Penjara besi Gurunya dan klausul hukum Camilla mengurung makhluk iblis, bahkan teriakannya tak mungkin bisa keluar dan mencederai pendengar. Cail tidak perlu menangani makhluk iblis itu, dia hanya punya satu pertanyaan saat ini yang terus berulang.
'Apa yang harus kulakukan?'
Cail menyeret langkahnya kembali ke dekat lingkaran penghalang merah yang menutupi Rui, merasa bersalah tetapi juga sedikit lega karena dia tidak harus menatap wajah Rui secara langsung, penghalang itu mengaburkan sosoknya.
"Rui."
Tidak ada balasan, Cail memanggilnya lagi, "Rui."
Dia semakin cemas, saat akan memanggil untuk yang ketiga kalinya, suara berat seorang pria menyahut. "Hnm? Ada apa?" Itu nada yang santai seolah Rui sedang berbaring nyaman.
Cail kehabisan kata-kata, perilaku Rui tidak konsisten. Jika dia belum pernah belajar psikologi di kehidupan sebelumnya, dia takkan menyadari apa yang salah. Dia tiba-tiba teringat saat menghadapi pasien sakit jiwa yang mendapat label setengah gila, itu kunjungannya selama masa liburan musim panas ketika masih siswa SMP.
Pamannya adalah dokter spesialis penyakit jiwa, dan berharap Yoo Han untuk mempelajarinya juga daripada hidup sia-sia dengan keterampilan biasa-biasa saja, tentu saja kecerdasan di masa modern tidak cukup dihargai bila itu tidak ditempatkan di tempat yang tepat.
Rasanya kabut tebal di ingatannya memudar sedikit demi sedikit, dan kenangan itu datang membanjiri ketika rasa bersalahnya naik ke permukaan.
Apa yang membuatnya begitu peduli dengan Rui?
Kenapa novel itu sangat penting untuknya?
Namun, dia tak pernah berharap bahwa dia akan masuk ke dunia novel karena terlalu menyukainya, itu tidak ilmiah baginya yang dipengaruhi oleh Pamannya. Pada akhirnya, Yoo Han memilih kehidupan yang sulit, merawat orang lain bukanlah keahliannya. Mungkin sebab sifatnya yang tertutup itulah, dia pernah dibully di sekolah dan mendapatkan trauma.
Waktu memang menyembuhkan luka, tetapi tak mungkin menghapusnya. Seiring perkembangan kehidupannya ke arah yang lebih buruk, dia selalu bertanya-tanya pada diri sendiri kapan kiranya dia akan masuk ke rumah sakit jiwa?
Sedotan penyelamat yang dia pegang adalah hiburan online seperti berita dan segala macam cerita, Yoo Han merasa tidak mungkin bertahan lebih lama jika dia tak menemukan novel itu secara kebetulan.
Novel terkenal yang langsung rilis satu volume dalam satu hari, saat membaca bab pertama, semangatnya yang anjlok mulai pulih. Seakan protagonis di novel tersebut mengatakan padanya untuk bertahan.
Yoo Han curiga bahwa penulis novel "Ways of Heroes" menggunakan dirinya sendiri sebagai tokoh utama, setidaknya dia berfantasi seperti itu. Kadang-kadang dia ingin bertemu si penulis, sayang sekali itu hanyalah angan-angan.
Di awal liburan musim panas di tahun terakhir SMP, para pembully mendorongnya untuk bunuh diri. Dia menolaknya dengan keras, lalu berakhir depresi dan dirawat di rumah sakit jiwa. Harinya telah tiba, orang normal manapun yang dirawat di rumah sakit jiwa, pasti akan berakhir gila saat keluar.
Yoo Han bukan pengecualian, dia sendiri percaya itu. Terkadang ketenangannya terlalu abnormal, namun yang menyebabkannya mempertahankan kejernihan adalah novel itu, untungnya ada buku cetak sebab rumah sakit jiwa tidak mengizinkan smartphone digunakan.
Yoo Han meminta pamannya yang kebetulan adalah dokternya untuk membelikan setiap seri buku itu, dan dia dengan senang hati membacanya berulang-ulang setiap hari, dia mengabaikan teman-teman kamarnya karena sadar bahwa penyakitnya bisa bertambah buruk.
Ketika keluar dari rumah sakit dengan catatan perawatan pengawasan diperlukan, Yoo Han menyambut musim baru yaitu awal SMA. Laporan belajarnya semasa SMP cukup baik meskipun dia hanya mengikuti ujian tertulis di rumah sakit. Dia masih normal jika dipandang di sudut depan, tetapi itu akan berbeda saat orang memikirkannya lagi.
Cail membuka matanya yang dia tidak ingat kapan menutup ketika bayangan menakutkan dari kenangan kehidupan sebelumnya melesat sesaat. Mata merah ruby-nya menatap tanpa emosi ke arah Rui di balik penghalang.
"Kau mencoba mencuri ingatanku?" tanyanya, nadanya tenang.
"Emosi bersalahmu terlalu kuat jadi secara tidak sengaja hal itu terpicu," jawab Rui yang berusaha menenangkan.
Di dalam penghalang, berbeda dengan jawabannya yang terdengar santai, ekspresi Rui suram. Dia sendiri tidak menduga kekuatannya bisa menjadi pasif mendadak. Dan yang lebih mengejutkan ialah Rui dapat merasakan rasa sakit dari ingatan itu seolah itu miliknya sendiri.
Rui duduk bersandar ke penghalang yang menghadap ke Cail. Dia bertanya, "Novel apa itu?" Tanpa berharap dijawab, dia hanya ingin meredakan kecanggungan dan mengetahui apakah Cail marah atau tidak.
Tak disangka, Cail memberikan jawaban jujur, "Novel tentang kisahmu." Pikirannya goyah dan dia duduk, bersandar di penghalang darah di sisi sebaliknya dari Rui.
".... Begitu... Itu menjelaskan kenapa kau bisa menyatakan bahwa kita akan menjadi musuh di masa depan. Apa kau tahu siapa penulisnya?" Rui anehnya tidak menentang bahwa dunia dan kehidupannya adalah sebuah novel dan dia merupakan karakter utama.
Cail terdiam untuk waktu yang lama. Rui tidak mendesaknya, dia bermain-main dengan beberapa saputangan putih yang dia curi.
"Aku tidak tahu, aku tak bisa mengingatnya," ujar Cail yang volume suaranya mengecil. "Aku berasumsi bahwa kau adalah penulisnya." Sudut mulut Cail melengkung.
Rui tertawa kecil dengan ekspresi tak berdaya dan geli. "Kenapa aku melakukan hal merepotkan seperti menulis kisahku sendiri? Tapi, tebakanmu sangat menarik. Aku tak menganggap itu tidak bisa diterima, hanya saja aku bahkan tidak punya ingatan tentang novel itu. Jika ada, aku takkan tertangkap penjaga Couloseum Fregrace."
"Masuk akal." Mental Cail yang agak bengkok mulai pulih, dia meneruskan percakapan bersahabatnya. "Rui, kau tidak merasa itu aneh? Kau sama sekali tidak menyangkal dirimu sebagai karakter sebuah novel."
Rui terkekeh-kekeh sampai saputangan yang dia jalin di tangannya kusut. "Mengapa aku harus menyangkal? Pengaturan menarik ini mendorongku untuk mengungkapkan celahnya. Jika berhasil, aku akan dapat menemukan penulis 'luar biasa' ini dan bermain teka-teki dengannya."
Kalimat yang ingin Cail muntahkan tersendat. Rui lebih menarik daripada yang dia kira, Rui bukannya frustasi tentang takdirnya yang telah ditentukan, melainkan menganggap itu semacam permainan.
"Mungkin kita tidak perlu menjadi musuh," bisik Cail. Khawatir keberadaan tertentu itu akan memutar plot lain di novel lebih awal.
"Tapi, sebagai gantinya, kita harus berpisah di sini. Sampai aku bisa memperoleh kebebasan dari Guruku, aku tidak akan mengenalmu."
Cail berdiri dan menepuk-nepuk pakaian hitam yang mirip pakaian pemakaman. Hatinya yang mengganjal dan diisi rasa bersalah serta rasa sakit tersembunyi berkurang sedikit.
Lingkaran darah berputar dan lenyap. Mata Pengamat Rui berbinar. Dan dia menyeringai. "Baiklah. Ini permainan baru."
Rui melemparkan sesuatu ke arah Cail, itu kristal api. Kemudian, dia membuka celah abu-abu keperakan dan masuk ke dalamnya.
Saat celah menghilang, Cail berbalik untuk mengambil kristal api tersebut. Entah bagaimana, masalah terbesar terselesaikan dengan cara yang tidak terduga.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Kebahagiaan Protagonis
FantasíaKarya Original, bukan fanfic atau terjemahan! Cover dari Canva *** Protagonis novel "Ways of Heroes" tidak mendapatkan jawaban atas ketidakbahagiaannya sampai akhir, sebagai pembaca berat novel tersebut, Yoo Han benar-benar berharap dia bisa memban...
