Chapter 13 : Badai yang Menyebar

856 166 16
                                        

Metode Cail mengenali protagonis dalam satu sapuan lirikan adalah auranya, sebagai chimera, Cail dapat membedakan aura mereka yang kuat dan lemah cukup mudah. Di antara semua budak budidaya, Cail menangkap sasarannya dan langsung melontarkan keputusan secara rahasia pada penjaga.

Cail berhati-hati dalam tindakannya walau dia impulsif ketika menyangkut keserakahan nalurinya. Mayhen Renovalt dan manusia penghubung tidak boleh mengetahui tranksasi ini, jika tidak maka rencana pelarian Cail akan gagal.

Rencana darurat miliknya disusun terburu-buru, tetapi bukan berarti Cail mengeksekusinya dengan ceroboh total.

Bagian jawabannya ke protagonis Rui benar, dia mengecoh gurunya. Namun, bukan untuk melarikan diri demi kebebasan melainkan agar Cail bisa menuju tempat Artefak terkuat di Kerajaan Marina berada, di Kota Aeris.

Jaraknya agak jauh dari Couloseum Fregrace, melewati lembah terjal dan sungai mati yang berisi racun yang tak diketahui asalnya serta pegunungan yang aktif menyemburkan lahar panas.

Cail memaklumi kepribadian gurunya yang eksentrik selama pendekatan sebagai muridnya yang bersikap patuh layaknya anjing yang diikat.

Apapun yang dilakukan Cail di luar sana, misalnya membunuh dan semakin kuat hari demi hari, Willbert justru mendukung. Cail masih belum tahu penyebab Willbert mengangkatnya sebagai murid dan anak angkat. Lapisan misteri itu tetap belum terkelupas hingga saat ini.

Mencangkok kesadarannya yang tersisa, Cail roboh ke lautan salju yang tebal, darah dari jubahnya mewarnai sekitar menimbulkan perpaduan Mawar mekar di tengah badai salju.

'Aku akan istirahat sebentar, aku tidak akan mati.'

Dia sudah pada batasnya. Cail berdoa kepada dewa manapun, semoga tak ada yang menemukannya di sini, biarkan dia berbaring untuk waktu yang singkat saja.

...

Rui memojokkan penjaga Couloseum Fregrace demi memeras informasi tentang pemilik tempat ini, namun penjaga itu sangat setia, bahkan bergeming meski sudah disiksa olehnya.

Rui tak keberatan berlaku keji pada penjaga yang mengurungnya selama ratusan tahun di sini, dia hampir mati bosan, yah bukan hanya itu, sangat menjengkelkan ketika kekuatannya dibatasi. Rui selalu waspada pada siapapun, dia tak ingin disebut lemah. Dia membenci kata 'lemah' karena itu membuatnya teringat pengalaman masa lalu di dunia aslinya.

"Heh, aku memuji kesetiaanmu, jadi akan kuubah pertanyaannya. Siapa orang tadi yang membebaskanku?" Rui mementingkan rasa penasarannya pada orang berjubah merah daripada dendam pribadi.

Penjaga mengangkat tubuhnya yang tak berbentuk, hanya tersusun dari cahaya yang dapat disentuh.

"Ikutilah jejaknya, dia masih di dekat sini." Penjaga tersebut mau menjawab untuk yang satu ini, keanehan yang nyata.

Rui menaikkan alisnya, mempertanyakan makna lain dari kata-kata penjaga.

Yah, Rui memang akan mencarinya tanpa diminta supaya dia dapat membayarnya. Itu sangat penting bagi Rui, bukan karena kebencian pada hutang atau simpati, tetapi ada penyebab yang lebih serius. Yaitu kausalitas kosmos. Dia terikat pada itu dalam bentuk kesepakatan atas kekuatan yang dia miliki.

Tak ada hal yang gratis dalam kehidupan, Rui tentunya harus membayar mahal, namun kepribadian aslinya tetap bertahan melewati semua skema dunia yang berbeda. Satu-satunya yang tetap bertahan ialah keyakinan pada dirinya sendiri bahkan meski segala hal menyakitkan terjadi tepat di depan matanya.

Dia merapikan rambut aquamarinenya yang berantakan akibat ledakan energinya setelah kerah dilepas. Rui memikirkan orang berjubah itu, terlihat masih kecil, tetapi siapa tahu berapa lama orang itu telah hidup. Ukuran tubuh tak bisa mendeskripsikan keadaan sebenarnya.

Kebahagiaan Protagonis Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang