Tentunya sebagai protagonis yang memiliki Observer Eye, Rui dapat memahami semua bahasa di bawah pengaruh kausalitas kosmos, sementara yang berkaitan dengan dimensi rahasia, itu masalah lain.
Setelah mengajak Cail berkeliling dan menjual inti monster yang mereka kumpulkan bersama, akhirnya mereka dapat beristirahat di sebuah kamar dengan tempat tidur ganda di penginapan yang dekat dengan Kantor Administrator.
"Masih lama jika kau ingin melihat festival itu kukira, meski perasaanku terhadap waktu mungkin tidak terlalu akurat," komentar Rui yang berbaring di tempat tidurnya.
Cail merilis penyamarannya yang dangkal, dia merasa lelah baik secara fisik maupun mental, namun dia tidak menunjukkan hal tersebut di wajahnya. Ekspresinya merupakan topeng terbaik.
Dia duduk di tepi tempat tidurnya dan mengamati Rui. Pakaiannya telah diganti dengan yang baru, mengikuti gaya pakaian konservatif Desa Palle. Cail merasa seperti akan menghadiri pemakaman.
"Aku tidak berniat melihatnya," bohong Cail. "Dan aku tidak bisa menjadi pemandumu, tapi aku bisa memberimu peta beberapa tempat yang kukenal."
Cail berharap Rui mau menjelajahi dunia ini sendiri dan bertemu anggota partainya. Pada saat itu, Rui pasti akan melupakannya atau setidaknya menganggapnya tidak sepenting teman-teman partainya.
"Sangat menarik." Rui menyeringai. "Sayangnya, aku lebih suka pemandu sehingga aku tidak merasa bosan."
Cail tak bisa berkata-kata. Pada saat itu, tubuhnya gemetar akibat bentrokan kekuatan asing yang datang tiba-tiba, pupil matanya berkontraksi dan napasnya terputus-putus.
Kristal biru sedikit melemahkan pengaruhnya, tetapi tidak menghentikannya. Cail mencoba sebaik mungkin untuk menahannya, dia mengira bahwa sebotol darah di pagi hari tidak cukup. Monster di dalam tubuhnya terlalu rakus.
Cail memejamkan matanya, mengatur pernapasan agar Rui tidak curiga, walau sepertinya sia-sia. Rui selalu mengawasinya. Dia beranjak dari tempat tidurnya dan mendekati Cail dengan ekspresi serius.
"Kau... Minumlah darahku," tawarnya sembari menyodorkan pergelangan tangan kanannya. Rui mempunyai pemahaman tertentu tentang makhluk seperti apa chimera itu.
Cail membuka matanya saat mendengar itu, dia menggeleng dengan susah payah, lalu memeras kata-kata dari mulutnya, "T-tidak... Ini... Akan... Berhenti... Segera."
'Sial! Dia sudah curiga.' Cail langsung menyadari penyebabnya bukan hanya karena ketidakseimbangan kekuatan asing di tubuhnya, melainkan itu karena Gurunya, Willbert de Castalia yang memasang simbol pengikat khusus padanya.
Ketika Gurunya mempertanyakan tindakannya, situasi tersebut pasti terjadi. Hanya masalah waktu sebelum Willbert menariknya ke sisinya dan dikurung.
Cail berdiri terhuyung-huyung sambil menepis bantuan Rui, dia berkata dari sela-sela giginya, "Tidak... perlu... membantuku."
Perutnya seakan meledak dari dalam, Cail gemetaran sampai semua rasa sakit itu tiba-tiba lenyap, mata keemasan Rui bersinar dan darah merah tua mengalir dari mulutnya. Cail melebarkan matanya ke arah Rui, ternganga.
Rui terkekeh lalu mengusap darah yang mengalir dan Observer Eye-nya redup seolah dilapisi lembaran es tipis. "Kasar sekali, tidak perlu berterimakasih, ini adalah hal yang sepele untuk kutangani." Dia mengedipkan mata kirinya dengan seringai nakal.
"Kenapa?" Cail secara refleks bertanya.
Mata kiri Rui tertutup selama beberapa detik sebelum dia menjawab, "Kau ingin tahu? Coba tebak!" Nadanya membuat Cail ingin memukulnya.
Cail terdiam, dan Rui mendecakkan lidahnya, "Tidak seru." Saat berikutnya, Rui berbaring lagi di ranjangnya seperti semula.
'Dia mencuri rasa sakit itu.' Cail jelas mengetahui apa yang telah dilakukan Rui. Sama seperti bagaimana Rui bisa tiba begitu cepat di Desa Palle jika dia pasti bukan Wraith, itu karena Rui dapat mencuri jarak. Dan mencuri rasa sakit terlalu mudah untuknya. Dia bahkan bisa mencuri waktu untuk sementara.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kebahagiaan Protagonis
FantasyKarya Original, bukan fanfic atau terjemahan! Cover dari Canva *** Protagonis novel "Ways of Heroes" tidak mendapatkan jawaban atas ketidakbahagiaannya sampai akhir, sebagai pembaca berat novel tersebut, Yoo Han benar-benar berharap dia bisa memban...
