Chapter 4 : Dijual? (2)

1.5K 246 29
                                        

Jalan rahasia menuju tempat tujuan pedagang budak berakhir di sebuah bangunan menonjol dan tinggi, dengan kesan kuno nan misterius. Alchemist Tower. Itu adalah tempat di mana para Alchemist berkumpul, pusat dari para Alchemist di Kerajaan Marina.

Menyeret para budak anak-anak menyusuri gang sempit, memasuki lorong bawah tanah sampai kembali ke permukaan tepat di depan pintu belakang Alchemist Tower.

Ada dua Alchemist yang telah menunggu mereka tiba. Dengan jubah putih berhias pola unik para Alchemist yaitu simbol tanaman obat, wajah mereka berdua disembunyikan oleh tudung jubah sehingga hanya nampak mulut dan dagunya.

Pedagang budak, Nelson, menyapa mereka dengan sopan sambil menunjuk ke para budak anak-anak yang berhasil dia bawa. Tak ada pertukaran kata-kata, semuanya dalam bentuk bahasa isyarat untuk mencegah bocornya rahasia bila ada mata-mata di sekitar.

Mungkin ada yang akan berpikir bahwa budak anak-anak itu beruntung dipekerjakan di dalam Alchemist Tower, tetapi informasi tersebut masih simpang-siur. Oleh sebab itu, para pelaku yang mengetahui kebenarannya harus berhati-hati.

Cail, yang kelelahan, tidak memperhatikan komunikasi mereka. Jantungnya serasa diremas, menyakitkan. Dia merasa seolah tubuh ini menolak keberadaannya. Keringatnya bercucuran, dengan napas sesak dan bau, Cail menahan diri untuk tidak pingsan.

Dia tidak ingin tahu apa yang terjadi bila dirinya pingsan di sini. Apakah dia akan dibuang dan dimakan monster? Mungkin saja.

Anak-anak lain sama menderitanya, ada yang kondisinya jauh lebih buruk darinya. Dua orang kembar di depan Cail terlihat seakan jiwa mereka telah melayang. Hanya tersisa cangkang yang masih keras kepala untuk hidup.

'Tempat apa ini?' Yang pasti bukan tempat yang baik baginya dan anak-anak lain.

Dia melihat dua orang berjubah putih itu datang dan menggantikan pedagang budak itu, mereka membawa anak-anak masuk ke Alchemist Tower.

«Alchemist Tower adalah tempat di mana eksperimen terlarang dilakukan. Tak ada belas kasihan dan moral di dalamnya.»

Deg!

Mata violet Cail terbelalak pada informasi yang tiba-tiba muncul di benaknya. Dia menatap bangunan besar, yang memiliki kesan kastil kuno ini, dengan kepanikan.

Namun, dia terlambat menyadarinya, tidak, lebih tepatnya, informasi sebelumnya itu seolah-olah sengaja muncul di waktu yang salah. Wajah Cail semakin pucat ketika dua Alchemist menyeretnya masuk dengan paksa.

Obor-obor merah di sepanjang lorong pintu belakang Alchemist Tower menyala satu demi satu.

Menara eksperimen manusia yang disamarkan sebagai Alchemist Tower. Yoo Han bergidik dan akhirnya merasa bahwa akhir hidupnya sudah dekat, bahkan sebelum dia dapat melihat sekilas protagonis. Tidak, kematian sendiri merupakan kemewahan setelah dia masuk ke sana.

'Apakah Cail sungguh dibawa ke tempat ini?' Dia curiga bahwa dunia ini bukanlah dunia novel "Ways of Heroes" yang dia tahu.

Jika demikian, bagaimana nasibnya? Dia bahkan tidak yakin seperti apa masa depannya nanti. Mengapa dia ada di dunia ini? Apakah dia sungguh tak bisa kembali?

Rasa kesepian yang menusuk membayangi hatinya. Dia mencoba mengingat hal terakhir di dunia sebelumnya, tetapi hasilnya adalah tusukan jarum di otaknya menjadi lebih gencar.

Dia terjebak di dunia ini. Entah keberadaan macam apa yang telah menariknya ke sini. Yang pasti dia harus mengikuti naskah, jika tidak, dia mungkin akan disiksa lebih banyak.

Yoo Han memejamkan matanya sementara tubuhnya diseret oleh rantai panjang bersama anak-anak lain. Yoo Han mengatur ulang memorinya. Dia adalah Yoo Han, seseorang dari Bumi, dia menjadi Cail di dunia ini dengan kenangan yang bercampur. Dia tidak memiliki kekuatan apapun untuk melawan takdirnya, dia sangat lemah.

Di dunia ini, jika benar adalah dunia novel "Ways of Heroes", maka kekuatan itu mutlak dibutuhkan olehnya.

Dia mendengar suara-suara dari sel penjara yang dibuka sehingga dia membuka matanya untuk melihat apa yang terjadi.

Dua Alchemist tersebut mengarahkan mereka menuju sebuah bilik khusus layaknya penjara. Yoo Han meringkuk bersama anak-anak lain yang sepertinya menyadari akan diapakan mereka.

Dia berusaha mencari jalan keluar setidaknya sekecil apapun kemungkinannya. Namun, segala solusi membutuhkan orang dalam menara ini yang sukarela meninggalkan kejahatannya. Yoo Han tahu orang semacam itu pasti ada, tetapi hampir mustahil menemukannya seperti menemukan sehelai jerami di tumpukan jarum.

Berapa lama waktu berlalu? Dia bahkan tak yakin bagaimana waktu berputar di dunia ini.  Yoo Han merenungi kesalahan berpikir yang telah menjadi kebiasaan yang mengakar kuat dalam kepribadiannya. Jika dia ingin hidup, maka dia harus mengubah kepribadiannya.

Dia tidak bisa selalu lemah dan meringkuk ketakutan seperti ini. Dia juga tak boleh mengharapkan bantuan karena itu mustahil dalam sudut pandangnya. Segala hal membutuhkan upaya sendiri untuk melaluinya.

Mata violetnya mulai meredup, cahaya yang berasal dari kenaifan dan kebaikan hatinya perlahan padam sedikit demi sedikit.

Seorang Alchemist, dengan jabatan tag Apprentice di jubahnya, membawa satu per satu anak-anak menuju bilik di sisi lain yang tak terlihat, Yoo Han menebak itu adalah tempat di mana anak-anak akan diperiksa atau dicuci otak agar bersedia mengikuti eksperimen. Gilirannya akan segera tiba.

Pada saat dia ditarik paksa keluar oleh Apprentice Alchemist, kepalanya berdenyut menyakitkan. Terasa seperti akan pecah, dia linglung beberapa saat, merasa seperti ada sesuatu yang diambil darinya. Yoo Han menatap jijik pada wajah tertutup kerudung putih alkemis itu, warna putih murni tidak cocok untuk kejahatan mereka.

"Ho~."

Alchemist tersebut tampak tertarik pada reaksi Yoo Han yang berbeda dari anak-anak lain yang pasrah. Apprentice Alchemist, yang merupakan orang baru dalam penelitian menara ini, menganggap anak berambut coklat muda di depannya akan menjadi kelinci percobaan terbaik. Dia, Haruzel, ingin memastikan hal itu karena dia sangat menyukai penyiksaan yang unik.

Yoo Han bergidik saat memperhatikan Alchemist itu menjilat bibirnya yang samar-samar terekspos ketika orang itu mengangkat kepalanya.

Yoo Han didorong masuk ke ruang berikutnya, ruangan khusus yang dibuat oleh Tower Master dengan sihir spasial sehingga takkan ada yang tahu keberadaan ruangan itu, selain mereka yang ikut dalam penelitian atas izin Tower Master. Tentunya, Tower Master pasti seorang Alchemist gila karena mengeksploitasi anak-anak malang.

Yoo Han tak akan pernah melupakan pemandangan yang dia lihat di depannya sekarang.

Dia benar-benar ingin menanggalkan kepribadiannya sebagai 'Yoo Han'.

♠♠♠

"Ini sudah dimulai," gumam seseorang yang mengenakan jubah pendeta biru.

Suara lonceng bergema di koridor kaca setiap kali kakinya melangkah. Dia menatap cahaya-cahaya kebiruan yang berpendar di sekitarnya dengan santai. Dengan instruksi tertentu, semua cahaya itu perlahan menyatu menjadi kristal biru cemerlang.

Setelah melalui River of Time dari semua dunia ilusi, dia akhirnya kembali ke sini. Sekali lagi, memulainya dari awal. Dia akan mendapatkan apa yang telah lama dia cari sepanjang hidupnya yang abadi.

***

Kebahagiaan Protagonis Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang