Warna putih keseluruhan melingkupi bidang pandangannya, tak ada warna lain di sekitarnya, tak ada siapapun selain dia di ruangan kosong yang menyesakkan ini.
Rasa kesepian yang menusuk kedalaman hatinya tidak bisa dihilangkan. Dia tidak dapat mengingat siapa dirinya dan mengapa dia berada di tempat seperti ini. Satu hal yang dia tahu adalah dia takkan keluar untuk waktu yang sangat lama.
Mungkin dia menjadi buta terhadap waktu, persepsinya tidak lagi akurat dan ekspresinya selalu bosan dan penuh kejenuhan.
Ruang putih tersebut amat luas jika dia berniat menjelajah, tetapi dia enggan melakukan itu karena dia mengetahui secara naluriah bahwa penjelajahannya di ruang putih akan menyebabkan bencana.
Mata sapphire-nya begitu indah, tetapi redup dan tanpa binar harapan. Seolah-olah pemiliknya tidak memiliki keinginan lagi.
Suatu ketika, dia tiba-tiba merasa sangat mengantuk. Perasaan yang pertama kali dia rasakan di tempat ini setelah sekian lama, dia tidak pernah tidur sejak saat itu. Meskipun dia memejamkan matanya, dia akan tetap tersadar.
Dia mengikuti nalurinya dan membiarkan kesadarannya tenggelam ke suatu tempat yang amat berbeda dari ruang putih tersebut.
Ocehan-ocehan aneh bergema di benaknya sebelum dia sepenuhnya tertidur. Tusukan ingatan tertentu menyentaknya ketika dia membuka matanya lagi penuh keheranan.
"Kakak!"
Dia jauh lebih terkejut saat sosok kecil tiba-tiba menjatuhkan diri padanya dan memeluknya. Kepalanya sangat sakit dan pusing berkepanjangan membuatnya tak dapat memahami apa yang telah terjadi.
Dia menggerakkan badannya yang lemas sedikit, kemudian berniat mendorong sosok kecil itu menjauh. Akan tetapi, tangannya tak mau mendengarkan pikirannya, malah berbalik melawannya.
Tangannya menuruti keinginan hatinya yang tak bisa dia pahami dan membalas pelukan sosok kecil yang menempel di dadanya.
Rasa hangat tumbuh di hatinya, ekspresinya yang hampir bosan permanen perlahan melunak dan menjadi lembut dan penyayang.
Dia tidak tahu mengapa, tetapi dia merasa sangat senang. Dia memang tidak mengingatnya karena bagian tertentu terhalang oleh pikirannya yang masih terfokus pada ruang putih.
"Kakak, apakah kau mengingatku?" tanya sosok kecil itu mendadak menyebabkan riak keterkejutan padanya.
Dia tidak menanggapi untuk waktu yang lama, hanya terus memeluk sosok kecil itu semakin erat. Kamar kecil yang tampak kumuh dan berbentuk aneh di sekitarnya seperti tempat menakjubkan baginya yang telah tinggal di ruang putih untuk siapa yang tahu berapa lama.
"Tidak apa-apa jika kakak melupakanku lagi, suatu hari nanti aku akan membuat kakak terus mengingatku selamanya," putus sosok kecil itu menimbulkan gelak tawanya.
Di dekat anak laki-laki yang imut yang di dadanya, entah mengapa emosinya yang terkunci dan pudar di dalam ruang putih tersebut kembali muncul dan semakin menguat.
Intuisinya mengatakan bahwa dia sangat membutuhkan sosok kecil itu, dia tidak ingin kehilangannya.
"Kakak, namaku Yoo Han, kau harus mengingatnya kali ini, lalu namamu Rui, aku sangat suka namamu," celoteh anak laki-laki itu.
Rui melepaskan pelukannya untuk melihat lebih dekat pada Yoo Han, menatapnya lekat-lekat agar dia tidak lupa lagi.
"Yoo Han, Yoo Han, apakah kau benar-benar adik kecilku?" Rui mencubit pipi anak laki-laki itu dengan gemas seraya mengutarakan tebakannya.
Yoo Han cemberut, itu membuatnya tampak lebih imut dengan dua warna mata yang saling berbeda. Merah di kanan dan violet di kiri.
"Apakah kakak meragukanku?" Yoo Han segera menepis tangan Rui dan pergi dari jangkauan Rui.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kebahagiaan Protagonis
FantasiKarya Original, bukan fanfic atau terjemahan! Cover dari Canva *** Protagonis novel "Ways of Heroes" tidak mendapatkan jawaban atas ketidakbahagiaannya sampai akhir, sebagai pembaca berat novel tersebut, Yoo Han benar-benar berharap dia bisa memban...
