22 - The Rum

655 144 5
                                        

"Kau apa?"

"Haruskah aku mengulanginya lagi, Sel?"

"Tentu saja," jawabku cepat.

Langkahku mengikuti Joanne yang berjalan dengan gontai membantu menata barang-barang di apartemen baruku di Los Angeles. Aku tidak punya tempat pulang, sedangkan karena urusan bisnis yang makin lama makin sibuk, aku harus sering-sering pergi ke kota ini. Beruntung, Joanne bersedia menemaniku belanja dan memastikan aku hidup dengan layak di kota dosa ini. Tapi tempat singgah ini bukan hal yang penting lagi. 

"Karena kau baru saja bilang kau putus dengan Easton."

"Kau mendengarnya dengan jelas kalau begitu."

Ini sudah beberapa minggu setelah MFW selesai. Aku memutuskan untuk menuruti saran Joanne untuk menjual rumah lamaku dan membeli apartemen baru di New York untuk menghindari memori lama kenangan Mama menghantui tidurku. Well, aku tidak menjual rumah tua itu. Aku hanya membeli apatemen baru di dekat Manhattan. Terlalu banyak kenangan di dalamnya. Itu rumah pertama yang dibeli papa. Aku tumbuh besar di sana bersama mama yang membesarkanku dengan susah payah. Mungkin aku memang bodoh bermaksud untuk tinggal di sana sendirian dan membiarkan semua kenangan itu menyeretku dalam kolam melankolis yang menyesakkan. Aku membiarkan bangunan tua itu berdiri untuk menjadi time capsule yang berharga. Sharon dan keluarganya akan merawatnya dengan baik untukku, jadi aku tidak perlu mendatanginya untuk semantara waktu selama aku berada di Los Angeles. Setidaknya sampai aku lebih tenang untuk melihat kembali memori yang berputar-putar di setiap sudut ruangan itu tiap aku berada di dalamnya.

"Aku akan tinggal di sini untuk sementara waktu, oke?"

Aku meletakkan kardus kecil berisi dokumen-dokumen dan beberapa buku pribadiku di depan rak buku dan menoleh pada Joanne cepat. 

"Apa? Kenapa? Apa yang terjadi dengan apartemenmu sendiri?"

Joanne tersenyum kecil sambil mengangkat bahunya. "Kau butuh teman," katanya sambil melempariku senyuman-senyuman usil yang menyebalkan.

"Biar aku menerjemahkannya; kau tidak ingin mengurangi saldo di akun bankmu untuk menyewa apartemenmu sendiri, jadi kau bermaksud untuk memindahkan barang-barangmu ke apatemenku ini, lebih tepatnya ke ruangan kosong dekat pintu masuk yang tadi kaukagumi, lalu kau tinggal bilang bahwa kau akan terpaksa menemaniku tinggal di sini karena kau akan membuatku bergantung padamu."

"Ayolah, Sel! Kau tidak boleh setegas itu padaku di luar jam kerja!"

Aku masih sibuk menata bukuku saat menertawakan Joanne yang mulai bertingkah kekanakan dengan berpura-pura menangis dan mengamuk di atas sofa saat aku terus menolaknya.

"Oh, ya, Sel! Aku hampir melupakan sesuatu yang sangat penting."

"Hm? Apa kau melakukan kesalahan lagi ke kantor?"

Joanne mengacuhkanku dengan santai seperti biasa.

"Sel, apakah dia menghubungimu?"

Kami sama-sama menghentikan kegiatan kami masing-masing. Aku menatap buku berjudul The Subtle Art of Not Giving A Fuck di tanganku, kemudian menoleh pada Joanne yang memainkan selotip di tangannya.

"Kita sudah berjanji untuk tidak membicarakan ini, Jo."

Joanne dengan tidak wajarnya menghela napas menyesal dan menundukkan kepalanya penuh penyesalan. Aku tahu ia sedang berpura-pura.

"Sebaiknya kau mengerjakan sesuatu yang berguna. Kau bisa mulai membereskan kamar depan yang tadi kauinginkan daripada berdiam diri di sana."

"Ok, ma'am!" jawab Joanne dengan setengah melompat, berlarian keluar dan menutup pintu kamarku.

Miss Brown (COMPLETED)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang