Chapter 23 : Penemuan (Akhir Volume 1 Failure)

714 139 8
                                        

Kristal api terasa hangat sama seperti perlakuan Rui yang tidak ragu-ragu. Cail senang karena protagonis lebih pengertian daripada yang dia pikirkan. Kembali ke penjara besi makhluk iblis, Cail memeriksa makhluk iblis dengan seksama. Tanduk di tengah telah dia hancurkan dan kekuatan Fallen Angel menurun drastis.

Sampai pada taraf tidak bisa memecahkan penjara besi Willbert, tampaknya misteri hilangnya Dewa Iblis adalah teka-teki terbesar. Dan Cail ingin tahu apakah Gurunya termasuk jajaran organisasi tertentu pencari relik Dewa Iblis.

Camilla dan Gurunya berbagi hubungan yang baik di permukaan, tetapi dia tidak tahu apa yang ada di belakang mereka. Mungkin itu kerjasama sementara, jika salah satu lebih serakah ketimbang yang lain, maka pasti akan ada pertarungan yang mengasyikan.

Cail percaya dia gila, namun dia tidak tahu bagian mana itu. Menurut apa yang telah dia pelajari di kehidupan sebelumnya, satu pemicu terkecil sekalipun akan mengungkap topeng asli. Akan tetapi, hal tersebut tetaplah 'topeng', bukan dirinya sendiri.

Topeng asli yang biasa digunakan di kehidupan sehari-hari, Cail mengusap pelipisnya dan mendesah pelan.

Dan dirinya sendiri yang dimaksud ialah penggabungan dua ingatan antara Yoo Han dan Cail. Itu menyebabkan kepribadian asli terkubur dan mengangkat kepribadian baru.

"Aku akan membalas dendam lain kali," lirihnya sambil menatap makhluk iblis yang entah sudah berapa lama mengamatinya dengan pupil obsidian menakutkan.

Cail tidak terlalu memikirkannya lagi, dia menelusuri jalan yang diambil dua setengah dewa, memasuki kastil utama yang pintunya telah terbuka, dan menyerahkan diri ke mulut kastil hitam.

Firasat bahayanya masih ada, kedatangan Rui dan makhluk iblis bukan fokus utama, kastil hitamlah yang seharusnya diwaspadai. Cail menginjakkan kakinya ke bagian lorong yang berbekas jejak kaki, cahaya kristal obsidian di setiap sisi menerangi.

Willbert dan Camilla sengaja meninggalkan jejak, sepertinya kastil hitam ini lebih mirip labirin. Cail menghentikan langkahnya untuk melihat lebih dekat ke kristal obsidian yang berkilau dengan cahaya memancar.

"Ini mengandung energi kegelapan dalam jumlah besar. Mengapa Guru tidak mengambilnya?" Suara Cail bergaung, seolah-olah ada balasan yang langsung berbisik ke telinganya dalam bahasa yang tidak dikenal.

"Sesuatu tampaknya tidak benar." Cail masih memegang kristal api di tangan kanannya, setidaknya dia entah mengapa merasa terlindungi.

Cail meneruskan penjelajahannya menuju tangga berkarpet hitam di ujung, sama seperti di koridor, aula terbuka dengan tangga yang mengarah ke atas dan melingkar dikelilingi kristal obsidian. Kamar-kamar di kastil saling terhubung dan ada pintu dengan dua sisi di tengah tepat pada arah tangga jika dilihat dari bawah.

'Mereka menghilang?' Sepertinya hanya itu satu-satunya penjelasan karena tak ada suara, keheningan menyesakkan ini menggoyahkan ketenangannya. 'Sebenarnya, milik siapa kastil ini?'

Kakinya mendaki tangga perlahan dan suaranya teredam karpet, ekspresinya berubah antara acuh dan gelisah.

Dia lagi-lagi berhenti mendadak di tengah jalan sembari menutup matanya. Dia memutuskan untuk melemparkan ingatan yang menyeruak sebelumnya ke alam bawah sadar, lautan dari kesadaran jiwa adalah tempat terbaik dalam menyembunyikan rasa sakit hati.

Setelah merasa lebih baik dan tidak terganggu, Cail dengan cepat mendekati pintu dua sisi yang memiliki simbol aneh. Berbeda dari lingkungannya, itu berwarna biru tua dengan campuran merah gelap di bawahnya seakan warna dari darah yang mengering.

Pintu tersebut juga memancarkan cahaya sehingga sekitarnya menjadi jelas. Ada jalan dua arah layaknya persimpangan, namun Cail hanya bisa fokus ke depan.

Kebahagiaan Protagonis Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang