[Panggung dimulai.]
Pena bulu itu bergetar setelah menuliskan sesuatu yang telah dinantikan dan akhirnya terjadi.
***
Cail meraih tangan Rui dengan lembut dan menepuknya. "Tidak perlu semarah itu, kan? Kau terlalu paranoid, Rui." Sambil tersenyum tipis.
Rui mengerutkan kening karena sikap Cail berubah 180 derajat saat ini. Seolah dia berhadapan dengan orang lain yang licik.
"Yoo Han... Kau, hah!" Amarah dan kebenciannya menyeruak sehingga dia hampir melakukan sesuatu yang pasti dia sesali suatu hari nanti.
Dia memutuskan untuk menjauh sebentar demi menenangkan perasaannya. Ditambah, dia merasa ada sesuatu yang aneh tentang Cail.
Rui menepis tangan Cail dan pergi keluar dengan membanting pintu.
Braak!
Ruangan tersebut kembali ke keheningan yang mencekik.
"Hah... Hah... Hah...." Cail jatuh dari kursinya sembari terengah-engah. Rasa panas membakar dan kendali yang barusan terjadi jelas bukan mimpi. Itu kenyataan.
Dia menyentuh leher kirinya di mana tato segel itu berada, lalu menggigit bibirnya sampai berdarah.
"K-kenapa?" Denyut nyeri dari tato itu mengaburkan penilaian rasionalnya saat dia mencoba mencaritahu penyebab dengan kemungkinan terbesar dan solusinya.
Begitu saja, Cail kemudian jatuh dalam pelukan kegelapan di ruangannya
***
Rui masih berdiri di depan pintu ruang belajar. Dia tidak sebodoh itu untuk tidak menyadarinya, tetapi dia juga curiga kalau Cail sengaja bersikap demikian agar dia marah.
Pertama, dia harus mengungkap alasan Cail seperti itu. Kemudian, dia akan memutuskan pilihannya.
Jika tebakan awal terkait entitas itu benar, maka Rui akan merasa yakin bahwa narasi novel itu mengendalikan mereka.
Dia memang paranoid bila menyangkut adik kecilnya, apalagi seseorang yang dia yakini merupakan adik kecilnya.
'Dunia novel... Siapa yang memutuskan bahwa dunia ini adalah pengaturan novel?'
Rui menatap tangannya dan menyesal karena telah menepis dengan kasar. Dia ingin masuk kembali, tetapi hatinya belum tenang. Jadi, dia meminta Valet Wander untuk lebih memperhatikan Cail selama dia tidak ada.
'Aku perlu mengisi energiku.' Itu hal darurat karena dia dibatasi oleh kausalitas kosmos. Baik kekuatan maupun akumulasi energi ada di titik terendah dari ranah Demigod.
Jika Rui melawan Demigod Willbert atau Camilla di kondisinya sekarang, dia akan kalah. Namun, bukan berarti dia mati. Gelar Eternal itu sesuai dengan dirinya yang tak bisa mati.
Kepala Pelayan Ernest sebenarnya sudah menyiapkan kamar untuknya kemarin. Namun, Rui beralasan itu belum dilakukan supaya dia bisa menjaga Cail semalam.
Dia menuju kamarnya untuk mengganti pakaian. Jubah pendeta terlalu mencolok dan lagi penampilannya akan membuatnya repot.
Jubah pendeta biru merupakan barang khusus yang tak boleh diperlakukan sembarangan. Itu mewakili identitas Rui dalam perjanjian Origin serta menambah keefektifan Observer Eye.
Demigod tingkat terendah pun tidak memiliki kebutuhan manusia seperti membersihkan diri atau semacamnya. Akan tetapi, bagian dari hobi tak bisa dipisahkan.
Rui menugaskan pelayan-pelayan untuk menyiapkan pemandian air panas. Dari ingatan yang dia curi, ada kolam air panas di bawah tanah yang biasanya menggunakan campuran ramuan khusus.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kebahagiaan Protagonis
FantasyKarya Original, bukan fanfic atau terjemahan! Cover dari Canva *** Protagonis novel "Ways of Heroes" tidak mendapatkan jawaban atas ketidakbahagiaannya sampai akhir, sebagai pembaca berat novel tersebut, Yoo Han benar-benar berharap dia bisa memban...
