Sudah lebih dari satu bulan tidak ada kabar sama sekali dari Diven. Padahal beberapa hari lalu Melfa mendengar kabar bahwa Diven sudah menjalani tranplantasi sumsum tulang belakang yang didonorkan oleh Erfan.
Beberapa kali Melfa mengirimkan pesan pada pria itu. Namun tak satu pun ada yang dibalas oleh pria itu. Boro-boro dibalas, dibuka pun tidak. Sampai Melfa berpikiran kalau pria itu telah melupakannya.
Gadis itu menoleh ke samping. Dilihatnya Qilla yang sedang asyik memakan mie lidi sambil memainkan ponselnya. Kalau diperhatikan akhir-akhir ini Qilla mulai tenang dan mulai melupakan Yosha.
"Qil," lirih Melfa, gadis itu menyahutinya dengan deheman. "Kalo cowok udah lama nggak ketemu sama ceweknya tuh mereka emang selalu berubah dan pergi gitu aja tanpa kabar?" tanya Melfa.
"Faktanya emang gitu, karena cowok tuh sebenernya lebih bangsat daripada buaya," tutur Qilla tanpa melepaskan matanya dari layar ponselnya. "Tapi nggak semua sih," lanjutnya.
"Kata Mama, dulu waktu Mama hamil gue, masih hamil muda tuh Papa tembok ke luar negeri buat urusin bisnisnya. Terus baru pulang pas Mama hampir lahiran. Kok Papa nggak sekali pun berubah, ya?" tanya Melfa dengan polosnya.
Qilla diam, dia menghentikan aktivitasnya dan menatap Melfa. Melihat wajah polos gadis itu yang selalu saja membuatnya gemas. Bisa-bisanya ada anak SMA kelas 12 masih sepolos anak TK.
"Kan gue bilang nggak semua, Mel," Qilla memutar bola matanya jengah. "Toh kalo gue liat-liat Papa tembok lo itu bucin banget sama Tante Nara," ucap Qilla sambil mengingat betapa mesranya kedua orang tua Melfa.
"Papa tembok orangnya dingin, sama siapa aja cuek. Mungkin Ray nanti juga bakal setia sama istrinya, soalnya sifat Papa tembok sama Ray tuh sama," Melfa menyatukan kedua jari telunjuknya.
"Lo kalo cari cowok yang sifatnya kayak Om Raffa sama Ray aja, biar setia," sahut Qilla sembari tertawa geli. Membayangkan bagaimana Melfa yang polos itu bertemu dengan seorang pria yang dingin.
Berbeda dengan Qilla, Melfa justru diam dan menunduk lemas. Dirinya teringat akan sifat Diven. Pria itu sangat menyebalkan dan senang sekali menggodanya. Tapi pria itu juga senang membuat orang merindukannya.
Mungkin benar kata Qilla, pria yang memiliki kecenderungan sifat dingin dan cuek akan sangat setia. Sedangkan pria yang penuh dengan candaan dan lembut belum tentu bisa setia. Apalagi mengingat Diven yang memiliki sifat itu dan dulunya Melfa sering melihat Diven gonta-ganti pacar.
*****
Di samping ruang guru, tanpa sengaja Vanes menemukan Ray tengah bersandar pada dinding sambil menyidekapkan tangannya. Sepertinya pria itu sedang memikirkan sesuatu.
Dapat Vanes lihat pria itu menggelengkan kepalanya, setelah itu beranjak pergi dari tempatnya. Karena rasa penasarannya yang tinggi, diam-diam Vanes mengikuti ke mana pria itu pergi.
Sesekali Vanes bersembunyi di antara para siswa atau di balik tembok. Takut jika ketahuan oleh pria itu. Nantinya bisa berujung dengan suatu hal yang sangat tidak diuntungkannya.
Sesampainya di tengah koridor yang bercabang dan sepi, Ray berhenti secara tiba-tiba. Membuat Vanes segera bersembunyi untuk mengamankan dirinya.
Oke, sepertinya keadaan sudah aman. Vanes mengintip keluar, namun Ray sudah hilang tak meninggalkan jejak. "Tuh, kan! Udah ilang tuh Ray-nya," Vanes menghentakkan kakinya kesal.
"Nyariin gue?"
Seketika tubuh Vanes membeku di tempat. Dia sangat mengenali suara yang terdengar sangat dingin itu. Suara yang dia harap tidak mengetahuinya jika dirinya mengikuti pria itu.
Perlahan Vanes membalikkan badannya, menghadap pada pria itu. "Hehe, t-tadi g-gue cuma nggak sengaja ngikutin aja," jawab Vanes dengan menampilkan deretan giginya.
"Ngapain lo ngikutin gue?" tanya Ray ketus. Sepertinya pria itu belum bersahabat dengan Vanes.
"Kan gue udah bilang nggak sengaja," balas Vanes dengan takut-takut serta kepalanya menunduk. Tak berani menatap pria dingin di depannya itu.
"Lo pikir gue percaya?" tanya Ray lagi, tak ada perubahan sedikit pun dari nada bicaranya. Entahlah, Vanes tak tahu sifat pria itu menurun dari siapa.
Vanes yang sudah kesal menghadapi Ray pun tiba-tiba berani mengangkat kepalanya. Gadis itu memanyunkan bibirnya dan menatap Ray sengit.
"Gue tuh selama ini suka sama lo! Kenapa sih lo nggak peka?! Semua cowok yang gue tau tuh nggak gini, cuma lo doang yang dingin dan nggak peka!" teriak Vanes di luar kendalinya.
Pria itu tak bereaksi apapun, hanya sebelah alisnya saja yang terangkat. Benar-benar pria itu menyebalkan sekali. Memangnya tidak ada hati di dalam tubuhnya, ya?
Dalam hati Vanes merutuki dirinya sendiri. Bisa-bisanya menyatakan perasaannya langsung pada Ray yang sudah jelas minim ekspresi. Dengan cepat Vanes berbalik ingin bergegas pergi, namun tangannya lebih dulu dicekal oleh Ray.
"Kenapa nggak bilang dari dulu?" tanya Ray yang kini lebih terdengar hangat. Membuat gadis itu menatapnya dengan tatapan bingung.
"H-hah?"
"Kenapa baru bilang sekarang?"
"Lo nggak suka sama gue,"
"Gue suka sama lo,"
Deg
Bukan berdetak tak karuan, tapi jantung Vanes rasanya sudah tak berdetak lagi mendengar pengakuan tak terduga dari Ray. Awalnya Vanes pikir Ray itu membencinya karena sifatnya yang dingin itu.
Vanes menggigit bibir bawahnya bagian dalam. Beneran deh Vanes sangat grogi. Tak tahu lagi harus berbuat apa. Dan entah mendapat keberanian dari mana Vanes memukul dada bidang pria itu.
"Lo tuh yang cowok! Kenapa nungguin gue yang ngomong duluan?!" protes Vanes dengan bibirnya yang manyun. Ingin sekali Ray menguncir bibir itu.
"Ada seseorang yang harus gue jaga," tutur Ray pelan.
"Gue tau siapa yang lo maksud. Tapi lo juga harus mikirin diri lo sendiri," sahut Vanes. Tak perlu dijelaskan pun semua orang akan paham siapa yang dimaksud oleh Ray.
"Nggak bisa, dia lebih penting dari apapun," balas Ray dengan menyidekapkan kedua tangannya.
"Andai gue jadi Melfa," lirih Vanes pelan, sayangnya Ray masih bisa mendengarnya. "Jangan, nanti gue nggak bisa suka lo," sahut pria itu yang berhasil membuat kedua pipi Vanes bersemu merah.
Tidak sia-sia rupanya Vanes mempermalukan dirinya sendiri. Akhirnya ada untungnya juga. Coba saja Vanes tadi hanya diam, mungkin dia masih menunggu dengan penantian panjang.
"Jadi gimana? Temenan atau pa--,"
"Pilihan kedua," potong Ray cepat sebelum Vanes menyelesaikan kalimatnya.
Benar-benar pria itu selain jago membuat anak orang takut, jago juga membuat anak orang kehilangan detak jantung. Ternyata manis juga kalau sudah dekat seperti ini.
*****
Ada yang uwu"an tapi bukan Meldif, nih! 😙
Sabar ya buat kalian yang nunggu" momen Meldif. Tenang aja, Diven masih masa penyembuhan. Kalo udah bener" sembuh pasti dia nongol lagi 😂
KAMU SEDANG MEMBACA
Iridescent
Teen Fiction[COMPLETED] Ini kisah milik Melfa, gadis polos dengan paras cantik bak bidadari. Dia memang imut, kecil, dan mungil, tapi daya tariknya tak perlu diragukan lagi. Bukan hanya Melfa, ini juga kisah milik Diven, cowok berdarah Indonesia-Belanda yang ny...
