67 - Someone New

533 120 12
                                        

Matanya hijau, sedangkan rambutnya cokelat terang sewarna karamel. Bocah itu duduk di depan display kaca yang menghadap ke arah jalan raya di depan rumah. Memeluk boneka kuda berwarna cokelat susu, boneka yang dia dapatkan dari Winston. Pandangan matanya mengikuti jalan-jalan air di kaca di depannya. Sesekali ia bergerak saat ada pejalan kaki berlalu lalang dengan berlari kecil di antara gerimis.

"Lio, apa kau tidak merasa dingin?" Mengeratkan selimut dari balik pundak Lio, aku mencium kepalanya. "Winston akan datang tidak lama lagi. Bagaimana kalau kita membuatkan dia kopi bersama-sama?"

Bocah itu menoleh padaku, matanya yang sayu, seperti milikku, menatapku memelas, "Wine?"

"Oh, kauingin Winston meminum wine daripada kopi?"

Lio mengangguk lalu memeluk boneka kudanya lebih erat saat aku menggandeng tangannya untuk turun dari pajangan.

Bertepatan dengan itu, sinar matahari masuk, menerangi tubuh kecil Lio, membuatnya terlihat bercahaya di antara gelapnya ruang jahitku yang gelap. Kharisma sang ayah dan tangannya yang selalu dingin. Bagaimana kau bisa terus menyiksaku untuk mengingat pria itu, Lio-ku yang paling kucintai?

Belum terlalu jauh aku berhasil membujuk Lio masuk ke dalam rumah, suara kunci dan bel yang menggantung di pintu masuk berdentang. Aku memiringkan tubuh untuk mengintip kedatangan satu-satunya orang yang memiliki kunci rumah kami selain aku.

"Selamat datang, Wins--"

"Winnie!!" sembur Lio dengan semangat. Derap kaki kecil dan suara kekehannya membuat gaduh.

"Yang Mulia!" Winston segera menekuk kedua kaki panjangnya, membuka tangan dan menerima tubuh kecil Lio dalam pelukannya, lalu mengangkatnya tinggi ke udara.

"Lio, ucapkan selamat datang."

"Selamat datang, Winnie!"

Winston tertawa kecil, dan mengangguk seraya dengan hati-hati menurunkan tubuh Lio dan menunduk seraya meletakkan telapak kanan ke pundak kiri. "Terima kasih, Yang Mulia."

Segera saja, Lio membanjirinya dengan pertanyaan-pertanyaan dengan kalimatnya yang patah-patah. Lio masih belum genap berusia dua tahun. Dan Lio bukan anak yang banyak bicara, jika tidak berada di sekitar Winston kesayangannya. Beruntung, Winston dengan sabar mendengarkan dan mencoba dengan segenap kemampuannya untuk menerjemahkan apa yang diinginkan si bocah.

"Untukmu, Yang Mulia Putri."

Winston menyerahkan sebuah surat kabar yang dilindungi oleh plastik.

"Hei!" Aku memperingatkannya dengan menodongkan ujung telunjukku padanya.

Winston mengangkat kedua tangannya dan menggeleng kecil, "Ok, Sel. Ok."

Winston dan segala etika bersikapnya yang terlalu lurus dan disiplin. Memang, kami tidak berada di tempat umum, tapi aku sudah muak dengan panggilan itu secara pribadi. Aku sudah tidak ingin mendengarnya dari mulut siapa pun.

"Terima kasih, Winston."

Di wajah Winston tidak ada jejak ekspresi apa pun saat aku menerima surat kabar itu dari tangannya. Dia malah terlihat tegang. Aku memberinya sebuah senyuman dan tepukan kecil ke jubah musim gugurnya yang aku buatkan beberapa bulan lalu, kemudian berjalan kembali ke arah dapur untuk mempersiapkan makan malam untuk kami. Winston membawa Lio berjalan-jalan keluar setelah memastikan hujan benar-benar telah reda. Aku sendirian di rumah, bersama kekhawatiranku. Surat kabar itu adalah satu-satunya jendela untukku mengintip keluar Castelmola. 

Perang pecah di luar sana, itulah mengapa tidak ada turis yang mendatangi tempat indah ini untuk berwisata. Semua orang menghabiskan waktu mereka di dalam rumah dan berdoa pada apa pun yang bisa mereka pikirkan dan berharap perang tidak akan merenggut kehidupan mereka juga. Betapa pun, aku menunggu kabar baik mengenai usaha perdamaian, semua harapan itu sia-sia. Liechtenstein yang tergabung dengan Jerman, bahkan dikatakan kini mulai membangun tenaga militer dengan kemapanan perekonomian mereka. Tentu saja, dana untuk membangun militer bukanlah hal sepele. Berkat peninggalan Phillip di Libya, pertambangan yang menghasilkan emas itu, Liechtenstein bangun seperti seekor monster yang selama ini bersembunyi dibawah bumi dan meneror semua orang. Aku bahkan tidak bisa membayangkan, kerajaan kecil yang damai selama berpuluh-puluh tahun itu, akhirnya memutuskan untuk turut andil dalam peperangan besar ini. Angela pasti akan bisa melakukan sesuatu di sana. Aku harap begitu. Aku harap dia dan anaknya akan baik-baik saja.

Miss Brown (COMPLETED)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang