Chapter 61 : Awal dari Tragedi

176 45 0
                                        

Berbalut pakaian pembaptisan berwarna putih, menelusuri jalan menuju ruang doa, Sein mengeluarkan cermin kecil yang memantulkan wajahnya yang tampan. Bulu mata keemasan yang cenderung gelap, rambut coklat keemasan, dan ekspresi yang tampak suci.

Enam bulan berlalu, peristiwa tertentu mengubahnya sehingga temperamennya semakin sulit ditebak.

Sein tersenyum sambil mengingat apa yang terjadi beberapa bulan yang lalu yang membuatnya berubah. Sebelum bernostalgia, dia harus menyelesaikan upacara pembaptisannya.

Memasukkan kembali cermin kecilnya ke saku dada, Sein merapikan kerah dan aksesoris yang menyertai set pakaiannya. Menepuk debu di bahunya, kemudian mengatur senyumannya menjadi polos dan menyenangkan mata.

Melirik Ibunya, Hera Onsten, yang menghampirinya, Sein menyapa dengan sopan, "Ibu." Sambil mempraktikkan postur hormat yang telah dia pelajari dengan susah payah.

Menekan dadanya, sambil sedikit membungkuk, ini merupakan etiket dasar agar dia lulus untuk pembaptisan.

Rambut coklat muda Hera ditata tinggi dengan mode yang populer, mata violetnya menunjukkan kebanggaan dan kelegaan.

"Ayo, dapatkan nama barumu."

Sein mengangguk, lalu mengikuti langkah Ibunya menuju ke dalam ruang doa. Pendeta yang bertugas telah bersiap bersama para tamu bangsawan yang diundang.

Untuk sesaat sebelum Sein melintasi ruang doa dan koridor, dia berhenti. Sepasang mata violetnya yang sedikit memudar warnanya berkedip.

Menoleh ke sudut ruang doa, terlihat seseorang yang mengenakan jubah pendeta biru sedang duduk di sana dan memainkan Crysoberyl di tangannya.

Sein bertanya-tanya apakah dia berhalusinasi lagi? Dengan tawa tertahan, Sein hendak mengarah ke sudut itu. Namun, orang yang dilihatnya lenyap seolah yang barusan hanyalah isapan jempol dari imajinasinya.

Sekali lagi.

Pendeta mendesaknya untuk segera ke altar di tengah, Sein melepas jubah luarnya lalu menunduk di depan lambang suci Skylord, 'cawan terbalik'.

Yang menghadiri upacara pembaptisannya hanya Hera, Ibunya. Kansen Arelis, Ayahnya, sibuk mengurus pemakaman Rael Arsen.

Benar, Rael telah meninggal. Itulah takdir aslinya. Bahkan, meskipun jiwa yang menempati berbeda dan dijahit bersama, takdir kematian tetap terjadi.

Jika apa yang tertulis dalam "Ways of Heroes" benar, seharusnya tak pernah ada penyebutan Rael dalam salah satu target balas dendam 'Cail de Castalia' di novel tersebut.

Dalam catatan tambahan juga tak ada penyebutan apa yang menyebabkan Rael tiba-tiba menghilang di pertengahan plot novel itu? Banyak ketidakjelasan dan lubang plot.

Dia membenci penulis, tetapi pada saat yang sama mengagumi betapa banyak hal yang ditinggalkan si penulis tersebut sehingga karakternya harus menebak-nebak. Pasti banyak petualangan yang dibutuhkan.

Sein agak percaya bahwa mungkin Rui adalah penulis itu karena Rui memberikan file lengkap beserta catatannya, tetapi ada yang tidak konsisten dalam asumsi tersebut.

"Tutup matamu dan nama baptismu akan muncul setelah doa, ucapkan nama tersebut untuk mengakhiri upacara ini," ucap pendeta yang memimpin.

Sein tidak jadi menggunakan inti dunia yang diberikan Rui untuk mempengaruhi pemberian namanya, pada akhirnya dia tetaplah dia seperti apapun dia ingin menghindarinya.

Sebuah suara nan jernih dan tak dapat dibedakan apakah itu laki-laki atau perempuan bergema di benaknya.

- Cail, ini kau yang asli.

Kebahagiaan Protagonis Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang