Chapter 25 : Karavan

612 120 1
                                        

Rui mencari angkutan untuk menuju ke Kota Aeris daripada ke sana seorang diri. Dia ingin menghemat energi serta memulihkannya.

Bohong jika mengatakan dia tidak khawatir dan ingin segera bertindak tanpa peduli resikonya, tetapi dia menahan emosinya sebisa mungkin, menurut Cail yang memberikan kesan mendalam padanya karena pertanyaan bahwa dia mungkin adalah penulis, Rui memikirkannya dengan serius.

Dia berkeliling Desa Palle, membeli makanan sebagai hobinya sebab dia tidak perlu makan untuk hidup, dia bukan manusia, jadi itu wajar. Mereka yang berhasil menembus ranah setengah dewa terendah telah kehilangan sebagian kemanusiaan, mereka lebih mirip makhluk ilahi yang sama sekali tidak terkait dengan manusia biasa.

Meskipun Rui belum benar-benar menembus ranah setengah dewa, hanya membuka pintu tapi tidak berniat melangkahi ambangnya, dia bisa disamakan dalam level mereka. Ada peraturan yang harus dia patuhi di bawah kausalitas kosmos sebagai tujuan utamanya, dan jelas waktu untuk melangkahi ambang pintu belum tiba.

Melihat tas kulit penuh dengan barang-barang yang dia butuhkan selama perjalanan dan juga makanan di tangannya, Rui mengikutkan diri ke karavan kelompok pedagang kecil dengan membayar beberapa harga.

"Dunia ini begitu cerah di permukaan," komentarnya pelan saat menaiki gerobak kayu dengan penutup diisi oleh orang-orang serta kotak-kotak kayu besar di pojoknya.

Rui tidak mengecilkan tubuhnya untuk saat ini, dia memperkirakan bahwa itu akan merepotkan jika dia menemui situasi di mana anak kecil takkan bisa menghadapi misalnya berinteraksi dengan orang tertentu demi mengumpulkan informasi.

Rui duduk santai di lantai kayu gerobak berpenutup yang bergerak perlahan. Ada beberapa orang di sekitar yang berjalan kaki sambil membawa barang-barang serta anak-anak yang berlarian. Pemimpin karavan ada di depan kelompok, dan persetujuan Administrator tentunya sudah diterima karena Rui yang memberikan itu sendiri sebelumnya.

Torani masih belum beradaptasi dengan perubahan mendadak sehingga dia tidak tahu bahwa ada seseorang yang mencuri mekanisme persetujuan, hal tersebut dianggap sebagai pembayaran. Jika Rui mencuri sesuatu, maka harus ada satu hal permanen yang dia ambil jika dia ingin mengembalikan sisanya.

Di masa depan, Rui bisa keluar masuk dengan bebas ke Desa Palle selama setengah dewa Camilla belum menyadarinya. Rui percaya bahwa wanita itu dalam masalah serius sebab pertahanan Desa Palle yang menurun.

Kecepatan pergerakan karavan agak lambat karena membawa banyak orang dan barang, tetapi untungnya relatif aman sebab dilindungi oleh tentara bayaran kelompok pedagang.

Rute yang dilintasi meliputi jalur yang dibangun melewati Pegunungan Perunggu, kira-kira akan memakan waktu seminggu. Akan tetapi, untuk karavan tersebut, waktunya bertambah menjadi dua minggu.

Rui memperhatikan orang-orang di sekitarnya, lalu tatapan terakhirnya jatuh pada orang berjubah yang bertubuh kecil tepat di depannya. Matanya sedikit melebar dan dia terus mengamati orang itu yang anehnya memiliki kehadiran tak terasa.

Yang terakhir merasakan perhatian Rui dan mengangkat wajahnya, mata perak dan helai rambut perak terungkap. Ada aksesoris di lehernya dan dia jelas masih sangat muda, berusia sekitar 15 tahun menurut ciri wajahnya.

Sebenarnya, ada beberapa orang yang juga memakai jubah, tetapi mereka tidak memiliki aura unik seperti pemuda itu. Observer Eye Rui mencatat penampilan dan membandingkan dengan seseorang yang dia kenal.

'Betapa kebetulan. Penulis di balik layar sudah memulai plotnya. Haruskah aku mengikuti?' Rui tersenyum tipis pada pemuda tersebut.

Hanya dengan menganalisis beberapa kebetulan dan sesuatu yang tidak pada tempatnya, Rui telah memperoleh jawabannya.

Pemuda itu tampaknya mirip dengan Cail dalam hal aura yang unik dan esensi netral, itu berarti bukan hanya Cail yang mempunyai keunikan tersebut. Meskipun, ada perbedaan yang tak dapat disangkal antara keduanya.

Saat melihat senyum Rui, pemuda itu kembali menyembunyikan wajahnya sambil terus mengulangi perintah yang diberikan di benaknya.

Benar, dia adalah Eire.

Rui mengalihkan pandangannya ke belakang gerobak, jauh di belakangnya, pemandangan pemukiman yang padat mulai mengecil.

'Yoo Han... Cail de Castalia... Jika aku benar, dia pasti antagonis yang seharusnya memusuhiku. Tapi, mungkin bukan begitu. Plot manakah yang menjadi pemicu pertemuan kami selanjutnya?' pikirnya geli.

Dia sangat mengenal apa yang disebut sebagai plot. Dia mencapai titik awal dari benang pengikat penulis. Sebagai karakter utama, orang-orang menarik lainnya secara alami ada di dekatnya.

***

Kediaman Castalia di Kota Harva. Ruang bawah tanah kedua mansion.

Botol-botol ramuan berserakan di mana-mana, kertas-kertas penelitian berhamburan, dan tinta berceceran di lantai marmer.

Cail melaporkan perkembangan misinya pada Guru sekaligus ayah angkatnya, Willbert de Castalia.

"Subjek eksperimen No. 2 telah mendekati target." Mata merah ruby yang telah kehilangan kilau memandang pria paruh baya yang duduk di kursi malas di tengah meja-meja laboratorium.

"Bagus sekali." Suara yang sangat berbeda menyahut, gelas berisi anggur merah terlempar ke lantai di depannya, pecahannya mengenai wajah Cail.

Cail tidak berkedip meskipun goresan di pipinya terus mengucurkan darah merah gelap. Kesadarannya tumpang tindih dengan sosok asing yang dikendalikan. Dia tidak bisa mengingat dengan jelas alasannya ada di sini atau mengapa dia melakukan ini.

Akan tetapi, ada satu hal terakhir yang selalu dia ketahui seolah itu naluri.

'Sudah dimulai.'

Panggung bonekanya telah dibuka lebih cepat daripada yang dia kira. Cail tidak tahu apa yang dia lihat di balik pintu itu yang bisa menyebabkannya dikendalikan sepenuhnya. Ingatannya samar-samar.

"Lanjutkan langkah berikutnya!" perintah Willbert dengan nada santai.

Cail menyentuh lehernya yang memiliki bekas luka merah yang tak bisa pudar.

'Jika Rui mendapatkan Artefak itu lebih dulu, semuanya akan sempurna.'

Sempurna dalam hal kekacauan. Cail berdiri, mengeluarkan Artefak teleportasi berbentuk cincin dan menaruhnya ke meja putih panjang. Kemudian, menaiki tangga ke atas tanpa berbalik.

Cail memasuki lantai pertama mansion Castalia, dan dia disambut oleh sekelompok penjaga dan pelayan. Mereka sama dengannya, boneka hidup.

"Selamat datang kembali, Tuan Muda Cail."

Sambutan yang kompak dan berirama, namun hanya sedikit penghormatan. Langkah berikutnya adalah melepas penyamaran dan mengikuti panggung bangsawan.

'Aku akan sangat sibuk berurusan dengan orang-orang daripada monster mulai sekarang.' Saat pikirannya mengembara, Cail memaksa sudut bibirnya naik. Akting sungguh diperlukan, meskipun hatinya berdarah.

"Persiapkan keberangkatanku ke Ibukota." Cail memberikan intruksi pertamanya sebagai Tuan Muda. Perburuan dan pelatihan Chimera sudah selesai.

Cail merasa tantangan ini sangat besar, dia hanya bisa meminum darah sintetis dari Menara Alkemis. Monster di dekat Ibukota pasti diburu oleh ksatria sebagai pelatihan. Dia tidak punya kesempatan.

Di Ibukota, dia akan mempelajari segala hal yang diperlukan untuk menjadi Tuan Muda dari Duke Exalted.

***

Kebahagiaan Protagonis Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang