Dalam kekalutan dan kengerian, Sein menolak untuk percaya apapun yang dikatakan Bell.
Melihat langit senja yang berangsur gelap, membayangkan kamar apartemennya yang sepi dalam ilusi sebelumnya, Sein mendesah lelah.
Siapa dirinya? Itulah pertanyaan yang selalu ada di lubuk hati terdalamnya, belum ada jawaban sehingga dia terkadang mencoba untuk mengabaikan keganjilan dirinya sendiri.
"Sein, ayo pulang lebih awal. Kau terlihat pucat," bujuk Rael, yang menyembunyikan apa yang dia ketahui. Dia saat ini lemah dalam domain manipulasi realitas, kekuatan aslinya yang setiap pecahan jiwa mengerti secara alami.
Rael merasakan bahwa Sein ditarik masuk ke dalam ilusi, meskipun hanya sesaat, tak lebih dari tiga detik di kenyataan. Namun, Rael tak bisa mengungkapnya atau Sein akan menjadi waspada padanya.
Sein tampak rapuh, tetapi firasat Rael mengatakan sebaliknya. Sein atau jiwa yang berada dalam tubuh Sein saat ini lebih kuat dari yang dia kira. Rael merasa menyesal atas betapa lemahnya dia sekarang.
Sesuatu melintas di benaknya ketika dia membawa Sein pulang tanpa menunggu persetujuan. Dia memerintahkan ksatria dan pengawal yang mengikuti untuk membawa Eire.
...
Sein menahan kedua tangannya yang gemetaran saat dia duduk dalam kereta kuda bersama Rael.
Mata violetnya suram dan penuh kebingungan. Apa yang harus dia percayai? Pada saat ini, dia memikirkan apa yang akan dikatakan Rui jika dia mendengar tentang pertanyaannya.
"Kau tidak harus mempercayai apapun yang membuatmu ragu, Sein. Tetaplah menjadi dirimu sendiri," sahut Rael seolah dapat membaca pikiran Sein.
Kedua tangan Sein berhenti gemetar, dia menatap Rael dengan terkejut. Entah kenapa, tebakannya mengenai Rael memiliki kemungkinan tinggi untuk benar.
Kebetulan tak mungkin terjadi berulang kali, apalagi sikap dan bagaimana seseorang tertentu memperlakukannya itu tak bisa sama.
Dengan mengesampingkan ketakutannya, Sein bertanya demi penyelidikannya, "Kakak, apakah kau ingat nama asliku?"
Rael tersenyum, menyadari bahwa Sein sudah curiga padanya. Rael menyarankan hal tadi agar Sein tak percaya apapun yang ilusi tunjukkan padanya yang membuatnya begitu pucat.
"Nama asli? Sein, siapa kau?" Ini juga kesempatannya untuk mengetahui identitas jiwa yang dia sayangi, mungkin bila dia akhirnya menyatu dengan tubuh utama, dia dapat memenangkan kendali.
Sein tertegun pada awalnya, kemudian dia mencapai realisasi bahwa mungkin ada sesuatu yang menyebabkan Rael tidak mengingatnya jika tebakannya benar adanya.
"Kakak, kau selalu memanggilku...." Sein mengucapkan namanya dengan gugup menunggu reaksi Rael.
Namun, anehnya Rael tak bisa mendengar nama yang Sein ucapkan seolah-olah ada filter yang menghalanginya untuk mengetahui itu.
Rael mengepalkan tangan kanannya, tanda kejengkelan pada ketidakadilan ini. Dia juga tak bisa membaca pergerakan bibir Sein untuk menebaknya karena sama seperti suara yang tiba-tiba hening, penglihatannya kabur.
Sein kecewa karena Rael tidak bereaksi sesuai yang dia harapkan. 'Tak ada reaksi. Mengapa?!'
Rael berdeham, mengganti arah pembicaraan, "Bagaimana dengan belajar pedang? Kau harus memiliki keterampilan dasar ini untuk masuk ke Akademi Skylord."
Sein, yang mengetahui bahwa Rael sengaja mengalihkannya, mengikuti ritme, "Aku akan mempertimbangkannya."
Keheningan yang canggung timbul sehingga Rael mendesah dalam hati sambil menatap keluar jendela dengan kedua tangan disilangkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kebahagiaan Protagonis
FantasyKarya Original, bukan fanfic atau terjemahan! Cover dari Canva *** Protagonis novel "Ways of Heroes" tidak mendapatkan jawaban atas ketidakbahagiaannya sampai akhir, sebagai pembaca berat novel tersebut, Yoo Han benar-benar berharap dia bisa memban...
