Chapter 38 : Ritual Kebangkitan Pertama Belum Selesai

399 85 6
                                        

Gelandangan, yang disebut The Mad, dengan langkahnya yang terseok-seok menuju gubuk kecil di pinggiran Ibukota Marine.

Dia menggaruk-garuk tangannya yang gatal sambil memfokuskan inderanya untuk mewanti-wanti penguntit. Sifat paranoidnya berakar dalam walaupun dia seorang perencana yang memastikan segalanya terlaksana setidaknya 8 dari 10 kasus.

Gubuk kayu kecil, yang telah diperbaiki berkali-kali sebelumnya, begitu tersembunyi sebab berada di lokasi yang jarang dilalui bahkan oleh orang-orang daerah kumuh.

Tidak semua wilayah itu bersih, justru Ibukota merupakan sarang bagi sisi terkotor sebuah kerajaan.

"Dasar bodoh!" rutuknya ketika pintu gubuk dibuka dari dalam dan keluarlah seorang anak lelaki berumur sekitar 13 tahun. Rambutnya cukup kusam sehingga warna aslinya tertutupi, tetapi itu tampak berwarna ungu kehitaman seperti duri mawar.

"Paman!" teriak anak kecil itu dengan ekspresi bahagia.

"Berhenti di sana, Bell!" perintah pria kusut itu.

Anak itu, Bell, tersentak dan akhirnya berhenti sejauh sepuluh langkah. "P-Paman, benda-benda aneh itu sudah kujaga dengan baik," ujar Bell.

"Bagus, kau bisa pergi." Pria itu mengusirnya tanpa simpati.

"Y-ya!" Bell tidak berani membantah, dia menghormati pria itu meski penampilannya menjijikan.

Pria itulah yang diam-diam merawatnya selama ini, dia harus mematuhi perintahnya.

Bell merupakan salah satu anak jalanan di daerah kumuh. Namun, dia memiliki masalah dengan anak-anak lainnya karena dia membawa kesialan tak peduli apapun bentuknya.

Jadi, Bell dikucilkan oleh mereka dan orang-orang sekitarnya yang mengetahui tentang 'pembawa kesialan'. Hanya pria gelandangan itu, yang datang entah darimana, yang tidak terpengaruh 'kesialan', mungkin justru sebaliknya.

Oleh sebab itu, Bell menganggap pria itu sebagai satu-satunya orang yang dia percayai. Apa saja perintahnya, Bell akan selalu memenuhinya dengan sebaik mungkin.

Terlebih, matanya memancarkan pesona amethyst jika tidak dihalangi oleh poni yang tebal di dahi.

Berlari kembali ke tempat penampungan anak-anak jalanan, Bell merasakan panas yang aneh dari dalam tubuhnya. Dia memegangi dadanya yang sakit saat memutuskan untuk berhenti.

Rasa panas itu semakin kuat semenjak beberapa hari yang lalu tanpa sebab yang jelas. Bell tidak mengungkapkan hal ini pada pria itu karena dia tidak ingin terlalu merepotkan. Lagipula, sensasi panas dari kedalaman rohnya berlangsung singkat.

Akan tetapi, pagi ini tidak demikian. Bell hampir menyerah untuk melawan, dia menyeret kakinya secara insting menuju arah yang meredakan rasa panasnya. Itu keanehan yang tak dia perhatikan, dia masihlah anak kecil dengan pemikiran dangkal.

Berbelok ke berbagai tikungan gang sempit, melewati jalur yang asing, dan akhirnya menemukan tempat di mana rasa panas itu bisa lenyap. Bell tersadar bahwa dia baru saja kesurupan dan tersesat.

Lingkungan daerah kumuh amat rumit, bahkan hanya sedikit yang tahu dengan baik semua jalur.

Di depan Bell ada bangunan tua yang rusak parah. Dia kalah oleh rasa penasaran sehingga tubuhnya bergerak lebih dulu daripada pikiran.

Memasuki bangunan tua itu melalui pintu yang engselnya menggantung dan patah sebagian, Bell terperangah oleh struktur guratan misterius yang tergambar di seisi ruangan bangunan itu, dari lantai ke langit-langit.

Bell melihat pusat dari semua gambar, ada diagram segienam dengan simbol bintang di tengahnya.

Tanpa sadar, dia berjalan ke pusat dari guratan misterius.

Tepat saat kaki Bell menginjak pinggiran diagram segienam, cahaya beragam warna berpendar dari setiap garis yang tergambar. Seakan lukisan impressionis dihanyutkan oleh minyak khusus, lingkungan sekitar menampakkan ilusi.

