63 - The Other Promise

388 96 7
                                        

Tidak ada yang bisa kulihat. Tidak ada yang bisa kudengar.

Aku hanya bisa merasakan sebuah energi yang hangat di perutku dan sebuah genggaman di ujung tanganku. Sebuah tangan yang besar dan hangat. Seperti tangan papa. Setelah aku mengerahkan segenap tenaga yang dapat kuhimpun, aku membuka mata dan mendapati seseorang sedang tertidur di sebelah kanan tepi ranjangku. Setengah badan pria itu sedang terduduk di kursi, sedangkan kepala dan sebagian atas badannya berada di atas kasur, terlihat sedang tertidur. Sebelah tangannya menggenggam tangan kananku. Tangan yang hangat. Dia datang juga setelah beberapa bulan aku tidak melihatnya. Sejak kapan dia datang? Dan kenapa dia sangat ... berantakan? Sama sekali tidak terlihat seperti dirinya yang biasa.

"Tuan Franceso?" 

Apa yang dia lakukan di sini?

Sebuah bisikan. Tenggorokanku terasa begitu kering. Tubuhku terasa begitu dingin, letih dan lemas. Aku mengamati perutku. Masih bergerak-gerak kecil penuh semangat. Anak yang kuat. Dokter bilang, dia lebih kuat dariku. Karena itu aku harus bisa mengimbangi semangat si jabang bayi. Kupikir, aku sudah cukup banyak istirahat, atau mungkin aku terlalu meremehkan nasehat Dr. Visconti. Termenung, aku mengamati Tuan Franceso yang sama sekali tidak bergerak dari tempatnya duduk. Sudah lama sekali rasanya tidak melihat pria ini, dan cukup mengejutkan melihat bagaimana berantakannya dia. Topi panamanya tergeletak begitu saja tak jauh dari pintu masuk. Dia masih memakai coat dan setelan hitam mahal khasnya. Yang berbeda adalah, kali ini Tuan Franceso sama sekali tidak rapi. Begitu aku sadar, aku mencium bau yang sejauh ini dapat kudefinisikan sebagai bau mesiu. Aku bergerak lebih dekat untuk melihat wajahnya yang sedang tertidur. Saat aku bergerak itulah, Tuan Franceso terbangun, dengan sigap dan segera siaga pada sekitarnya. Matanya masih merah, dia terlihat lelah dan masih belum terbangun sepenuhnya.

"Kau bisa kembali beristirahat, Tuan--"

"Jangan pingsan seenakmu sendiri, sialan!" potongnya sambil memelototiku.

Benar juga, aku pingsan setelah membaca koran pagi tadi. Ah, bagaimana aku bisa melupakannya? Aku harus menanyakan apa yang sebenarnya telah terjadi di Moskow pada Tuan Franceso saat dia masih berada di sini. Tapi ... jika melihat bagaimana situasi dan kondisi Tuan Franceso saat ini, kurasa sekarang bukanlah saat yang tepat.

Dia marah. Namun matanya yang merah, ujung pelipisnya yang memar, rahangnya yang berkedut dan tangannya yang masih menggenggam erat tanganku sama sekali tidak membuatku takut padanya. 

"Kata Dr. Visconti pingsan bagi ibu hamil adalah kondisi yang cukup lumrah. Terlebih dalam kasusku," balasku santai.

"Itu tidak berarti kau berhak menjadikannya sebagai hobi, atau guyonan tidak lucu!"

Oh, lihatlah ini. Sekarang dia benar-benar marah. Dia melepaskan tangannya dariku, berdiri, lalu berderap-derap dengan kesal ke arah luar. Suara heels sepatunya menggema di ruanganku yang selalu tenang. Dasar pengacau besar.

"Pergi lagi setelah aku bangun?" tanyaku sambil terkekeh kecil melihat Tuan Franceso mengamuk.

Tuan Franceso berhenti di depan pintu kamar yang sudah terbuka. Ia menoleh ke belakang, tidak ke arahku, hanya sedikit menolehkan kepalanya ke samping hingga aku tidak sampai melihat air mukanya saat itu. Kedua tangannya terkepal dengan erat. Napasnya berderu, aku bisa mendengarnya dari tempatku duduk di atas ranjang.

"Kita akan bicara. Nanti. Sekarang kau kembalilah merebah. Aku akan memanggil Visconti."

Tak lama kemudian Dr. Visconti datang sendirian dan memeriksa keadaan tubuhku. Katanya gula darahku kurang, dan seterusnya. Sejak aku muda, aku memang memiliki penyakit kurang gula darah. Hal lain yang kuingat adalah ... aku kurang makan beberapa hari belakangan. Padahal hampir semua warga desa kecil ini tidak pernah lupa memberiku banyak makanan tiap menit. Benedetta selalu memastikan aku meminum vitamin yang sudah dokter resepkan untukku. Tapi sepertinya semua itu masih kurang. Noah Junior ini, si bocah kecil, memiliki porsi makan setaraf Joanne. Jadi, mau tak mau aku harus bersikap seperti Joanne di depan makanan setelah ini. Sudah diputuskan. 

Miss Brown (COMPLETED)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang