Chapter 41 : Penyelidikan

367 74 7
                                        

Mayhen Renovalt sepertinya bertambah tua semenjak penutupan lelang Couloseum Fregrace. Saat ini, dia mendapati dua orang pengunjung yang tak bisa dia tolak.

Merupakan rahasia bersama untuk titik kontak yang diizinkan membuat Undangan Couloseum Fregrace. Faust atau biasa dipanggil Phill, yang sedang menikmati tehnya dengan anggun, adalah kenalan Mayhen.

Di sisi lain, Evans, yang berdiri di belakang Phill, telah menggunakan kekuatan sihir untuk menyembunyikan telinga Beast agar identitasnya sebagai anggota suku Rubah Putih tak diketahui. Dia menunggu dalam keheningan yang mencekik ini.

Posisi Phill tampaknya ada di atas Mayhen karena yang terakhir tak berani mendesak.

"Aku mendengar rumor aneh tentang asal-usul putra angkat Willbert de Castalia." Phill memulai pembicaraan sambil menatap tajam ke arah Mayhen.

"Anak itu sekarang ada Ibukota dan rumor yang kudengar adalah dia seperti monster. Apa itu benar?" tanya Phill dengan nada pelan yang mengintimidasi.

Mayhen berkeringat dingin, apapun terkait kebenaran rumor itu tak bisa diberitahukan kepada siapapun. Dia termasuk salah satu pengikut Willbert de Castalia, jadi dia tak mungkin membuka kedok kegelapan yang mengintai di Kota Harva, wilayah yang dia kelola atas intruksi Willbert.

"Juga, lambang serigala perak di jubah itu merupakan simbol Castalia. Kau pasti juga menyaksikan monster peminum darah di pelelangan itu," lanjut Phill tanpa memberikan kesempatan Mayhen mengelak.

"Itu berarti apakah anak itu adalah tuan muda Castalia yang dikabarkan baru muncul di Ibukota?"

Suara Phill terdengar seolah dia sangat yakin dan tak memerlukan bantahan. Dia bertingkah seperti seseorang yang sudah tahu kebenarannya, tapi menguji pelaku untuk menakutinya atau mengancamnya.

"Simbol Castalia tak mungkin dipakai oleh orang sembarangan, lagipula sosok peminum darah itu bertubuh kecil. Rumor dan penampakan di Couloseum Fregrace,  bukankah keduanya saling terhubung? Lihat, kau basah kuyup karena keringatmu, Mayhen. Haha. Tenanglah!" seru Phill.

'Orang ini mengerikan!' Mayhen menggertakkan giginya.

Evans tak bisa berkata-kata dan hanya berekspresi kosong. Kesimpulan Phill menusuk titik penting yang langsung mengkonfirmasi kemungkinan terbesar.

Lalu, mengenai rumor yang beredar, itu saat mereka memasuki Kota Harva bersama pria misterius bernama Rei. Rei berkata bahwa dia akan berjalan-jalan di kota untuk mengumpulkan informasi, sementara mereka berdua beristirahat di penginapan.

Ketika Rei kembali dari jalan-jalannya, dia menceritakan tentang rumor menarik yang hanya bisa dia dapatkan dengan metode khusus. Dia bilang itu bisa dianggap sebagai bentuk pembayaran karena memberinya biaya hidup, kartu identifikasi saat memasuki kota, ditambah pengetahuan umum di kerajaan ini.

Informasi itu jelas penting karena Rei tidak mudah memperolehnya. Sebagai Guide, dia tahu hal itu hanya bisa berarti bahwa jika diketahui pihak yang tepat, pasti akan jadi fatal bagi pelaku rumor maupun yang dirumorkan.

Phill dan Evans cukup menarik minatnya sehingga dia memutuskan membantu penyelidikan mereka. Itu permintaan pertama mereka sesuai perjanjian.

Keduanya tak menyangka bahwa Rei sangat berguna dalam mengorek informasi terselubung.

Saat ini, Rei sedang berkeliling entah ke mana, dia mungkin akan membawa informasi penting lainnya nanti.

"Rumor itu tak berdasar dan tanpa bukti. Saya mengenal anak itu sejak dia diadopsi tuan Willbert dan saya yakin dia bukan monster atau peminum darah," sangkal Mayhen dengan tegas.

Dia harus melaksanakan tugasnya untuk mengubur kebenaran tentang keabnormalan Cail de Castalia, atau lebih dikenal di Kota Harva sebagai The Radiant.

Phill menyangga dagunya seraya tersenyum kecil. "Baiklah, sepertinya ada bagian yang kurang dari kesimpulanku. Itu tidak valid untuk sekarang. Aku akan menemukan buktinya dan datang lagi. Atau mungkin aku akan langsung ke Ibukota dan menemui anak itu."

Dia berdiri, tidak menunggu respon Mayhen yang mencurigakan.

Evans melirik sekilas ke Mayhen lalu mengikuti Phill keluar.

***

"Hnm...." Rei membersihkan kacamatanya untuk menegaskan kalau apa yang dia lihat itu bukan ilusi.

Dia berkeliling sampai ke tempat terpencil dan akhirnya berada di daerah yang jarang dilalui siapapun.

Ada bangunan kecil bobrok di antara lingkungan liar yang mirip bekas hutan terbakar. Yang aneh adalah banyaknya batu nisan yang tak sesuai adat di kota untuk mengirim kematian.

Itu dari perbincangan bersemangat dengan pemilik bar yang serba tahu, yakni orang-orang yang meninggal di kota ini tidak dikubur, melainkan dikremasi dan abunya akan dijaga oleh Menara Alkemis. Kebiasaan yang sangat aneh.

Adanya batu nisan di sini hanya bisa berarti ada yang memberontak. Rei semakin tertarik.

"Menara Alkemis?" Rei penasaran apakah konflik atau sesuatu akan pecah jika dia menguak isi sebenarnya dari menara itu?

Dia memeriksa kuburan yang digali berantakan seolah si penggali terburu-buru. Tak ada nama atau petunjuk apapun. Bangunan bobrok itu juga kosong dan kotor menandakan sudah lama ditinggalkan.

Rei kemudian mengeluarkan arloji saku kuno dan melihat perputaran waktu. "Ini suatu kebetulan, bukan begitu?"

Tiba-tiba, dia mendongak ke langit dengan kilatan mata tajam.

***

'Cail' menerima pesan dari Putra Mahkota untuk datang ke Istananya hari itu. Dengan sikap yang sangat alami, dia menyuruh Valet Wander mengganti pakaiannya dan mempersiapkan diri dengan baik.

Seisi lemarinya hanya ada satu warna pakaian yaitu hitam, baik untuk kemeja, setelan tuksedo, pita, topi flanel, sepatu, dan aksesoris. 'Cail' memiringkan kepalanya seolah dia tak bisa mengerti, tetapi akhirnya tak mengatakan apa-apa karena tak termasuk tugasnya.

"Biarkan aku menjadi pengawalmu," pinta Rui saat dia memperhatikan kekakuan boneka 'Cail' ketika mendapati ada hal-hal yang memiliki makna tertentu.

"Tentu," jawab 'Cail' dengan suara robot.

Mereka menuju Istana Grane dengan beberapa ksatria dan Valet Wander. Namun, mereka tidak akan mengikuti 'Cail' memasuki kediaman Putra Mahkota, mereka akan menunggu di paviliun khusus. Sementara, 'Cail' dan Rui yang bertindak sebagai pengawal pribadi diizinkan masuk ke pusat di mana Putra Mahkota berada.

Rui mengenakan seragam pengawal berwarna hitam dengan pola serigala perak di lengan. Dia mengagumi setelan itu selama beberapa saat sebelum berakting sesuai posisi.

Obsesinya entah kenapa sedikit mereda dan dia bisa memperhatikan sesuatu yang lain. Akan tetapi, dia masih memberikan perhatian ekstra ke 'Cail' berharap Cail segera bangun sehingga dia dapat meminta maaf atas kata-kata kasarnya.

Boneka 'Cail' tak memahami maksud perlakuan Rui dan secara alami menganggapnya menjengkelkan, semacam program bila itu menyentuh titik tertentu yang menyebabkan Cail mungkin bangun.

'Cail' dan Rui disuruh menunggu di ruang tunggu Putra Mahkota. Yang terakhir merasakan keanehan, yakni Istana Grane saat ini terlalu sepi. Bukankah seharusnya banyak pelayan atau prajurit?

Kraaak!

Pintu ruang tunggu terbuka, seorang pemuda yang hendak mencapai kedewasaan melewati ambang pintu dan melihat 'Cail'. Mata emasnya tiba-tiba membeku saat dia melirik Rui yang berada di belakang 'Cail'.

"Yang Mulia," salam 'Cail' dengan etiket yang baru dipelajari dari Valet Wander.

Namun, Zelda tak peduli tentang itu sekarang. Setelah beberapa detik keheningan, dia akhirnya berhasil bertanya, "S-siapa yang ada di belakangmu?"

'Cail' membuka mulutnya, suara monoton itu lebih mengejutkan Zelda. "Dia pengawal pribadi saya, namanya Rui."

***

Kebahagiaan Protagonis Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang