Chapter 55 : Trauma

240 51 9
                                        

'Betulkah ini Artefak No. 4?' Keheranan yang jelas di wajahnya ketika dia mendapatkan benda itu semudah membeli barang. Masalahnya, Rael memberikannya secara gratis.

Dengan ragu-ragu, Sein melirik sepupunya yang dewasa di depannya dalam kereta kuda ini. Rael sedang memandang keluar jendela dengan tatapan melamun, kabut samar terlihat di mata elangnya. Bekas luka yang merambat di wajahnya tampaknya memudar.

Rael menoleh dan tersenyum lembut, tidak sesuai kepribadian aslinya dari ingatan Sein yang dibagikan bayangan itu. "Apa kau ingin ke tempat lainnya sebelum pulang? Ini masih terlalu pagi untuk kembali," tawarnya dengan suara yang menghangatkan hati.

Sein mengusap Crysoberyl yang indah di telapak tangan kirinya, lalu bertanya setelah lama diliputi keraguan, "Kakak, ini tampaknya tidak benar jika aku mengambilnya."

Rael mengangkat alisnya, mendengarkan kelanjutannya dan tidak menyela.

"Ini adalah benda berharga dari Reruntuhan Trevor. Bagaimana aku bisa mengambilnya begitu mudah? Tidakkah aku harus membayar sesuatu?" Sein berkontak mata dengan pihak lain dengan matanya yang jernih dan polos.

Saat Rael melihat sepasang mata itu, sensasi aneh meremas hatinya. Seperti kunang-kunang yang hampir tertangkap, tetapi akhirnya lolos dari tangannya, perasaan aneh ini mengakibatkan rasa sesak di dada.

Rael mendorong perasaan itu sehingga dia terlihat tidak terpengaruh sebelum menjawab dengan nada bercanda, "Hanya Ayah dan aku yang tahu benda itu ada di sana. Jadi, kau harus membayar padaku."

Sein tergagap, "A-apa yang kakak inginkan?"

'Ini... Informasi yang berbeda dari novel dan catatan... Apakah semua yang tertulis telah sepenuhnya berubah tanpa diketahui?!' Sein panik dan pikirannya menjadi berantakan.

Artefak No. 4 seharusnya belum pernah ditemukan siapapun. Menghadapi tantangan masa depan yang tak bisa diperkirakan, Sein tiba-tiba menjadi tenang.

'Bukankah itu bagus? Tapi, di mana Rui?' Hatinya tenggelam atas pertanyaan terakhir.

Jika semuanya memang tidak sama lagi, maka dia tak bisa menemukan Rui di tempat yang sama.

Namun, apa tujuan Rui dengan memberikan file novel dan catatan itu?

Rael bergumam rendah dengan perasaan aneh, "Apa yang aku inginkan?" Deja vu melapisi pikirannya.

Seolah-olah pertanyaan itu merupakan lelucon, Rael merasa ingin tertawa tanpa arti yang jelas.

"Kau akan mengetahuinya nanti. Kenakan jubahmu dengan baik," tuturnya setelah membubarkan deja vu.

Sein mengangguk patuh, menyembunyikan kegelisahannya.

***

Kota Aeris bagian timur laut, dekat dengan dermaga dan pangkalan angkatan laut, terdapat tempat yang menarik.

Pasar bawah tanah yang menjual berbagai macam bahan dan benda magis. Di samping itu, di sana juga ada area permainan lokal yang sering dikunjungi bangsawan dan para pedagang.

Rael melihat ada banyak orang yang berlalu-lalang, keningnya berkerut, dia merasa khawatir bahwa tempat ini akan membuatnya terpisah dari sepupu kecilnya.

Akan tetapi, Rael tidak bisa menggendongnya karena dia berencana membawa barang tertentu dari penyalur. Dengan rasa bersalah, Rael bertanya, "Apakah kau ingin menunggu sebentar di ruang tunggu atas?"

Sebenarnya, Rael tak mau membiarkan Sein lepas dari pengawasannya. Namun, dia perlu menjalankan tugasnya di sini. Setelah itu, dia akan bisa mengajak Sein ke area permainan dan ke pasar lokal nan menakjubkan yang akan buka pada waktu senja.

Kebahagiaan Protagonis Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang