Chapter 80 : Kenyataan (Akhir Volume 3 Protagonist)

288 18 5
                                        

Dia masih di ruangan yang sama setiap kali membuka matanya. Tidak ada siapapun yang datang seolah-olah dia satu-satunya yang tersisa.

Tinggal di ruangan putih tertutup untuk waktu yang lama dapat membuat siapapun menjadi gila. Dia juga tak terkecuali karena dia merasa sudah gila.

Dia sepertinya bukan lagi manusia karena setelah beberapa lama berlalu, dia sama sekali tidak merasakan kebutuhan yang seharusnya dia rasakan.

Tidak ada rasa lapar, haus, dan semacamnya seakan dia sudah berubah menjadi manekin manusia.

Darahnya yang keluar karena pencabutan alat-alat aneh itu sudah berhenti, bahkan lukanya tak meninggalkan bekas sedikit pun.

Sosok tubuhnya juga tidak memiliki perubahan, dia masih terlihat seperti anak laki-laki berusia 12 tahun, seolah umurnya terhenti di sana selamanya.

Rambut hitamnya sepekat tinta dan matanya memantulkan warna merah darah. Dia bisa melihat bayangan kemerahan di lantai ruangan itu untuk memastikan penampilannya.

"Aku benar-benar monster...."

Dia meringkuk dalam posisi duduk dan memeluk lututnya. Pakaiannya, yang seperti setelan baju pasien rumah sakit, terasa kasar dan kotor.

Dia terus menunggu, menunggu pintu itu dibuka dan membebaskannya. Namun, tidak peduli berapa lama berlalu, pintu besi itu tidak pernah dibuka.

Mata merahnya berubah semakin gelap seperti menunjukkan kegelapan di hatinya yang berkembang perlahan.

Dia akhirnya merasa tidak bisa menunggu lagi dan beranjak dari posisinya. Melirik buku yang rusak di sisi pintu, ekspresi wajahnya mengerut.

"Aku harus keluar ... Tapi, pergi ke mana?" Dia bingung karena tidak punya tempat yang bisa dia tuju di dunia luar.

Dia telah kehilangan satu-satunya anggota keluarganya yang tersisa, tak ada rumah untuknya kembali dari neraka ini.

Tiba-tiba sebuah pikiran yang tidak masuk akal muncul. Dia menyuarakannya tanpa sadar.

"Apa kakak masih hidup?"

Tangannya segera meraih ke pintu besi itu dengan ekspresi bersemangat. Harapan itu memenuhi hatinya.

Dia mendorong dan menarik pintu itu, mencoba segala cara untuk membukanya. Sayangnya, pintu itu tetap bergeming, tidak menunjukkan kerusakan sama sekali dari aksinya.

Sebuah ruangan yang dapat memenjarakan monster sepertinya tentunya memiliki pengamanan seperti pintu yang tidak bisa ditembus dengan mudah.

"Tidak mungkin aku bisa keluar," keluhnya sambil kembali duduk dan meringkuk.

Dia memejamkan matanya dan perlahan-lahan ingatan masa lalu mulai bangkit dalam dirinya. Butuh waktu yang lama baginya untuk memahami bahwa dia harus hidup dalam keabadian terkutuk ini.

Dia memang Chimera yang diciptakan oleh para pencari keabadian. Mereka membutuhkan kekuatannya untuk mengendalikan sisi lain dunia ini yang disebut Ethereal.

Dunia 'kenyataan' dan dunia ilusi saling terkait seperti cermin. Orang-orang yang telah melalui dunia ilusi itu mendapatkan kekuatan besar yang kemudian membuat mereka disebut pencari keabadian.

Hanya sedikit yang dapat kembali dari dunia ilusi setelah memasukinya, tetapi yang berhasil kembali dari sana menjadi orang-orang hebat yang mengendalikan dunia ini. Keserakahan orang-orang itu meningkat hingga mereka ingin mengendalikan kedua dunia bersamaan, mereka mencari 'kunci' untuk menghubungkan kedua dunia itu dan mendapatkan kekuatan yang mereka inginkan.

Mereka kemudian menemukannya, 'kunci' itu yang terlahir dengan tanda dari dunia ilusi. Kupu-kupu biru. Tanda mencolok itu menunjukkan bahwa seseorang itu terpilih sebagai Creator, dinobatkan langsung oleh kausalitas dunia seolah dia dilahirkan hanya untuk itu.

Kebahagiaan Protagonis Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang