Dunia modern ini ternyata berbeda dari yang semula disangka olehnya. Sein bertanya-tanya apa identitas orang yang mirip Rui ini sehingga amat mudah baginya untuk keluar masuk tempat penelitian terlarang ini?
Seolah-olah, tak ada siapapun di dunia ini yang dapat menghentikannya, Sein juga tidak bisa kabur darinya. Awalnya, dia berpikir akan menghadapi orang gila yang psikotik seperti Rui yang dia kenal.
Namun, Sein salah besar. Kegilaan berbeda-beda tergantung pilihan yang diambil. Rui yang membawanya keluar dari laboratorium justru sangat tenang, terlalu tenang sampai-sampai tidak normal.
Dibandingkan fluktuasi emosi ketika dia pertama kali melihatnya, Rui yang membawanya ke rumahnya tampak seperti seorang Kakak yang baik hati, tetapi tidak begitu terobsesi sehingga terkesan bahwa mereka tidak benar-benar berhubungan.
Sein menjadi ragu, dia terbiasa dengan sikap Rui yang memanjakannya dan kadang-kadang begitu lengket. Dia sedikit tidak nyaman ketika tiba-tiba dia diperlakukan begitu asing, meskipun ajakan Rui yang sekarang seperti membawanya pulang dan menjaganya, tetapi hanya itu saja.
Seolah-olah menghilangnya subjek eksperimen tidak berarti apa-apa, Sein hidup dengan damai di rumah mewah Rui di pusat kota, jauh dari lokasi markas organisasi yang menahannya.
Sein diberikan semua yang bisa diberikan Rui seperti memelihara hewan peliharaan, kadang-kadang peduli dan hangat, tetapi lebih sering acuh tak acuh. Dia mendapatkan beberapa kebebasan, Rui tidak membatasinya, tetapi juga tidak membiarkannya pergi terlalu jauh.
Sikapnya kontradiksi setiap hari membuat Sein bertanya-tanya mungkinkah Rui yang merawatnya ini adalah fragmen jiwa sehingga itu akan menjelaskan mengapa sikapnya berkebalikan berkali-kali.
Pada suatu hari yang mendung, Sein melihat Rui sedang menatap kosong ke langit di luar jendela kamarnya. Sein sebenarnya ingin membicarakan sesuatu dengannya, jadi dia pergi menemuinya dengan keberanian yang patut diapresiasi.
Sein bersiap untuk dihukum karena berani seenaknya memasuki kamarnya, tetapi tidak menyangka akan melihat Rui yang tampak seperti boneka tak berjiwa, kosong. Seolah-olah, dia sangat bosan sampai-sampai tidak ingin hidup, sayangnya tidak bisa mati.
Deg!
Jantung Sein terasa seperti dicengkeram kuat. Dia belum pernah melihat Rui yang seperti ini, baik itu fragmen jiwanya ataupun Rui yang bebas dari Couloseum Fregrace.
Rui, yang bersandar di sofa malasnya, merasakan pendekatan Sein, tetapi tak mengacuhkannya, terus berekspresi sama. Dia sedang menelan informasi yang dibawakan oleh Kereta Paradoks padanya.
Dia sudah terlalu lama di sini, bahkan sekarang Tower of Desire terancam hancur. Rasanya ironis karena Tower of Desire diciptakan olehnya, tetapi mengapa dirinya yang lain bertekad menghancurkannya? Ini pasti bukan candaan maupun kesalahpahaman.
"K-Kakak," panggil Sein dengan takut dan khawatir. Dia memaksa kakinya yang gemetar untuk berjalan sampai ke dekat Rui.
Suaranya yang kecil menarik Rui dari renungannya, sepasang mata birunya berkilat sejenak, sebelum menatap Sein dengan pandangan bertanya apa yang dia butuhkan. Ini seperti dia tidak terlalu peduli apa yang sebenarnya dibutuhkan anak laki-laki yang sebelumnya menarik perhatiannya, meski hanya sesaat, dia dengan cepat bosan.
Apa yang lebih membuat putus asa selain ketidakpedulian seseorang yang kau sayangi?
Sudah sebulan sejak dia dirawat di sini, Sein mulai mengembangkan ketergantungan berlebihan dan menganggap Rui yang ada di depannya sebagai salah satu fragmen jiwa Rui yang dia kenal, atau bahkan Rui sendiri yang kehilangan ingatannya tentangnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kebahagiaan Protagonis
FantasyKarya Original, bukan fanfic atau terjemahan! Cover dari Canva *** Protagonis novel "Ways of Heroes" tidak mendapatkan jawaban atas ketidakbahagiaannya sampai akhir, sebagai pembaca berat novel tersebut, Yoo Han benar-benar berharap dia bisa memban...
