39 - Mrs Wenzel

582 114 0
                                        

Angin muson benar-benar membawa hujan deras tahun ini. Dan kali ini aku berdiri di tengah-tengahnya. Hm, apa yang dilakukan orang-orang di makam di hari hujan seperti ini, anyway? Mereka hanya datang untuk mengenang masa lalu sambil menunduk, bukan begitu? Aku tidak mengerti mengapa Phillip bersikeras untuk repot-repot ikut denganku kemari. Bukankah dengan itu, dia akan mengingat masa lalu yang menyedihkan. Aku tidak ingin Phillip menjadi ikut berduka bersamaku. Aku tidak ingin dia membuka luka lamanya karena mengikutiku.

"Apa kauingin melakukan sesuatu setelah ini, Sel?"

Samar-samar suara Phillip terdengar setelah kami berdiam cukup lama di tempat kami berdiri.

"Tidak ada."

Kemudian hening beberapa detik.

"Bisakah kauikut denganku ke suatu tempat, kalau begitu?"

Aku mengangkat wajah untuk melihatnya. Phillip berada di bawah payungnya sendiri. Wajahnya kelihatan lebih pucat dari biasanya. Ia awalnya hanya melirikku, namun sekarang aku mendapatkan seluruh perhatiannya karena aku tidak lagi menunduk di bawah gundukan tangan yang masih baru saja tertutup pagi ini.

"Tentu."

Kemudian hening lagi. Sangat canggung.

"Atau ... apa kauingin waktu sendiri untuk mengenang Ayahmu? Aku bisa menunggu di mobil."

"Kita tahu kau tidak akan menunggu di mobil, Phillip."

Phillip tertawa kecil. Tawa yang hampir tidak terdengar dibalik suara hujan yang begitu deras. Aku tahu, Phillip tidak akan menunggu di mobil. Tidak setelah melihat pertahananku runtuh begitu saja beberapa jam lalu. Dia akan pergi ke cafe di seberang jalan, membelikanku kue, kopi dan bunga, mungkin, untuk membuatku merasa lebih baik. Atau membelikanku barang-barang tersier lain yang tidak dibutuhkan di luar sana untuk mengalihkan pikiranku. Aku yakin, jika itu Phillip, dia pasti akan melakukannya.

Sekali lagi aku menekuk lututku dan mengusap nisan dengan ukiran nama papa di atasnya.

Papa meninggal di rumah sakit setelah jantungnya menyerah untuk bertahan tadi dini hari. Begitu aku datang, aku tahu apa yang membuat Jeremy terdengar begitu tenang saat meneleponku dan mengabarkan berita duka ini. Wajah papa terlihat sangat tenang dalam peristirahatan terakhirnya. Mungkin aku hanya mengada-ada, tapi bagiku papa terlihat sedang tertidur dan memimpikan sesuatu yang indah. Suster yang menjaganya, perempuan yang menemukan papa tidak bangun pagi itu dan detak jantungnya berhenti berdetak, mengatakan padaku bahwa hal terakhir yang diceritakan papa padanya dan semua suster yang merawatnya adalah perihal pernikahan anak perempuan kesayangannya dengan pria yang dia cintai. Anak perempuannya adalah anak yang paling berbahagia di bumi ini. Itu adalah harapan terakhirnya dalam hidup. Dia terlihat pergi tanpa penyesalan, meski tidak ada satu pun dari kami semua yang mampu membuktikan di pengadilan bahwa papa tidak pernah bersalah dalam kasus yang menimpanya hingga akhir.

Papa meninggal di hari ketiga setelah aku menikah di Vaduz, dan sekarang aku kembali ke New York untuk pemakamannya.

Phillip adalah suamiku sekarang. Cukup aneh, mengingat aku baru beberapa bulan saja mengenalnya. Beruntung, tidak seperti yang pernah kubayangkan, pernikahan kami tidak dipublikasikan gila-gilaan di media sebagaimana yang terjadi di Inggris Raya. Phillip dan keluarganya bukan orang yang kerap tampil di media juga, jadi tidak sulit untuk menutupi insiden batalnya pertunangan antara dia dan sang putri Belgia itu. Terlebih, tukang bikin sensasi, Adeline, mengalihkan media dengan sebuah peluncuran makeup line pertamanya yang langsung saja meledak di pasaran. Berita itu bahkan menutupi berita demo yang terjadi di Venezuela. Begitu saja, semua orang tiba-tiba sudah melupakan bahwa Phillip dan Adeline pernah memiliki sejarah. Yang mereka ingat kini adalah Adeline memiliki produk maskara termahal di pasaran dan seorang pacar rahasia. Dan orang-orang sibuk membicarakan siapa pria misterius yang menunggu di masa depan Adeline daripada seseorang di masa lalunya.

Miss Brown (COMPLETED)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang