Chapter 37 : Observer Eye (2 In 1)

440 85 33
                                        

Melihat dunia melalui mata yang berbeda. Rui memahaminya setelah kehilangan seseorang yang paling berharga baginya. Dia merasa bodoh karena tidak peka terhadap keunikan yang dibawa oleh mata adik kecilnya.

Tentu saja, bukan cuma tampilan saja, tetapi juga cara melihat dunia ini, tidak, alam semesta ini dengan benar.

Segalanya adalah ilusi jika Rui menilai dengan mata itu. Namun, semenjak perjanjian dengan Origin dibuat, kemampuan mata itu disegel.

Meskipun Rui merasa tertipu, dia tak bisa berbuat apa-apa untuk melawan Origin dan membatalkan perjanjian. Itu sampai dia bertemu orang-orang yang sama sepertinya, tetapi juga berbeda situasi.

Origin menyuruh mereka saling mengenal sebagai saudara dalam perjanjian yang sama. Masing-masing diberi hadiah istimewa termasuk kekuatan khusus yang berlainan.

Mereka diasuh secara langsung oleh Origin, sementara Rui dipaksa menandatangani perjanjian saat dia tidak dalam kondisi pikiran yang tenang dan rasional. Jadi kesimpulannya, Rui membenci mereka. Dia tidak peduli bagaimana pendapat mereka padanya, selama mereka tidak menyulitkan jalannya.

Ada satu metode yang diketahui Rui untuk membuka segel kemampuan mata dari adik kecilnya itu. Akan tetapi, dia harus mempersiapkan diri dalam hukuman di sungai waktu.

Di dunia aslinya, satu-satunya yang masih bertahan ialah pohon kehidupan yang terus bersinar terang menandakan bahwa masih ada harapan. Sekeliling tampak seperti bekas hantaman meteor maupun pecahnya kerak sehingga lava sepanas neraka menyembur.

Area dalam lingkaran pohon kehidupan terlindungi oleh kekuatan misterius yang bahkan tak bisa dihapus oleh Origin. Rui selalu merasa aman di sana, dia merindukan adik kecilnya setiap waktu setelah menyelesaikan misi dan beristirahat di sana.

Pohon kehidupan itu berkilau keperakan ketika musim dingin, keemasan di musim panas, biru cemerlang di musim gugur, dan merah menyala di musim semi. Musim didasarkan pada waktu sebelum dunianya hancur. Namun, fungsi tersebut tampaknya masih berpengaruh pada pohon kehidupan.

Saat ini merupakan pancaran biru cemerlang. Daun-daun yang sejernih kristal dan permata berjatuhan, tetapi mustahil untuk diambil sebab tak bisa disentuh oleh makhluk lain. Rui hanya menatap dedaunan itu yang menempel di jubah hitamnya.

Dia lalu tersadar bahwa warna biru aquamarine dari daun itu adalah favorit adik kecilnya. Entah karena warna mata saphire sehingga wajar jika menyukai hal yang sama, ataukah ada sesuatu yang khusus?

Dia mencoba menyentuh daun aquamarine yang ada di bahunya, sensasi padat mengguncang kesadarannya. Rui menarik tangannya seolah tersetrum. Detik berikutnya, dia melakukannya lagi dan masih sama.

Dia tak tahu mengapa seringai terbentuk di wajahnya yang sebelumnya berekspresi bosan. Suatu skema terbayang di benaknya, bukankah adik kecilnya begitu ingin melindungi pohon kehidupan ini?

Apa alasannya? Jelas itu bukan karena pohon kehidupan ini memiliki inti dari dunianya yang sudah hancur, pasti ada sesuatu.

'Apakah itu vessel?' tebak Rui saat mengamati sehelai daun aquamarine di kedua tangannya.

Pada saat itu, Observer Eye-nya belum ditanamkan, Rui menundanya untuk menerka seberapa banyak yang bisa dia lakukan tanpa bantuan hadiah Origin.

Bagaimana dengan kekuatan aslinya?

Hingga hari kedua mata aslinya dirusak, Rui tidak benar-benar memahami kekuatan aslinya.

Kemudian, mata saphire yang dicangkokkan menjawab kebingungannya. Mata itu sangat cocok untuknya seolah sejak awal seharusnya itu miliknya. Itu melengkapi dirinya dengan sempurna.

Kebahagiaan Protagonis Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang