Chapter 14 : Pergi Tanpa Permisi

828 180 33
                                        

Atmosfer aneh melingkupi seisi gua es, Cail tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Observer Eye milik Rui yang unik, dia membacanya dan ini pertama kali melihatnya langsung. Cail penasaran apakah kemampuan yang dijelaskan di novel sama dengan di kenyataan, jika benar akankah ada penambahan yang tak diketahui?

Cail memecah keheningan canggung setelah perkenalan. "Rui, terimakasih." Dengan sepenuh hati dan jujur dari dua kehidupan yang dia alami.

Rui berusaha menyembunyikan gejolak di hatinya sambil memeriksa apakah ada hal mencurigakan dari Cail. Yah, walaupun ekspresinya berubah suram ketika mendengar rasa terimakasih yang tulus. Jadi usahanya gagal dan menyebabkan kesalahpahaman.

'Lubang plot tetaplah lubang plot.' Cail mengerti bahwa peristiwa yang terjadi saat ini takkan berpengaruh apa-apa di masa depan. Jadi, dia akan mempersingkat waktu bersama protagonis yang dia impikan.

"Di luar masih badai salju, kau tidak kedinginan?" tanya Rui yang mengalihkan pandangannya ke pintu masuk gua es.

Cail tertawa kering. "Tidak, lagipula aku bukan manusia." Di dalam tubuhnya, kekuatan asing saling bentrok sehingga suhu tubuhnya berubah-ubah sesuai keadaan, misalnya saat ini justru dia merasa hangat. Sebenarnya, lebih banyak dipengaruhi oleh suasana hatinya, tetapi Cail tidak tahu hal itu.

"Heh. Kalau begitu, aku juga," sahut Rui dengan nada candaan, kemudian melanjutkan, "Apa kau punya saran tempat yang menarik untuk kukunjungi di sekitar sini?" Rui menolehkan kepalanya ke arah Cail yang berada di samping kanannya.

Cail mengobrak-abrik loker memori tentang 'tempat yang mungkin ingin dikunjungi protagonis'. "Ada lembah lava yang mengandung pecahan kristal api, seharusnya ada di puncak pegunungan bersalju ini. Ada gua yang tersembunyi di puncaknya, kau hanya perlu menyingkirkan salju yang menghalangi pintu masuknya."

Tiba-tiba kepalanya berdenyut, Cail memijat pelipisnya pelan, merasa tak adil menerima hukuman ini hanya karena membeberkan salah satu rahasia dari novel tersebut.

Tindakan Cail tidak luput dari pengawasan Rui, tanpa sadar tangan kanannya menjangkau ke depan.

Plak!

Cail menepisnya dan beringsut ke sudut semakin menjauh, dia tidak suka disentuh, dan perlakuan Rui sedikit aneh baginya yang menganggap dirinya mengenal protagonis Rui.

'Apa yang salah dengannya? Tidak mungkin hanya karena aku penyelamatnya, dia begitu. Aku seharusnya orang asing dalam pandangannya.' Dalam kepanikan pikiran, Cail menyusun rencana diam-diam.

"Kasarnya. Lalu, ikutlah denganku!Bukankah kau ingin bebas dari pengaruh gurumu?" Observer Eye Rui bersinar.

Punggung Cail terasa dingin, dia bergidik takut karena permintaan tersebut merupakan perintah.

'Tidak. Dia menggunakan perintah Observer Eye-nya padaku.' Cail menahan sakit kepalanya yang menjadi-jadi sembari berusaha menghilangkan ikatan perintah.

Sebagai chimera, dia bisa melakukannya dengan mudah bila kondisinya stabil, sementara itu dia sekarang cukup kesulitan.

Ikatan perintah mutlak bagi makhluk hidup manapun, selain chimera. Protagonis Rui belum pernah mengganggu chimera sebab dia tidak ingin berhubungan dengan makhluk kotor, itulah prasangkanya. Alasan utama sudah jelas yaitu Rui tak bisa mengendalikan chimera. Musuh yang sulit baginya.

Akan tetapi, Cail bingung pada sikap Rui sekarang. Kemudian, sampai pada kesimpulan. Benar, Rui belum tahu jika dia adalah chimera. Rui mengira Cail adalah vampir karena meminum darah.

Vampir sedikit banyak diakui oleh Rui tidak seperti chimera.

Cail hanya menunduk dan tak membalas apa-apa, tetapi ini sesuai keinginan Rui yang mengira sudah mengendalikannya.

'Perintah itu menghabiskan banyak energinya. Sayangnya, sia-sia jika ditujukan padaku,' pikir Cail sedih bukannya senang.

Rui bersenandung lembut lalu memejamkan matanya, lelah. Perintah itu benar-benar menguras energinya, dia baru saja mendapatkan kekuatan penuh sehingga sedikit tidak nyaman tiba-tiba langsung mencoba yang paling sulit.

Untuk sementara, Rui tidak curiga. Jadi, dia beristirahat, menunggu badai salju mereda.

Cail di sudut, melepaskan jubahnya. Menyalurkan anestesi kuat agar protagonis tidak menyadari pergerakannya, bukan untuk membiusnya. Itu mustahil. Anestesi itu dalam bentuk penghalang suara, Cail mempelajarinya dari Willbert, kemampuan itu milik Alkemis. Ditambah, dia pernah menyerap kekuatan itu sendiri dari Alkemis yang dia bunuh.

Indera deteksi Rui sangat sensitif. Oleh sebab itu, Cail tanpa pikir panjang mengaktifkan sebagian besar kekuatan asing yang berfokus pada gerakan diam-diam layaknya bayangan.

Tubuh Cail menyatu dengan dinding es, kekuatan Wraith miliknya sendiri sudah mencapai tahap menengah, yaitu dia dapat menembus objek. Cail menatap Rui sejenak sebelum pergi tanpa menoleh ke belakang. Dia telah menetapkan tujuan ketika datang ke bagian Utara Kerajaan Marina sejak lama.

Saat dia disuruh membunuh satu ras makhluk yang menghina Willbert, membantai monster urutan ke-9 daerah terlarang kemudian menjadikan darahnya sebagai asupan, saat dia menerima hukuman dari Willbert berupa penyiksaan fisik meski dia mengaku sudah sangat patuh. Dan semua momen memuakkan tersebut mengisi kepalanya.

Apa yang dia tuju adalah balas dendam demi 'Cail' yang asli. Kota Aeris, keluarga 'Cail' yang asli berada di sana.

Dia juga akan memeras tiap informasi tentang 'makhluk bencana' atau 'legenda' yang beredar, firasatnya mengatakan bahwa dia harus mengetahui hal tersebut.

Cail meninggalkan jubah dan beberapa barang yang tak dapat dipakai untuk deteksi pada Rui yang tertidur.

Dalam seluruh proses tersebut, Rui sebenarnya sudah menyadarinya. Dia tahu itu ketika memejamkan mata. Merenungkan perasaan gelisahnya sejak sebelum bertemu Cail di tengah lahan salju.

Itu ketika dia memperhatikan pertarungan di Couloseum Fregrace. Kekuatan yang dikeluarkan Cail adalah Esper urutan ke-6, Manipulasi Partikel Nano. Rui pernah melawan orang yang memiliki kekuatan tersebut.

Sebuah dugaan meresap ke benaknya saat mata merah darah dan tindakan meminum darah itu terngiang. Rui tersadar.

"Chimera...," desisnya dengan gigi terkatup.

Rui merasakan perubahan atmosfer sekitar, itu tenang, terlalu tenang. Dia berpura-pura tidak tahu, mengantisipasi apa yang hendak dilakukan Cail.

Rui membuka matanya ketika yang tersisa di sisinya hanya jubah merah berlumuran darah dan beberapa barang kecil.

'Mengapa aku tidak tahu lebih awal?!' Rui mencerca diri sendiri. Dia mengambil jubah itu, tak bisa mendeteksi keberadaan pemiliknya.

Kemarahan muncul dan menggeretakkan giginya. Sudah lama dia tak seemosional ini! Terakhir kali yaitu saat dia ditangkap penjaga Couloseum Fregrace.

'Kenapa harus dia?!' Rui berteriak dalam hati. Matanya melotot keluar, badai salju di luar semakin kuat. Perlahan, Rui menonaktifkan Observer Eye-nya. Warna biru saphire kembali ke mata kirinya sewarna dengan yang lain. Kasus langka untuknya menonaktifkan Observasi Eye, namun kekuatan sebenarnya yang dia miliki dapat dipakai dengan bebas.

"Karena kau kabur, bukankah aku harus menangkapmu?" gumam Rui disela-sela senyum menakutkan.

***

Terimakasih sudah membaca~


Kebahagiaan Protagonis Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang