Chapter 30 : Pembantaian (2 In 1)

599 101 17
                                        

Basis Suku Rubah Putih dekat dengan daerah terlarang, sebelah barat Couloseum Fregrace. Mereka membangun pemukiman tersembunyi jauh di lembah bukit yang tertutup salju.

Pada saat ini, sedang diadakan perjamuan ulang tahun Kepala Suku dengan dipilihnya prajurit sebagai tangan kanannya yang baru.

Evans, yang cukup muda di antara para partisipan, mengikuti kompetisi terhormat tersebut. Dia ahli dalam Spearmanship setelah dilatih oleh Ayahnya yang adalah wakil Kepala Suku.

Setelah kenekatannya ikut serta dalam pelelangan di Couloseum Fregrace, Evans semakin sadar diri bahwa dia harus lebih kuat dari sekarang sebab di dunia luar banyak sekali orang-orang berbahaya yang bisa mengancam sukunya.

Kepala Suku Perdo memulai pesta dengan memperkenalkan beberapa tamu yang baru diketahui telah datang tiga hari yang lalu.

Evans menggigit jempolnya karena merasa gelisah saat melihat orang-orang luar tersebut.

'Kenapa Kepala Suku mengizinkan mereka masuk ke sini?' Citra orang luar di mata Evans cukup buruk, apalagi itu mengingatkannya pada pertarungan perebutan budak budidaya di Couloseum Fregrace.

Dia menggigil tanpa sadar. Namun, dia menahan diri sampai pihak luar menyatakan maksud mereka ke sini. Kepala Sukunya takkan ceroboh membiarkan mereka begitu saja.

Dia diam-diam melirik Ayahnya yang berada di peron, duduk di kursi di samping Kepala Suku, berharap mendapatkan jawaban.

Lima orang luar berjubah putih suci dan mengenakan masker wajah sangat mencurigakan. Mereka menuju platform batu putih dan memberi penghormatan pada Kepala Suku dengan cara yang dipakai penduduk setempat. Tampaknya mereka sudah menyelidiki adat Suku Rubah Putih.

'Apa yang mereka inginkan? Dan apa yang membuat Kepala Suku menerima mereka?!' Kecemasan Evans memuncak.

Dia mempercayai Ayahnya dan Kepala Suku, namun firasatnya lebih peka daripada mereka karena dia telah menyaksikan seperti apa monster di dunia luar.

Kepala Suku dan Ayahnya mungkin tahu kalau mereka sangat kuat, tetapi Evans bisa mengidentifikasi seberapa menakutkannya mereka dengan membandingkan orang-orang di Couloseum Fregrace. Bahkan kemungkinan Artefak sukunya tak dapat melawan lima orang itu.

Lima orang tersebut mengklaim sebagai utusan dari seorang demigod untuk menjalin kerjasama dengan Suku Rubah Putih. Detailnya tentu saja hanya diketahui Kepala dan Wakil Kepala Suku.

Malam ini, diterangi oleh obor api, kompetisi kualifikasi dimulai. Peserta harus mengambil salah satu relik Leluhur Rubah Putih yang disembunyikan di suatu tempat yang bisa dicapai dalam semalam.

Evans yang ikut serta ragu-ragu meninggalkan Ayahnya dan keluarganya, firasatnya sangat buruk, dia ingin mengundurkan diri, namun dihadapkan tatapan tegas Ayahnya, dia menelan kepahitan dan terpaksa pergi.

...

Riak memancar dari pintu masuk Couloseum Fregrace. Itu terbuka. Dan eksistensi tertentu keluar dengan santai. Dia mengenakan kacamata berbingkai hitam sesuai warna rambutnya yang pendek dan penampilannya tampak ilmiah dengan tuksedo hitam.

"Hah... Sudah lama. Pelelangan yang kacau menghilangkan kesempatanku keluar lebih awal, hnm...."

Parasnya seperti pemuda yang baru mencapai usia kedewasaan, tetapi manik mata biru gelapnya menembakkan ketakutan ekstra bagi makhluk manapun yang menatap setelah mereka menggigil akibat pesonanya dari jarak jauh.

Mata birunya berkilauan layaknya bintang di angkasa, dan itu memiliki kemiripan dengan protagonis kita, Eternal Rui.

Dia berjalan-jalan dengan gembira tak lupa bernyanyi pelan, sepatu boot kulit coklat menginjak gurun salju dan menetapkan jejak debu misterius yang melelehkan di sepanjang lintasan.

Kebahagiaan Protagonis Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang