Karya Original, bukan fanfic atau terjemahan!
Cover dari Canva
***
Protagonis novel "Ways of Heroes" tidak mendapatkan jawaban atas ketidakbahagiaannya sampai akhir, sebagai pembaca berat novel tersebut, Yoo Han benar-benar berharap dia bisa memban...
Di lapangan pelatihan ksatria di Istana Grane, para ksatria menyaksikan dengan takjub pada teknik pedang yang unik dari Putra Mahkota yang masih muda.
Pemuda dengan surai nila dan mata emas yang teduh mengayunkan pedang yang merupakan mahakarya Kerajaan Marina. Pedang Ajaib yang memiliki roh di dalamnya.
Zelda Ireona Marina telah dinobatkan sebagai Putra Mahkota dua bulan yang lalu di usianya yang ke-16 tahun, dia akan dinyatakan secara resmi menjadi penerus setelah mencapai upacara kedewasaan. Namun, tampaknya dia memiliki agenda yang berlainan.
Parasnya yang androgini dan ramah tamah ialah keunikannya di tengah-tengah badai pertikaian kekuatan besar di Kerajaan Marina. Ada dua pangeran lain yang seharusnya lebih memenuhi kualifikasi, namun mereka berjalan di jalurnya masing-masing.
Yang satu adalah seorang fanatik pada tanaman herbal sehingga selalu ingin berpetualang, sementara yang lain bergabung dengan kuil dan menjadi salah satu pendeta tingkat tinggi.
"Semuanya memang konyol, kenapa harus aku yang menangani orang-orang bermasalah di negeri ini? Aku berharap Ayah bisa hidup lebih lama," gerutu Zelda sambil menghentikan latihannya dan membersihkan pedang ajaib tersebut.
Ukiran rune serta permata hijau emerald berkilauan di bawah pancaran cahaya.
Pemimpin Kerajaan Marina haruslah kompeten dan mampu menghadapi tekanan dari semua sisi, terutama para bangsawan Exalted yang entah apapun yang mereka lakukan.
• Dasar bodoh! Perhatikan cara bicaramu!
Suara kasar dan serak berteriak di kepalanya.
"Aahhh!!" Zelda tersentak karena teguran roh pedang. "Bukan begitu, Guru." Dia menelan keluhannya.
Dia menuju ke para ksatria yang menonton dan bertanya pada ksatria pengawalnya, "Apa dia sudah datang?"
Ksatria pengawal bernama Wenner mengiyakan dengan hormat, "Tuan Muda Cail telah menunggu Anda di ruang tunggu di samping kamar Anda."
"Bagus." Zelda menepuk pundak Wenner yang tingginya sama dengannya. Mata emasnya berbinar saat merasakan bahwa pengawalnya semakin kuat.
"Ayo berduel lain kali, Wenner!"
...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Baiklah, kau akan menemaniku ke Akademi Skylord di bagian utara benua ini bulan depan!" Putra Mahkota Zelda memutuskan dengan sewenang-wenang setelah memverifikasi identitas Cail.
'Akademi? Bukankah itu... Aku merasa ini terlalu cepat, apakah plotnya memutar dan dimajukan?' Cail tertegun pada keputusan Zelda.
Dan yang lebih penting ialah Zelda tidak bersikap selayaknya Putra Mahkota, dia begitu santai seolah segala hal di sekitarnya adalah permainan. Namun, Cail tetap waspada karena bisa jadi itu merupakan topeng Putra Mahkota.