Chapter 29 : Pengaturan Origin

532 106 22
                                        

"Tuan muda, ada seseorang yang ingin bertemu dengan Anda." Kepala pelayan Ernest mengetuk pintu ruang kerja Cail dan menyerukan adanya pengunjung pada larut malam.

Cail mematikan komunikasi kemudian menyuruh Ernest mempersilahkan tamu masuk ke ruangan ini.

Beberapa lama berlalu, Ernest membuka pintu dan menyingkir ke samping untuk menunjukkan tamu yang tak terduga.

Mata ruby Cail membulat, lehernya menjadi kaku.

Pangeran yang memilih menjadi seorang pendeta itu tersenyum. "Maaf atas gangguannya, ada sesuatu yang harus kutanyakan, tuan muda Cail."

Ernest membungkuk hormat dalam diam kemudian menutup pintu setelahnya.

Jean Madan Marina, Pangeran Pertama yang melepas tahta dan menjadi pendeta tingkat tinggi di kuil. Cail segera beranjak dari duduknya dan menyapa dengan hormat dengan tangan kanannya di dada kiri, Cail menunduk sejenak.

"Yang Mulia, bagaimana bila kita berjalan-jalan di taman? Atmosfer di sini agak pengap, bukan?" tawar Cail.

Jean adalah putra dari Permaisuri saat ini dan salah satu pangeran dengan kepribadian yang unik, yakni sulit dipahami  dan jenius namun membenci kekuasaan.

Meskipun Cail dan Jean terlihat seperti anak kecil dan orang dewasa, pembicaraan yang akan mereka rundingkan setara dalam hal kecerdasan.

Iris amethyst Jean bercahaya sesaat, dia berkata dengan ramah, "Baiklah, menghirup udara segar pada malam hari yang indah adalah berkah. Tuan muda Cail, tampaknya kau tidak mengharapkan kedatanganku?"

"Itu tidak benar, Yang Mulia. Saya memang terkejut, tetapi saya tetap menyambut Anda." Cail mengangkat kepalanya, hatinya berlari liar saat bertatapan dengan mata Jean yang nyaris mirip dengannya.

Mata berwarna ungu sangat langka, Cail belum bertemu satu orang pun sebelumnya yang memiliki itu selain dia sendiri. Novel "Jalan Pahlawan" tak menceritakan penampilan karakter pangeran lainnya karena mereka hanya bertindak sebagai latar kerajaan.

Jean menekuk kakinya agar pandangan mereka sejajar, dia menyentuh pipi Cail dengan jari tangan kanannya dengan lembut. "Imut, mirip dengan adikku yang bersemangat. Tapi, jiwamu lebih tua dari usia tubuhmu. Dan...." Jean berbisik, "Aku mencium aroma Valkyrie darimu. Apa kau juga salah satu subjek istimewa milik Herden?"

Cail melongo. Mulutnya terbuka lebar, ekspresinya berubah syok.

"Ups, sepertinya bukan. Nah, ayo pergi ke taman." Jean bertingkah seolah dia tak pernah mengatakan hal luar biasa sebelumnya.

Ketika Jean mengacak-acak rambut hitam Cail, ingatan tentang apa yang dikatakan Jean tadi terhapus. Cail berkedip lalu mengerutkan dahinya karena kekuatan asing tiba-tiba terasa mengamuk.

...

Taman di manor Castalia dipenuhi bunga camelia yang rapuh. Patung marmer berbentuk binatang purba yaitu Serigala Iblis ada di pusatnya.

Lampu kristal tertanam di setiap sisi jalan setapak dengan tiang baja dan penutup kaca sehingga cahayanya meluas.

"Aku pernah mendengar tentangmu sebelum kau datang ke Ibukota. Ketika kau mengunjungi adikku, kebetulan aku sedang ada di istananya untuk mengecek kondisinya. Dan setelah kau pergi, adikku bertingkah aneh, apa yang kau lakukan padanya?"

Cail terhipnotis oleh suara kalem yang merdu yang langsung bergema di dalam pikiran. Pupilnya meredup saat dia memetik sekuntum camelia dan memerasnya hancur.

Jean menunggu jawabannya, namun untuk waktu yang lama Cail bergeming setelah membiarkan ekstrak bunga mengotori tangan kanannya. Jean berbisik lirih, "Begitu, ada keberadaan yang menakjubkan sedang memantaumu. Akan kucari jawabannya sendiri. Lupakan bahwa aku pernah menemuimu."

Kebahagiaan Protagonis Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang