Karya Original, bukan fanfic atau terjemahan!
Cover dari Canva
***
Protagonis novel "Ways of Heroes" tidak mendapatkan jawaban atas ketidakbahagiaannya sampai akhir, sebagai pembaca berat novel tersebut, Yoo Han benar-benar berharap dia bisa memban...
Sekelompok makhluk hitam, yang disebut sebagai pertanda buruk, pembawa bencana, dan kematian, berkokok parau dan mengerumuni suatu tempat jauh di dasar ngarai daerah terlarang.
Salju abadi dengan hawa dingin menusuk sama sekali tidak mempengaruhi sosok itu, yang berdiri di tengah para gagak. Mata obsidiannya berbinar ketika salah satu burung gagak hinggap di tangannya yang seputih salju.
Dia mengangkat tudung jubah hitamnya, yang memiliki simbol 'perintah Raja' di dua sisi dengan bordiran emas, menampilkan wajah tampan yang tidak manusiawi.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Rambut hitam pendeknya, yang agak keriting, tergerak oleh angin yang membawa butiran kristal es. Dengan suara yang menyenangkan dan menghipnotis, dia bersenandung, "Datang atau tidak, aku akan menunggunya meskipun dia tidak akan mengingatku~."
Khaaak!
Gagak di tangannya merajuk, mengusap kepalanya ke jari-jarinya yang halus, seolah-olah ingin menghibur tuannya. Pria itu menepuk kepala makhluk kecil di tangannya dengan ekspresi melankolis.
Menantikan pertemuannya dengan seseorang yang membuat hatinya tergerak, dia mulai mengingat kembali apa yang terjadi di timeline sebelumnya. Dia adalah salah satu variabel istimewa yang ditempatkan oleh Sungai Waktu. Oleh sebab itu, tentunya dia mengetahui regresi dunia ini.
♠
Timeline kedua, daerah terlarang.
Melihat seorang anak laki-laki berlumuran darah terbaring di tengah bangkai binatang ajaib di wilayah tengah daerah terlarang, dia merasakan ikatan yang terbentuk kembali. Seakan dia dan anak laki-laki itu memiliki suatu hubungan yang menghubungkan kedua jiwa.
Oleh karena itu, dia akhirnya membawa anak laki-laki itu ke kastil bawah tanah miliknya. Merawat luka anak itu dan menunggunya siuman.
Kastilnya dipenuhi ornamen magis seperti kristal sihir dan berbagai macam ramuan. Ada array yang melingkupi keseluruhan kastil sebagai perlindungan dan juga pencegahan terhadap suatu bencana.
Apa yang tak dia sangka setelah anak laki-laki itu siuman ialah wajahnya yang tanpa ekspresi dan seperti mati rasa. Jadi, dia bertanya, "Apakah kau yang membunuh binatang-binatang ajaib itu?"
Anak laki-laki itu meliriknya dengan mata violet yang semakin gelap menyerupai dasar jurang. Anak itu mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Pria itu tetap sabar dan ramah, melanjutkan pertanyaannya, "Siapa namamu?" Saat pertanyaan ini dilontarkan, anak laki-laki itu membeku kaku.
Matanya yang kehilangan cahaya sedikit bereaksi. Anak laki-laki itu menggerutu, "Nama ... Nama ... Siapa namaku?!" Kemudian berubah panik. Dia hendak memukul kepalanya, tetapi dihentikan oleh pria berjubah hitam itu.