Tenangkan dirimu, Gisela.
Berpikirlah rasional seperti kau biasanya.
"Oh, hai, Nona-nona," sapa pria itu sambil terengah-engah ketika ia sampai di depan kami.
Aku seharusnya menjawab salamnya, tapi aku terpaku, mengamati sosok yang seperti baru saja turun dari surga itu. Apanya yang berpikir rasional?!
Warna yang paling indah, aku melihat dalamnya mata pria itu. Hijau terang, sedikit biru, berkilauan, polos, terbuka, dan entah bagaimana ... hanya dengan menatapnya, aku tak lagi merasa khawatir, tak lagi merasa lelah. Aku bahkan tak menyadari, aku berpegang kuat pada tangan Mama, berusaha untuk tidak menghampiri pria itu dan mengamatinya lebih dekat.
Tunggu... Kenapa malah pria itu yang terus mengamatiku dan berjalan mendekat.
"Pangeran Hans?"
"Oh, astaga!" Pria itu terjingkat mendengar sapaan Mama. Kemudian tertawa kecil pada panggilan aneh itu. Ia menatapku sambil menggeleng dan mengangkat bahu, seperti memohon agar aku mengerti keadaannya. Seakan aku akan paham saja. Lalu pria berambut pirang itu menatap Mama dan menundukkan kepalanya sedikit agar Mama tidak terlalu mendongak untuk menatapnya. Ia berkata dengan lembut sambil tersenyum ringan. "Sudah kubilang, aku bukan Pangeran Hans, Nyonya."
Oh! Tentu saja dia bukan Pangeran Hans atau siapa pun itu!
Menyadarkan diri dari lamunanku sendiri, aku menggeleng cepat lalu berkata pada pria itu, "T-tolong maafkan dia!" seruku sembari aku mengusap-usap lengan Mama. "Orang tua, kau tahu. Mama pelupa."
"Tak apa," jawab si pria pirang sambil mengatur napas, membuat asap di sekitar wajahnya yang elok. Kenapa pria ini terlihat kesusahan bernapas? "Apa mungkin kau adalah putrinya, Nona?"
"Benar, Tuan."
"Syukurlah." Pria pirang itu tersenyum lebar, "Aku menemukannya terlihat kebingungan di jalan sana." Ia menunjuk jalan pedestrian di seberang jalan, di deretan gedung perbelanjaan dan restoran tak jauh dari kami berdiri. "Ia bertanya padaku di mana ini. Ia bilang, ia tersesat. Kami sempat mengobrol sedikit. Aku bermaksud membawanya ke kantor polisi, tapi dia bilang dia ingin minum kopi, jadi ..." Pria itu menunjukkan deret giginya yang putih rapi dan menyodorkan kopi. " ... Mau kopi?"
Mama dengan tanpa sungkan sama sekali, mengambil kopi dari salah satu tangan pria itu. Kami, aku dan si Tuan Pirang, saling memandang, lalu tertawa kecil melihat Mama yang dengan tidak pedulinya, mulai menyesap minuman itu sambil melihat-lihat aktivitas orang-orang yang ada di sekitar kami.
"Maafkan Mamaku telah merepotkanmu, Tuan—"
"Philip," sela pria itu cepat, "Namaku Philip." Ia mengulurkan tangannya.
"Tuan Philip."
Oh, tidak. Aku merasa wajahku memanas saat mengucapkan nama pria itu. Apa-apaan ini?
Aku segera membalas jabatan tangan pria itu. Ujung jari pria itu sangat dingin, begitu pula telapak tangannya. Aku hampir terjingkat.
"A-apa Anda kedinginan? Saya punya sarung tangan jika Anda berkenan--"
"Oh, tidak. Maaf, maksud saya, saya tidak apa-apa. Tangan saya memang dingin seperti ini di musim dingin." Pria itu terkekeh kecil dan menatapku sambil meneruskan ucapannya. "Terima kasih sudah mengkhawatirkan saya, Nona."
"Gisela Brown," ucapku sambil tersenyum ringan dan menoleh ke belakang pada Mama yang masih menghiraukan kami. "Itu ibuku, Natasha Brown."
Ada pendar aneh yang menarik di iris mata pria itu saat ia menatapku kala itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Miss Brown (COMPLETED)
RomanceGisela Brown tak pernah menyangka ia akan mengalami hal ini. Ia, seorang wanita berkulit hitam, Afrika-Amerika, sedang melihat seorang pria berkulit putih, tengah menatapnya hangat dan dramatis, dan berkata bahwa pria itu menginginkannya. Tidak, s...
