Sakit kepala sering menyerang Sein akhir-akhir ini semenjak Rael jarang pulang ke Kastil Herneva. Duduk di bawah naungan pohon palem di pinggir kolam jernih di taman kastil, Sein memijat pelipisnya sambil melamun.
Dia mengatur napasnya sebentar setelah latihan pedang sederhana yang diajarkan oleh instruktur yang diberikan amanah oleh Ayahnya. Instruktur Harrods, kepala pengawal ksatria Arelis adalah seorang pria paruh baya yang tegas, tetapi berhati lembut.
Dia mendidik Sein yang sangat payah dalam kekuatan fisiknya perlahan selama beberapa hari sebelum memulai pelatihan sederhana.
Seragam latihan berwarna hitam itu basah kuyup oleh keringat, rambut coklat Sein agak gelap jika dilihat lebih teliti, dia sendiri juga menyadarinya. Seolah-olah dia akan segera berubah menjadi seseorang yang berbeda.
Menit demi menit berlalu dalam kesunyian selain suara kolam yang berdesir karena ikan kecil dan dedaunan yang melambai. Sein bertanya-tanya apakah orang tuanya saat ini sama sekali tidak menyadari perubahannya?
Menatap pantulan air yang seperti kaca, Sein membeku kaku seolah-olah baru saja dipukul keras di kepalanya. Warna mata kanannya berubah lagi untuk siapa yang tahu berapa lama, merah darah dan memiliki kesan keserakahan.
Perubahan yang aneh ini bermula dari tiga hari yang lalu saat pelatihan pedang sederhana dimulai. Selama periode tertentu, ketika dia merasa kelelahan dan lesu, emosi negatifnya akan keluar dan warna mata kanannya berubah.
Dia cepat-cepat menutup matanya sejenak, menunggu sampai perasaannya membaik dan normal. Ritme perubahan diawali oleh fluktuasi emosi yang kompleks.
"Sein," panggil seseorang, mengejutkan Sein, yang membuka matanya, hingga dia hampir tercebur ke kolam.
Sein berbalik seraya menutupi mata kanannya dengan tangan kanannya lalu melihat Eire datang. Dia meminta Eire memanggilnya dengan nama daripada sebutan "Tuan muda".
Itu benar, Eire juga ikut dalam pelatihan sebagai teman berlatih, mereka berdua mengetahui rahasia masing-masing meski tidak semuanya.
"Itu lagi? Apakah kau memerlukan ramuan atau sesuatu untuk mencegahnya berubah?" Eire jelas mengetahui keadaan Sein.
Sein menutupi mata kanannya bukan untuk menyembunyikannya, melainkan agar visinya tak terhalang oleh warna merah yang mencemari penglihatannya.
"Tak ada gunanya. Eire, kau masih belum memberitahuku mengapa penampilanmu tetap sama?" Sein menunjuk ke rambut putih keperakan Eire dengan menyelidik.
"Aku tidak tahu pasti, aku hanya bisa menerkanya. Eksperimen chimera itu menentang aturan dunia ini, jadi tak bisa direset," ujar Eire dengan agak yakin. "Untukmu mungkin berbeda karena caramu menjadi chimera berbeda," tambahnya.
"Begitukah?" Sein menyentuh dada kirinya yang mengeluarkan suara detak jantung, dia menduga ada hal lain yang membuatnya berbeda yakni inti dunia yang diberikan Rui.
Sein tak tahu kalau inti dunia tersebut perlahan terkorupsi, tercemar oleh energi negatif dan menyebar ke dalam tubuh dan jiwanya.
-(Hei, bisakah kita bertukar?)
Sein tercengang karena menerima permintaan mendesak dari 'bayangan' itu. Dia memberitahu Eire bahwa dia akan beristirahat di kamarnya, mengabaikan respon Eire yang penasaran dan berlari menuju kamar tidurnya.
***
"Mengapa?" bisik Sein ke udara, dia dengan gugup menunggu jawaban 'bayangan' itu.
-(Ada sesuatu perlu kubersihkan.)
Sein ingin tahu apa itu, tetapi merasakan penolakan dari 'bayangan' itu untuk berbagi informasi. Jadi, dia hanya bisa menghela napas dan menurutinya.
Melepaskan kendali tubuh dan tenggelam ke Dunia Kognitif-nya, Sein pertama kali melihat penjara dan lingkungan yang familiar.
'Bayangan' itu tiba-tiba memeluknya dari belakang sambil melantunkan mantra dan bisikan pelan, "Tidurlah sebentar."
Di dunia nyata, tubuh Sein yang goyah dan akan terjatuh kembali berdiri tegak. Namun, auranya telah berubah menakutkan. Warna mata kirinya ikut berubah merah darah, penindasan melingkupi sekitar sampai terdengar lengkingan dari hal yang tak diketahui.
"Padahal aku masih ingin tidur lebih lama, merepotkan," lirihnya.
'Sein' menggumamkan mantra penghalang di sekitar kamar, kemudian menciptakan belati tajam berlumuran darah di tangannya. Tubuhnya perlahan transparan seperti hantu, mode Wraith yang diaktifkan paksa.
'Sein' tanpa emosi menikam jantungnya sendiri dan menggalinya keluar, menangkap sesuatu yang berwarna kebiruan dengan noda hitam mencemarinya. Kupu-kupu biru yang menempel di dalam jiwa yang melekat di tubuh, tepatnya di jantungnya.
Darah mengalir deras ke lantai marmer, tetapi 'Sein' tetap acuh tak acuh. Dia menangkup kupu-kupu biru tersebut dan membersihkan noda dengan energinya.
Selain lirihan di awal, 'Sein' diam selama sisa waktunya hingga kupu-kupu biru itu berhasil dibersihkan dan kembali ke jantungnya yang mulai pulih dengan cepat. 'Sein' menutup luka di jantungnya dengan energinya kemudian merawatnya sampai hanya tersisa bekas lukanya yang samar.
Belati darah pecah menjadi serpihan cahaya merah dan lenyap tanpa jejak. 'Sein' memandang genangan darah dan pakaian yang rusak, mendecakkan lidahnya dengan jengkel.
Dia menggunakan kekuatan asing [Reversion], yang belum pernah digunakan, untuk mengubah genangan darah menjadi energinya sehingga itu terserap ke dalam dirinya. Kamar tidur telah dibersihkan, penghalang dihilangkan, 'Sein' menarik secarik kertas dari meja dan menulis beberapa hal di sana.
Dengan kalimat terakhir :
[Jangan mengingkari jati diri. Namun, ini belum saatnya bagi kita untuk menyatu.]
'Sein' berbaring dengan nyaman di ranjang, suasana suram dan menakutkan menghilang ketika 'Sein' menutup matanya.
***
Manipulator Bell, yang hendak menggigit apelnya lagi, berhenti seakan sedang merasakan sesuatu yang membuatnya kaget.
Dia mengamati Kastil Herneva di kejauhan dari tempatnya saat ini yaitu Pagoda Penyihir Agung yang bisa terbang ke manapun. Mirip seperti pesawat pribadi jika dibandingkan dengan zaman modern.
Penyihir Agung yang menyamar sebagai tuan muda bangsawan Exalted, Enryu, mengernyitkan keningnya karena ketidaksenangan pada sikap tak sopan dari Bell.
Pagoda yang dipenuhi buku-buku kuno dan beragam rune yang diukir di berbagai Artefak menjadi tempat persinggahan sementara Bell.
"Grail Observer, Anda benar-benar mengejutkan saya..." Suara Bell pelan dan hampir tak terdengar.
Enryu ikut berkomentar, "Akankah Tower of Desire bisa dibangkitkan?" Sebagai Penyihir Agung, dia jelas menyadari kelainan dunia termasuk regresi.
Penyihir Agung memiliki status yang mendekati dewa. Jadi, tidak aneh bagi Enryu dan Bell untuk saling berhubungan.
Invigilator Tower of Desire diharuskan untuk menjalin hubungan dengan mereka yang memiliki status dewa dan juga yang hampir menjadi dewa. Singkatnya, Bell tidak benar-benar setia pada siapapun. Namun, dia menghormati Grail Observer yang misterius.
"Apa kau meragukan perkembangan dunia? Sungai Waktu tak bisa mereset lagi, yakinlah." Bell menghabiskan apelnya, kemudian mengambil yang baru dari ruang dimensi yang muncul seperti lubang hitam kecil saat dia menginginkannya.
"Siapa yang akan dikorbankan?" Enryu dengan rasa ingin tahu ikut memperhatikan Kastil Herneva.
Bell tidak menjawabnya, dia terus memakan apelnya, tetapi gerakannya semakin cepat seolah dia sedang melampiaskan kemarahan.
"Siapa yang tahu," gumam Bell dengan sedih.
***
Aku mungkin akan update tiap hari jika bisa, semoga bisa~
Terimakasih sudah membaca~
KAMU SEDANG MEMBACA
Kebahagiaan Protagonis
FantasyKarya Original, bukan fanfic atau terjemahan! Cover dari Canva *** Protagonis novel "Ways of Heroes" tidak mendapatkan jawaban atas ketidakbahagiaannya sampai akhir, sebagai pembaca berat novel tersebut, Yoo Han benar-benar berharap dia bisa memban...
