Itu adalah ruang kelas yang akrab. Dia dikelilingi begitu banyak siswa. Mereka mencerca dan memaki, tetapi dia tak bisa memahami ucapan mereka.
Ide terlintas di kepalanya, dia mulai melawan mereka. Berbekal tangan kosong, dia meninju, memukul, dan melancarkan segala serangan.
Anak buangan satu sekolah akibat reputasi keluarga tercinta, tidak, reputasi pribadinya. Dia dianggap sebagai pertanda buruk, nasib buruk, atau penyebab kemalangan.
Dia tidak pernah bertemu orang tuanya semenjak ditinggalkan ketika masa kecil, wajah mereka pun tak bisa dia ingat. Satu-satunya yang masih bersedia mengulurkan tangan ialah Pamannya. Pamannya sekaligus mentor dalam kehidupannya yang sungguh aneh.
Dia beberapa kali percaya bahwa dia menderita delusi, kepribadian ganda, skizofrenia, atau bahkan penyakit kejiwaan kronis karena pengaruh Pamannya.
Keceriaan palsu, mengakui kehidupan biasa-biasa saja sebagai keaslian dirinya, dan mencoba percaya sekali lagi pada orang lain.
Ada suatu waktu, dia bertemu seseorang yang misterius. Orang tersebut memperkenalkan sebuah karya secara sepintas. Namun, dia terus mengingatnya sampai berani membacanya.
Ilusi saling bersahutan, dia bingung setelah melihat kerumunan di kelas semakin bertambah. Dia takut. Itu sangat menakutkan. Mata mereka, emosi mereka, dan tindakan mereka.
Pada saat itu, dia mengingat orang misterius yang mengunjunginya. Kata-kata yang tak bisa dimengerti itu sekarang jelas.
-"Penggantian ini memang bentuk ketidakadilan untukmu. Akan tetapi, kaulah yang memilihnya."
♦♦♦
Mata Cail terbelalak disertai napasnya yang tak teratur. Dia terdiam selama beberapa saat sebelum memeriksa sekitarnya.
Dia berada di tempat tidur dengan baju tidur. Tak ada darah, luka maupun bekasnya. Bahkan, ruangannya tetap bersih dan tak tercium sedikitpun aroma darah.
'Tidak!' Dia tak menemukan Rui. 'Delusi?' Kesedihan mencengkeram hatinya yang telah dirajam oleh mimpi. Dia berharap Rui benar-benar ada di sampingnya dan peristiwa semalam bukan khayalannya. Cail kesulitan membedakan dikarenakan mimpi itu.
Dia turun dari tempat tidur dengan panik, tubuhnya lemas tanpa tenaga dan menabrak meja di samping tempat tidur, lalu membentur lantai marmer.
'Efek lemah?' Suasana hatinya terangkat. 'Itu bukan khayalan!' Itu berarti Rui memang sempat ada di dekatnya, meskipun sekarang dia sudah pergi.
Efek lemah terjadi hanya setelah dia mengkonsumsi darah makhluk lain dalam jumlah besar, itu adalah penaltinya. Cail ingat bahwa nalurinya mengendalikan kewarasan akalnya semalam.
Dia akan mengalami efek lemah selama dua hari. Dulu, setelah pembantaian desa Elf, Cail harus merangkak ke gua yang hampir runtuh dan tertidur di sana. Situasi masih genting karena beberapa target yang lolos mencarinya.
Efek lemah baru terjadi dua kali dalam hidupnya sebagai 'Cail'.
Tubuhnya lumpuh sebagian. Kakinya tidak bisa dirasakan. Gerakan sedikit saja amat memberatkan.
Dia menyeret tubuhnya yang tak berdaya untuk berbalik dan naik ke tempat tidur lagi. Sayangnya, dia gagal dan akhirnya menyerah. Tengkurap di lantai marmer yang dingin.
Klaak!
Pintu ruangannya terbuka dengan ringan seolah siapapun yang masuk takut membangunkannya.
'Apa itu Wander? Atau Ernest?' Pelayan pribadi biasanya yang bertugas membangunkan, sementara kepala pelayan Ernest mungkin masuk jika ada persoalan penting.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kebahagiaan Protagonis
FantasíaKarya Original, bukan fanfic atau terjemahan! Cover dari Canva *** Protagonis novel "Ways of Heroes" tidak mendapatkan jawaban atas ketidakbahagiaannya sampai akhir, sebagai pembaca berat novel tersebut, Yoo Han benar-benar berharap dia bisa memban...
