Ruang putih itu semakin menyempit dan sebuah celah kecil terbuka di sisinya. Yoo Han, tidak, identitasnya sekarang adalah Sein, mengikuti intuisinya untuk masuk ke celah tersebut.
Tangga menjulur ke bawah dari celah tanpa ujung yang terlihat, energi kekacauan keluar dari celah tersebut dan sedikit demi sedikit merasuki tubuh Sein tanpa dia sendiri sadari.
Kakinya menuruni anak tangga satu demi satu dan meninggalkan ruang putih yang semakin menjauh dari celah. Sein tidak berbalik dan tidak mengetahui bahwa celah itu telah lenyap di tengah kegelapan.
Sein terus bergerak dengan ekspresi kosong, mengitari tangga yang berkelok-kelok seperti ular. Tak ada suara, semua keheningan mencekik setiap inchi jiwanya.
Sein ingin mengetahui sebuah kebenaran, asal dari semuanya, apakah keinginannya melampaui batas sehingga dia terus-menerus gagal? Dia justru semakin jauh dari kebenaran dan jatuh lebih dalam ke ilusi kekacauan.
Sepasang matanya dapat melihat dalam kegelapan tanpa cahaya sedikitpun, tetapi masih tidak bisa menangkap ujung penghentian dari alur tangga yang melingkar. Seakan ular memeluk menara, perasaan terikat, yang amat kuat, membanjiri jiwanya.
Lapisan demi lapisan rantai segel, yang bersinar keemasan, mulai nampak di tubuhnya, menganggu pergerakannya yang semakin melambat.
Rantai emas ilusif merayapi tubuhnya, ikatan erat menempel di lehernya sebagai simpul, menuju tato segel yang secara bertahap muncul kembali. Tato segelnya sebagai Cail de Castalia.
Pembatasan tersebut menyiratkan agar Sein berhenti dalam pencariannya. Juga, berarti apa yang dia inginkan ada di depannya, terpaut dengan kegelapan yang sebenarnya adalah ilusi.
Akankah dia menyerah? Tidak mungkin. Dia telah sejauh ini melalui berbagai hal membingungkan dan memutar. Benarkah yang ada di balik kegelapan adalah cahaya yang sebenarnya?
Sein mengerahkan segenap kekuatannya untuk melepaskan rantai. Kekuatan Chimera-nya yang tersegel mulai bangkit, tidak masalah jika dia harus merasakan rasa sakit menyiksa sepanjang hidupnya sebagai Cail de Castalia, dia akan menawarkan apapun demi kebenaran itu. Bahkan mungkin jiwanya sendiri.
Sein membayangkan bagaimana Rui mungkin akan menjadi gila bila dia melakukan itu. Dia tertawa pahit saat beberapa utas rantai terpotong oleh energi kekacauan yang berasal dari dalam jiwanya.
"Ternyata begitu ...."
Sein tiba-tiba mendapatkan pencerahan tentang sesuatu saat pengetahuan tertentu disuntikkan padanya dari rantai-rantai yang mengikatnya. Jiwanya adalah wadah bagi sesuatu. 'Bayangan' itu merupakan sisi dirinya yang membawa kegelapan. Ketika dia dan 'bayangan' menyatu, jiwanya akan sempurna untuk menjadi wadah yang ditentukan.
Rantai-rantai itu hancur dan terhempas sebelum lenyap ke ketiadaan. Guncangan kuat menerpa sehingga Sein menjadi tidak seimbang dan terjatuh ke bawah, terseret dalam tarikan yang amat kuat kemudian cahaya putih murni menelannya.
***
Dengan permata amethyst yang menghiasi leher seragam putihnya, dia memainkan seruling besar dengan penuh kesungguhan. Tanpa terlihat penonton, pendengar, atau siapapun berada di sekitarnya, dia terus memainkan nada yang sama, tanpa rasa bosan seolah-olah dia diprogram untuk melakukan itu selamanya.
Sebagai satu-satunya Malaikat Penjaga Central Tower of Desire, Cion, memegang otoritas tertinggi selain Kehendak Tower of Desire, baik di Gerbang Masa Lalu maupun Central yang ikut terbuka sementara. Dia mengetahui pembukaan dan berencana menyambut para penyintas yang kembali.
Terutama seseorang yang seharusnya tidak pernah ada. Yang selalu dia tunggu untuk kembali, orang itu telah memutuskan untuk memasuki Central atas keinginannya sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kebahagiaan Protagonis
FantasyKarya Original, bukan fanfic atau terjemahan! Cover dari Canva *** Protagonis novel "Ways of Heroes" tidak mendapatkan jawaban atas ketidakbahagiaannya sampai akhir, sebagai pembaca berat novel tersebut, Yoo Han benar-benar berharap dia bisa memban...
