21 ~ Éénentwintig

635 42 15
                                        

Berjalan sendirian, kesepian sendiri diantara ramainya orang di sepanjang koridor, itulah yang dirasakan Melfa sekarang. Seharusnya ia sekarang bersama Qilla, tapi gadis itu sudah berpindah haluan memilih Yosha saat mendapat pesan dari pacarnya itu untuk menemuinya.

Semenjak Diven dan Vanes putus, banyak siswa yang memandangnya sinis. Mereka menganggap bahwa Melfa penyebab kerusakan hubungan Diven dan Vanes hanya karena Diven sering bersama Melfa. Padahal kalau dipikir-pikir kan memang Diven suka tepe-tepe sana sini, bukan hanya pada Melfa.

Oh iya, Melfa sekarang baru sadar. Setelah kejadian beberapa hari yang lalu saat di kafe itu, ia sama sekali tak pernah menjumpai Diven. Pria itu yang biasanya selalu datang dan mengganggunya pun sepertinya kini tak berniat mencarinya. Apa dia marah, ya?

"Melfa!"

Sang pemilik nama yang merasa dipanggil pun mendongak. Kedua matanya terbelalak ketika melihat Andra yang berdiri di ujung koridor bersiap menghampirinya. Sesegera mungkin Melfa berbalik arah dan berjalan cepat agar pria itu tak dapat menyusulnya.

Kaki Andra itu panjang, jadi dia dapat dengan mudah untuk menyusul Melfa yang kakinya tak bisa dibilang panjang. Bukannya kaki Melfa pendek, katanya cuma belum panjang aja.

"Mel, tunggu dulu! Gue bisa jelasin semuanya. Kalau lo hindarin gue terus, kapan masalah ini selesai?" Andra menahan tangan Melfa agar gadis itu berhenti. Namun dengan cepat Melfa menangkis tangan Andra dari tangannya.

"Nggak ada yang perlu dijelasin lagi, Ndra. Gue udah tau semuanya, gue udah tau gimana sifat asli lo. Ternyata lo itu busuk sebusuk-busuknya manusia!" seru Melfa dengan matanya yang mulai berkaca-kaca.

"Iya, gue busuk! Tapi seenggaknya lo kasih gue kesempatan biar lo nggak anggep gue busuk lagi, Mel," balas Andra cepat.

Melfa diam, gadis itu membuang pandangannya ke samping. Memandang pria di depannya itu hanya akan membuang-buang air matanya saja. Memang lebih baik saat pria itu pergi ke Jerman seperti sebelumnya.

"Gue nggak akan maksa buat deket sama lo lagi, Mel. Gue cuma pengen jelasin ke lo aja, nggak ada yang lain," lanjut Andra dengan lembut.

Well, kata-katanya yang lembut itu memang sejak dulu selalu bisa membius Melfa. Akhirnya Melfa mengangguk menurut dan duduk di kursi panjang yang ada di koridor itu.

Tak mau menyia-nyiakan waktu, Andra segera duduk di samping Melfa. Kebetulan sekali koridor ini sedang sepi, jadinya tidak akan ada banyak orang yang tahu masalah mereka dan membeberkannya di lambe turah SMA BW.

"Gue akuin setelah kejadian itu gue nyesel banget, Mel. Gue juga nggak ngira kenapa gue bisa setega itu sama lo, padahal gue sayang sama lo," tutur Andra dengan tertawa sumbang.

"Kalau lo sayang sama gue, kenapa lo tumpahin semua kesalahan atas hilangnya perjanjian penting bisnis Papa ke gue semua? Padahal di situ gue cuma nurut sama ide lo," sahut Melfa cepat bersamaan dengan turunnya setetes air mata di pipinya.

Air mata itu cukup untuk membuat hati Andra remuk. Meskipun ia tahu kalau dirinyalah penyebab kedatangan air mata itu. "Maaf, Mel. Harusnya gue dulu nggak lakuin itu sama lo. Dan gue sekarang bener-bener pengen tebus kesalahan gue ke lo waktu itu."

"Kata maaf aja nggak cukup, Ndra. Lo tau? Bahkan Papa sekarang nggak bolehin gue terlalu bebas main sama temen cowok kayak dulu, gue nggak boleh pacaran kayak temen-temen gue yang lain sebelum gue kelas 12. Cuma Ray satu-satunya cowok yang boleh main sama gue dengan bebas!"

Melfa mencurahkan semua yang telah ia pendam selama ini. Tangisnya pun kini berubah menjadi sesenggukan.

"Iya, gue tau kata maaf nggak cukup buat semua yang udah gue lakuin. Makanya gue pengen dapet kesempatan dari lo buat memperbaiki ini semua. Gue nggak akan macem-macem karena gue juga udah janji sama Ray buat nggak ngejar-ngejar lo lagi," ucap Andra lembut yang masih pada pendiriannya.

IridescentTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang