Sarah, pelayan yang mentransfer surat dengan lambang serigala perak, membungkuk di depan Kepala Keluarga Arelis, Kansen Arelis. Dia melaporkan tugasnya dengan nada hormat, "Saya sudah memberikan surat itu, Tuan."
Di ruang kerja dengan cahaya kristal merah, yang membawa nuansa menakutkan, Kansen membolak-balik buku tebal bersampul merah, yang isinya adalah pengantar bahasa kuno.
Itulah buku yang sengaja dia sisipkan di perpustakaan putranya, Sein Arelis, untuk dipelajari dan demi mengaktifkan sesuatu.
Kansen menanggapi dengan mengangkat kepalanya, menyiratkan agar Sarah segera keluar. Sarah, yang ingin menyampaikan sesuatu, terdiam.
Dia mematuhi instruksi Tuannya dan undur diri dari ruangan yang membawa aroma mawar serta suasana yang menaikkan ketegangan.
Keheningan mencekam-selain suara halaman dibalik-berlangsung lama sampai Kansen mencapai halaman yang berisi simbol 'mata di atas cawan'.
Menatapnya sangat lama dengan matanya yang semakin gelap. Tiba-tiba, dia mengetuk-ngetuk ujung jarinya ke meja dengan irama ritmis.
Saat suara ketukan pintu terdengar, Kansen menutup buku tersebut, lalu memberikan izin untuk masuk.
Rael memiliki ekspresi gelisah saat dia menghadap Kepala Keluarga Arelis, Pamannya.
"Paman, bolehkah aku membawa Sein keluar hari ini?" tanyanya sesuai tujuannya datang kemari.
Kansen menatapnya dengan tatapan tak terduga, itu dipenuhi kekecewaan dan kesedihan. Rael terkejut saat menyadarinya, itu karena seolah-olah Kansen sengaja menunjukkannya sehingga dia memahami sesuatu.
"Apakah kau melihat surat itu?" Kansen menghilangkan tatapan emosinya sambil menguji Rael dengan suara seakan dia sedang menanyakan cuaca.
Rael menjawabnya dengan nada curiga, "Paman, apakah kau tahu sesuatu tentang surat itu dan pelayan yang berani menghina Sein?"
Kansen menarik sudut mulutnya ke atas, membentuk lengkungan. Alih-alih langsung membalas pertanyaan Rael, dia justru membuka kembali buku sebelumnya.
"Menghancurkan takdir yang telah dilukiskan memang menarik, tetapi ada kalanya itu harus dibatasi. Entah kau mau atau tidak, segalanya akan berjalan sesuai naskah," komentar Kansen, yang membolak-balik halaman buku tersebut lagi.
Rael mengerutkan keningnya, tidak memahami perkataan orang tua yang aneh itu. Sebenarnya, Kansen tak pernah benar-benar berinteraksi dengan anggota keluarganya.
Kansen seperti hidup di dunia yang berbeda dari lainnya, seakan dia bisa melihat seluruh kebenaran yang ada, tetapi berpura-pura tidak mengetahuinya.
Dalam ingatan Rael, yang dia telusuri lebih jauh, hubungan Kansen dengan keluarganya dipenuhi kehati-hatian. Itu lebih mencurigakan.
Perhatikan Kansen terhadap putranya, Sein Arelis, didasarkan pada manfaat dan kebutuhan.
"Paman, apa maksudmu?" Rael menyaksikan dengan mata penasaran pada tindakan berulang yang dilakukan Kansen.
Akhirnya, Kansen beranjak dari tempat duduknya sambil membawa buku itu, dia menghampiri Rael lalu menepuk bahunya.
"Kau terlalu keras kepala, kau tidak pernah mau menerima kenyataannya, Rui," bisiknya, membuat jantung Rael berdebar kencang karena syok.
"Bagaimana—."
Kansen menyelanya dengan nada yang sama, "Dunia ini ada untuknya agar kau bisa menarik perhatian Grail Observer sehingga bisa membebaskannya. Namun, kau salah besar, Rui. Jika jiwanya belum sepenuhnya dimakan, maka pasti ada sesuatu yang salah, ini mungkin jebakan, kau harus berhenti berharap bahwa dia akan kembali."
KAMU SEDANG MEMBACA
Kebahagiaan Protagonis
FantasyKarya Original, bukan fanfic atau terjemahan! Cover dari Canva *** Protagonis novel "Ways of Heroes" tidak mendapatkan jawaban atas ketidakbahagiaannya sampai akhir, sebagai pembaca berat novel tersebut, Yoo Han benar-benar berharap dia bisa memban...