Bell berani bersumpah bahwa dia mendengar gumaman samar dari segala penjuru dan itu terus menendang gendang telinganya. Kedengarannya seperti doa, kutukan, atau sesuatu yang serupa.

Dia tak bisa menggerakkan tubuhnya yang kaku layaknya patung. Napasnya tertahan ketika campuran warna mendekatinya dan hendak memasuki tubuhnya.

Fragmen-fragmen putih dari ilusi menunjukkan sesuatu yang ditarik secara paksa dari sungai waktu.

Pupil amethyst Bell bergetar, pemahaman perlahan-lahan tumbuh.

Di sudut yang merupakan titik buta, The Mad menyaksikan perubahan tersebut sesuai rencananya.

***

Rui menerima peringatan mendadak dari Observer Eye di pagi hari saat dia sedang menatap terbitnya Bintang Fajar.

Dia mengerutkan kening. "Tower of Desire? Aliran waktu menjadi kacau."

Itu merupakan sesuatu yang akrab baginya. Ritual kebangkitan pertama untuk melepas segel teratas yang ditempatkan pada Tower of Desire.

Dialah yang membantu memasang segel itu dengan mengikatkannya dengan sungai waktu bersama saudara-saudaranya. Sudah pasti, bukan cuma dia yang diberikan peringatan oleh hadiah utama Origin.

Anehnya, Rui sama sekali tidak panik malah bertentangan dari sikap seharusnya.

'Aku tidak tahu siapa musuh yang tepat atau sekutu selain adik kecilku. Semua, termasuk dunia ini tampaknya bisa jadi musuhku.'

Apakah hilang kendali semalam ada hubungannya dengan peringatan ini?

Rui tak mau membuat tebakan tanpa bukti. Dia suka kepastian dan bukan hal-hal yang berbau ramalan.

"Lebih baik aku menemukan obat, ramuan, atau Artefak yang bisa menyembuhkan indera perasanya," gumam Rui sambil melirik sosok kecil yang masih meringkuk di tempat tidur.

Tidak mungkin dia akan membiarkan cacat itu berlalu tanpa diatasi. Dia percaya kalau pasti ada yang bisa menyembuhkan indera perasa yang telah mati rasa untuk makanan manusia.

Kondisi tersebut bukan lahiriah, melainkan efek samping dari akumulasi penyerapan energi dan kekuatan asing yang berlebihan.  Roh dan tubuh terkadang tidak sinkron bila kerusakan fisik yang diderita melebihi ambang toleransi. Oleh sebab itu, mati rasa ialah bentuk perlindungan diri.

Selama Cail bukan Vampir secara real, kecacatan indera perasanya masih bisa disembuhkan.

Jadi, Rui berencana pergi untuk menyelidiki setiap ada kesempatan saat Cail tak memperhatikan.

Lagipula, dia juga memerlukan informasi dunia ini lebih banyak. Tentang seberapa luas Kerajaan Marina, berapa banyak orang-orang berpengaruh dan kuat, serta faktor apa saja yang menurutnya perlu dimusnahkan.

***

Wanita cantik berambut merah menyala, yang mengenakan jubah pendeta merah, mengangkat kepalanya seolah mendapati hal mencengangkan di atas sana.

Dia sekarang berada di persimpangan rute menuju Kota Aeris yang akan dilewati karavan pedagang.

"Ketika kami lengah dan jadilah itu," komentarnya disertai helaan napas penyesalan.

***

Kebetulan, Phill dan Evans bertemu dengan Rei di tengah perjalanan. Mereka terjebak di gua es yang sama ketika badai salju tiba.

Area di dekat daerah terlarang memang khas musim dingin abadi. Untuk melintasi perbatasan, Rei memerlukan bantuan Phill dan Evans.

Sebagai gantinya, Rei bersedia melakukan dua hal yang disyaratkan Phill. Sekutu sementara pun terbentuk.

***

Di perpustakaan remang-remang, seorang pria cantik dengan iris hyacinth sedang membalik-balik halaman sebuah buku berjudul "Ways of Heroes".

Sambil duduk santai, dia menambahkan catatan di salah satu bab dalam novel tersebut.

[Bagian ini perlu direvisi. Ritual kebangkitan pertama belum selesai.]

Saat itu, dia tiba-tiba mendongak karena merasakan kehadiran yang seharusnya tak ada di sini.

"Apa kau tidur dengan baik?" tanyanya dengan ramah.

Sosok dalam kegelapan tersenyum menyeramkan.

***

Kebahagiaan Protagonis Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang