"Yang Mulia, masalah ini tidak bisa dilanjutkan penyelidikannya," ucap ajudan Putra Mahkota Zelda.
Kebakaran yang menghanguskan salah satu markas penting dunia bawah merupakan masalah sensitif. Apalagi setelah Zelda meneliti bahwa salah satu Duke Exalted mengalami kerugian besar dari peristiwa tersebut.
"Baiklah, pastikan saja tak ada keluhan dari Duke Exalted, kita harus memberi remunerasi."
Ajudan mengangguk kemudian keluar dari ruang kerja. Zelda, yang sedang memikirkan hal lain, mengetuk-ngetuk meja dengan ujung jarinya.
"Peristiwa semalam tak ada di timeline sebelumnya. Siapa saja yang ikut regresi dan mengapa? Pada awalnya, bagaimana aku bisa kembali ke masa lalu adalah masalah terpenting." Pikiran kekanak-kanakan Zelda mulai surut akibat badai dahsyat dari kepakan sayap kupu-kupu tadi malam.
Dia mengambil jurnal dan menulis nama seseorang yang paling mencurigakan.
[Cail de Castalia?]
"Selain itu, Guru menjadi pendiam … Jika ingatanku benar, ada entitas tertentu yang mengekang kami."
Zelda juga sadar bahwa perilakunya, yang impulsif dan tidak memanfaatkan pengetahuan masa depan, diarahkan oleh sesuatu. Seolah-olah, apapun niatnya, pengaruh mental akan diterapkan.
'Benang-benang tipis dari pengatur mulai terlihat. Sayangnya, kesadaran ini hanya berlangsung sementara.' Zelda mencatat rencananya di samping nama Cail.
Dia tidak bisa mendetail karena firasatnya memperingatkan bahwa akan ada metode penghapusan yang dikerahkan. Misalnya, dia tiba-tiba terpikir untuk membakar jurnal itu dengan alasan yang masuk akal.
'Menakutkan. Faktor pengendali tertinggi.... Hanya Rui yang bisa menolak pengaruh mental ini.'
Tangannya bergerak sendiri setelah itu, kata-kata baru tertulis di bagian bawah nama Cail.
[Persiapan ke Akademi Skylord.]
***
Cail tertidur lelap akibat akumulasi kelelahan selama beberapa hari terakhir meledak. Juga, dia kesulitan beradaptasi dengan perubahan sikap Rui yang menggelisahkan hatinya.
Dia tidak peduli apa yang dilakukan Rui terhadap semua pelayan di manor, lagipula boneka tetaplah boneka, dalam artian harfiah sekalipun. Meskipun Rui mencuri pikiran mereka dan menanamkan pemahaman yang masuk akal, Cail percaya itu tidak cukup. Kecurigaan pasti masih tersisa.
Setelah menyegarkan diri sepanjang hari dan tertidur sampai sore, Cail memikirkan kembali perjanjian menakutkan yang dibuat Rui.
Untungnya, Rui sepertinya sedang pergi ke suatu tempat sore ini, jadi Cail memanggil valetnya, Wander, dan meluruskan benang kusut yang merupakan hasil dari intervensi Rui.
Dia cukup tenang, tidak, dia terlalu tenang setelah keterkejutan besar. Dia tahu selama bersama Rui, hatinya akan selalu cemas seakan-akan situasi saat ini tidak benar.
Di tempat tidurnya, Cail memandang balkon yang tertutup pintu kaca dengan tirai di kedua sisi tersibak, sementara cahaya senja menyelusup masuk.
Rambutnya acak-acakan dan iris ruby-nya agak gelap dan kosong. Bibirnya membentuk garis lurus seolah emosinya tertahan. Benar, entah Cail sadar atau tidak, [Emotionless] aktif.
Tok! Tok! Tok!
"Tuan muda, ini Wander. Ada surat yang datang dari Putra Mahkota siang tadi," ucap valetnya.
Cail mengalihkan pandangannya ke pintu di seberang balkon seraya berseru, "Masuklah!" Dengan suara serak seolah darah mengental di tenggorokan.
Pria paruh baya dengan rambut coklat yang setengah memutih itu membuka pintu dan memasuki ruangan dengan sopan. Penampilannya khas seorang valet bagi kepala keluarga. Mungkin maksud Willbert dengan menyuruh Wander menjadi pelayan pribadi Cail adalah untuk mengasuhnya bukan membantunya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kebahagiaan Protagonis
FantasíaKarya Original, bukan fanfic atau terjemahan! Cover dari Canva *** Protagonis novel "Ways of Heroes" tidak mendapatkan jawaban atas ketidakbahagiaannya sampai akhir, sebagai pembaca berat novel tersebut, Yoo Han benar-benar berharap dia bisa memban...
