia dengannya sebab bab pertama novel itulah yang saat itu dia ingat. Protagonis Rui dalam bab pertama dideskripsikan sebagai anak kecil dalam masa belajar.
Namun, itu bukan kebenarannya, Cail memutar otaknya untuk bekerja mencari-cari petunjuk yang terlewat. Dia kesulitan sampai kepalanya memanas.
Cail terpaksa mengganti ke alasan kedua kebodohannya. Yaitu bab pertama bukan plot awal novel, itu merupakan tahap pertengahan, urutan alur novel "Ways of Heroes" itu acak, tak dapat diprediksi sebelum bab dirilis, bisa jadi bab kedua adalah alur mundur yang menceritakan masa lalu protagonis, atau bab yang jauh di masa depannya.
Pokoknya, itulah yang membuat novel "Ways of Heroes"unik. Cail dapat membaca dari bab pertengahan dan dia masih dapat memahami alurnya.
Dan plot awal sebenarnya terjadi tepat di depannya, Couloseum Fregrace, ketika Rui pertama kali menampakkan diri ke dunia ini. Cail mengernyit akibat efek terlalu lama membebani otaknya dengan informasi campuran.
Di dunia ini, ada batasan pada seberapa banyak informasi masa depan dari novel yang bisa Cail peroleh. Dewa pasti yang menghalanginya.
Dia menghela napas dalam kepedihan pada nasibnya, namun tak perlu meratapi lama-lama, Cail yang sekarang harus fokus pada plot masa depan yang kemungkinan informasinya dicampur aduk oleh dewa.
'Memang, seorang Prophet yang sempurna selalu mustahil ada. Pasti ada lubang yang disebut acak-acakan dewa yang menjaga keseimbangan.'
Pada saat berbagai macam spekulasi tentang dewa berlalu di benak Cail, penjaga telah tiba dalam bentuk humanoid cahaya bersama dengan Mayhen Renovalt serta manusia lainnya yang bertugas sebagai penghubung.
Mereka berdiri di belakang penjaga, meneliti wajah-wajah serakah dari pengunjung sesuai harapan kecuali Mayhen yang diam-diam gemetaran di sudut. Mayhen mengintip jauh ke barisan tertinggi di mana Cail berada, hanya penduduk Kota Harva yang tahu tentang Cail. Willbert de Castalia melarang siapapun menyebarkan tentang senjatanya yang berharga, jika dilanggar maka Mayhen akan memerintahkan senjata tersebut membunuh si pelanggar tanpa peduli alasan maupun akibat.
Oleh karena itu, di sini hanya Mayhen satu-satunya yang mengetahui monster mengerikan macam apa Cail itu. Dia teringat perintah Willbert untuk mengawasi apa yang sebenarnya ingin dilakukan senjata kecilnya. Mayhen menahan rasa pahit atas kurangnya kekuatan untuk menolak.
Bahkan penjaga Couloseum Fregrace takkan mau repot-repot membantunya.
"AHHH~ INI MALAM YANG MENGGEMBIRAKAN, HEM, TATA BAHASA YANG BURUK KARENA SUDAH LAMA AKU TIDAK BERBICARA. BAIKLAH, LANGSUNG MULAI SAJA. PELELANGAN DIMULAI DARI ARTEFAK." Penjaga berteriak nyaring, hampir mengejutkan jantung pendengarnya, Cail sampai memegangi dadanya saking terkejutnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kebahagiaan Protagonis
FantasyKarya Original, bukan fanfic atau terjemahan! Cover dari Canva *** Protagonis novel "Ways of Heroes" tidak mendapatkan jawaban atas ketidakbahagiaannya sampai akhir, sebagai pembaca berat novel tersebut, Yoo Han benar-benar berharap dia bisa memban...
