Hawa dingin menusuk di kota sunyi menggerus keberanian dan tekad Sein. Dia hampir mencapai alun-alun yang terlihat di ujung gang. Namun, langkahnya semakin berat dan tertahan.
Mata violetnya melihat kilatan sinar dari benang-benang halus yang berpencar ke sana-kemari, itu tidak menyakitinya, tetapi dia merasa jiwanya diikat sedikit demi sedikit sehingga dia mustahil untuk melarikan diri.
Sebentar lagi, semua kebingungannya akan terjawab dan dia akan memperoleh kebenaran yang dia inginkan. Oleh sebab itu, Sein tidak bisa berhenti di sini.
Dia ingin membuktikan apakah segalanya terjadi karena dirinya sendiri, apakah dia adalah malapetaka yang disebutkan? Mengapa demikian? Apakah dia seharusnya tidak pernah ada?
Juga, mengapa Rui sangat menyayanginya? Sein tahu dari penjelasan Rui bahwa dia adalah adik kecilnya, tetapi itu tidak bisa sepenuhnya menghilangkan keraguannya, tidak mungkin ada perasaan yang begitu kuat tanpa alasan yang sama kuatnya.
Apakah hanya karena berhubungan saudara, Rui akan melekat padanya? Bahkan, berkorban ....
Kenapa Tower of Desire ada? Kenapa dia dipindahkan dari dunia modern? Kenapa dia harus menjadi Cail de Castalia? Kenapa, kenapa, kenapa?
Itu adalah ratapan frustrasinya untuk mendorong tekadnya yang melemah. Sein tersedak saat dia menahan diri untuk tidak menangis, dia tidak bisa menjadi cengeng.
'Jika, jika apa yang kualami hanyalah ilusi, kapan aku akan terbangun dari ini?!' lirihnya sambil mencengkram telapak tangannya sampai berdarah.
Tetesan merah itu jatuh ke salju putih dan terserap sampai tak ada bekasnya. Benang-benang halus semakin mengencang di sekitarnya, itu seperti menarik jiwanya untuk berhenti.
"Arrrgggg!" pekiknya dengan putus asa saat tubuhnya tidak dapat bergerak lagi dan terperosok ke tanah salju yang dingin.
Kedua telapak tangannya yang berdarah menyentuh tanah bersalju. Kakinya lumpuh sehingga dia mengerahkan tenaganya untuk merangkak.
'Siapa aku? Mengapa aku ada di sini?'
Gerakannya, yang seperti cacing menggeliat, berhenti ketika pikiran tersebut menyerbu benaknya berulang kali, bergema terus-menerus untuk membuatnya bingung tentang identitasnya sendiri.
'Berhentilah menjadi munafik, kau sebenarnya tidak membutuhkan kebenaran itu, kau hanya ingin memastikan bahwa Rui benar-benar menyayangimu. Sungguh ironis ....'
Suara-suara di kepalanya bertambah. Sein tercengang karena dia tidak bisa menghentikannya seakan-akan jiwanya telah terpecah menjadi beberapa sisi.
'Bagaimana jika itu benar, kau tidak bisa berbuat apa-apa, kan?'
'Rui menipumu.'
'Kau pasti berharap ini semua adalah mimpi. Sangat konyol.'
'Bahkan, jika kau mati, Rui sebenarnya tidak akan peduli.'
"Hentikan!!! Itu tidak benar, diam!!" geram Sein seraya menggertakkan giginya tanpa sengaja merobek rongga mulutnya sehingga cairan merah yang lengket mengalir.
Sein mengalami apa yang disebut sebagai kerusakan mental. Sungguh suatu keajaiban baginya dapat bertahan hingga saat ini. Mungkin dia tidak terlihat selemah itu, dia hanya menjadi lemah karena harus menahan kerusakan mentalnya.
Pada saat dia menjadi Cail de Castalia, dia telah memulai jalan yang tidak bisa kembali. Dia merelakan kehidupannya yang normal. Dia bersedia melakukan itu, tetapi saat dia bertemu Rui, dia tidak ingin Rui melihatnya seperti itu, dia tidak ingin dianggap sebagai monster olehnya.
Oleh karena itu, dia menekan kekuatannya dan berakhir semakin lemah, mengingkari pelatihan dua tahun neraka sebagai Cail de Castalia. Efek samping kekuatan asing datang karena kerusakan mentalnya yang besar, dia berpindah-pindah di antara pikiran untuk mengakhiri hidupnya dan tidak ingin mati.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kebahagiaan Protagonis
FantasíaKarya Original, bukan fanfic atau terjemahan! Cover dari Canva *** Protagonis novel "Ways of Heroes" tidak mendapatkan jawaban atas ketidakbahagiaannya sampai akhir, sebagai pembaca berat novel tersebut, Yoo Han benar-benar berharap dia bisa memban...
