"Ternyata benar kau, Gisela! Apa yang sedang kaulakukan di tempat seperti itu sendirian?!"
Aku masih memeluk Lio erat, memastikan buah hatiku tetap berada dalam jangkauan, memastikan aku tidak dikuasai oleh rasa lelah, tiba-tiba tertidur, dan melihat mimpi yang aneh. Aneh, tentu saja aneh. Bagaimana tidak, yang menunggu di dalam mobil mewah yang terparkir tak jauh dari halte, tak lain adalah milik Adeline Clamentine. Adeline Clamentine mantan tunangan Phillip. Mantan anggota keluarga kerajaan Belgia yang menolak untuk tetap berada dalam hak waris tahta kerajaan Belgia dan melepas segala status kebangsawanannya demi bersama pujaan hatinya, Adam, sang pelayan dan satu-satunya orang yang membawaku dan Lio ke dalam mobil ini.
"Adeline? Kaukah itu?"
"Siapa lagi memangnya, duh!"
Adeline, yang duduk di bangku kemudi, segera melirik ke arah rare view dan spion, lalu menyalakan mesin dan segera menjalankan mobilnya menjauh dari halte.
"Sialan!" umpatnya. "Di mana kautinggal sekarang?"
"Tidak," sahutku cepat. "Kau tidak akan mengantarkanku ke mana pun selain ke pelabuhan, Adeline. Tolong antarkan aku ke pelabuhan terdekat, aku akan menunggu pelayaran ke pulau utama."
"Kau sudah gila! Apa mereka masih tidak membiarkanmu melihat apa yang diberitakan media di luar sana? Kau adalah buronan Interpol sekarang. Jika mereka melihatmu di keramaian, jika orang-orang Liechtenstein atau orang-orang Amerika itu menemukanmu, mereka tidak akan segan untuk menyerahkanmu pada polisi. Dan ... tunggu. Bocah itu ... apa dia adalah putra Noah?!"
"Ini anakku," jawabku seraya menyimpan kepala Lio di dadaku.
"Ya, dan anak Noah, karena kau jelas-jelas belum berubah menjadi monster hemafrodit yang bisa membuahi rahimmu sendiri, Maria. Dan kau bukan tipe yang akan membiarkan pria-pria asing bersenang-senang di antara kakimu, jadi itu adalah anak Noah. Halo, Putra Mahkota."
"Mi chiamo Elliot Brown," jawab Elliot dengan polosnya.
"Lihat, dia jauh lebih imut dibanding kau dan si gila itu."
"Nyonya," suara berat seorang pria yang duduk di bangku sebelah Adeline membuatku meliriknya dengan was-was. "Saya sungguh menyesal sudah memperlakukan hal yang tidak sepantasnya pada anggota kerajaan seperti Anda, namun saya tidak bisa membiarkan Anda berkeliaran di jalanan seperti itu di saat ini. Ke mana tepatnya Anda akan pergi di saat seperti ini?"
Aku diam, menunduk, memandang tubuh kecil Lio di gendonganku. Apa yang harus kukatakan sekarang? Ke mana memangnya aku akan berkeras kepala akan pergi? Bahkan jika Adam dan Adeline tidak menemukanku di sini, aku tidak akan tahu apa yang akan terjadi pada kami. Tapi aku tidak bisa kembali. Tidak dengan perasaan takut ini, tidak dengan segala rasa buruk yang berkecamuk dalam dada dan membuat perutku mual. Dan aku benci membayangkan Lio berada di sekitar pria gila itu.
"Maafkan kelancangan saya," lanjut Adam ketika aku tidak segera menjawab. Rasa bersalah tersirat di matanya.
"Tidak, Tuan. Dalam keadaan seperti ini, aku harusnya berterima kasih telah menemukan kami."
"Terima kasih kembali, Sel," sahut Adeline dengan ketus sebelum aku bisa menjawab lainnya. "Kau tidak punya tempat tujuan, bukan begitu? Jika kau masih sendirian, kau berhak bertindak bodoh dan ceroboh seperti itu. Aku tidak akan repot-repot menghentikanmu. Tapi kau sudah memiliki anak sekarang. Kau harus memikirkan kebaikan bocah itu juga."
Tubuh yang lelah dan kepala yang rasanya sudah hampir meledak dengan mudah membuatku membalas ucapan Adeline.
"Oh, ya. Lihat siapa yang bicara. Memangnya kau mau pergi ke mana, Adeline?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Miss Brown (COMPLETED)
RomansaGisela Brown tak pernah menyangka ia akan mengalami hal ini. Ia, seorang wanita berkulit hitam, Afrika-Amerika, sedang melihat seorang pria berkulit putih, tengah menatapnya hangat dan dramatis, dan berkata bahwa pria itu menginginkannya. Tidak, s...
