Chapter 7 : Nama Protagonis

1.3K 206 13
                                        

Cail merasa seperti dipukul di bagian belakang kepala ketika menyadari identitas anak itu di masa depan. Eire, pengelana terkuat di waktu mendatang itu hanya menatapnya tanpa emosi apapun, kemudian mengalihkan perhatian ke langit. Haruzel melayang di atas sana memperhatikan mereka dengan gembira.

Dua lainnya seperti manekin kosong, bahkan tidak meliriknya sama sekali. Cail merasa bahwa dia satu-satunya yang malah memikirkan hal lain daripada apa yang seharusnya. Entah dia normal atau justru tidak normal?

Ujian belum berakhir. Ini baru tahap awal percobaan. Cail sendiri tidak mengerti rangkaian ujian yang direncanakan Haruzel, yang dia tahu hanyalah Apprentice Alchemist tersebut memiliki kepribadian yang aneh.

'Seperti yang kuduga, anak itu sangat menarik. Dia dapat membangkitkan kekuatan Wraith sampai batas tertentu,' pikir Haruzel dalam suasana hati yang baik.

Karena pengujian awal sudah selesai, saatnya menuju tahap 1 dari eksperimen Chimera. Haruzel telah menyiapkan semua prosesnya dengan cermat, yang harus menjadi perhatian adalah apakah keempat anak itu bisa menahannya?

Haruzel juga memperhatikan Eire, satu kata dalam kepalanya sebagai apresiasi. "Keajaiban." Dia mengantisipasi dua anak laki-laki lainnya yang masih tampak sedikit normal sekarang. Namun, siapa yang tahu apakah mereka akan berubah secara signifikan setelah tahap 1?

Cail dan tiga anak lainnya diangkat oleh sihir Haruzel menuju tepi tebing. Selain Cail, yang lain tiba-tiba memasang ekspresi sengit di wajah mereka.

Bagi Cail, siksaan ini terlihat tak ada hubungannya dengan dirinya. Itu perasaan yang aneh, tentunya mungkin karena sampai taraf tertentu, dia menganggap dunia ini sebagai novel, bukan kenyataan.

Walaupun itu menyakitkan, ada sesuatu yang membuat dia bertahan, keinginannya untuk bertemu protagonis novel ini. Obsesinya membuatnya dapat mengatasi rasa sakit yang menderanya.

Mata violet Cail merefleksikan penampilan Haruzel yang rupawan. Rambut panjang biru cerah dan iris dengan warna yang sama, dia seperti patung yang dipahat dengan kesungguhan. Terasa tidak manusiawi seolah-olah Haruzel bukanlah bagian dari dunia ini.

Cail bertanya-tanya mengapa dia bisa mengira demikian. Sama seperti dia yang datang ke dunia itu cukup ilusi, Haruzel juga terasa seperti ilusi. Tidak, bukan hanya itu, perasaannya terhadap dunia ini mulai jelas setelah dia berhasil mengatasi rasa sakitnya. Ilusi. Tidak nyata, seperti Cail sedang bermimpi panjang.

Renungannya diinterupsi oleh suara yang membawa energi kesejukan.

"Bagus sekali. Aku sangat senang. Sekarang, aku akan menjelaskan apa yang akan kulakukan pada kalian," tutur Haruzel yang berhenti melayang dan menapakkan kaki di tanah.

"...tapi, sebelum itu," lanjutnya sambil menjentikkan jari.

Luka-luka Cail dan anak lainnya sembuh tanpa bekas. Cail tercengang dan menatap Haruzel dengan mata terbelalak. Eire juga mengubah ekspresinya menjadi rasa penasaran.

Sementara itu, Hen dan Zen, dua anak laki-laki lainnya, bingung dan saling memandang. Mereka berdua adalah saudara kandung.

"Apakah kalian terkejut?" tanya Haruzel yang tersenyum. Kemudian dia menjilat bibirnya diiringi kata-kata, "Aku ingin kalian salah paham padaku."

"... Tak ada kekuatan yang bisa didapat tanpa rasa sakit. Tahap pertama, kalian perlu mengembangkan konstitusi yang memadai." Haruzel mengatakan kebenaran yang sangat dikenal Cail.

Tepat ketika kalimatnya selesai, langit-langit biru dan segala hal pecah berkeping-keping, dan mereka semua kembali ke ruangan di dalam menara.

Dikelilingi oleh sejumlah besar Alchemist lain, Cail tersadar bahwa perjuangannya baru dimulai, rasa sakit sebelumnya adalah permulaan.

Kebahagiaan Protagonis Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang