"Jadi Angela memberitahumu perihal hubungan Adeline dan Adam?"
Maafkan aku, Angela. Tapi aku tidak ingin menutupi apa pun lagi. Aku menginginkan keterbukaan, dan setelah Tuan Phillip membuka dirinya padaku dengan menceritakan masa lalu yang penting bagi dirinya, aku akan merasa begitu salah jika mencurigainya diam-diam.
"Ya," jawabku ragu sambil menelan ludah yang terasa seperti bola pingpong. "Tapi, um, kau tahu, bukan Angela yang memberitahuku. Aku sudah mengetahui hubungan Adeline dengan bodyguard-nya itu dari mulut Adeline sendiri ketika dia mendatangi kantorku untuk menandatangani kontrak. Dan kau tahu, kau tidak sebaiknya menaruh curiga berlebihan terhadap Angela karena--"
"Apa yang kaukhawatirkan sampai seperti itu, Nona Brown?" selanya terkekeh. "Itu bahkan bukan rahasia lagi. Semua orang yang mengenal Adeline dengan baik akan tahu bahwa Adeline tidak bisa menutupi ketertarikannya pada Adam."
"Um. Baiklah."
"Adeline mungkin terlihat baik-baik saja. tapi gadis itu diikuti masalah ke mana pun dia pergi. Karena itu, aku sama sekali tidak bermaksud menambahkan dirinya sebagai daftar masalah yang harus kubereskan. Kau tahu, memasukkannya ke dalam keluarga kerajaan ini hanya akan memperburuk krisis yang sedang kami alami."
"Apakah ini adalah masalah isu penolakan imigran oleh Liechtenstein?"
"Ya," jawab Tuan Phillip dengan sesekali mengangguk kecil. "Berawal dari sana, untuk pertama kalinya, suara rakyat dan kerajaan kami terpecah."
"Suara rakyat? Jadi Liechtenstein memiliki sisi demokrasi juga, bukan kepemimpinan mutlak dari anggota kerajaan yang berkuasa?"
"Sejak kami diakui sebagai kerajaan di awal abad ke-16, kami sebagai pemimpin negara selalu mengutamakan perhatian rakyat sebagai dasar dari berbagai kebijakan dan keputusan. Bahkan bagaimana kami setuju untuk tetap bertahan sebagai pihak netral hingga Perang Dunia Kedua usai. Teror ledakan di Vaduz itu adalah sesuatu yang baru kami pelajari setelah prokontra keputusan untuk membuka negara bagi imigran perang. Negara kami, meski tidak memiliki penjagaan ketat di batas negara dan tidak memiliki kekuatan militer sejak tahun 1868, adalah negara yang hampir tidak terpengaruh oleh berbagai krisis dunia. Kami yang terkenal sangat pemilih dalam membiarkan seseorang tinggal di tanah negara ini yang sangat mahal ini.
"Sejak bertahun-tahun lalu, Jerman membuka semua pintu gerbangnya untuk para imigran perang. Keputusan itu sudah menjadi bahan pembicaraan politik yang tidak mengejutkan datang dari Jerman. Mereka mengalami bagaimana penderitaan di masa lalu menjadi imigran mencari tempat berlindung, pasca kekalahan besar di Perang Dunia Kedua. Masyarakat mereka memiliki empati besar terhadap para imigran perang, seperti nenek moyang mereka. Liechenstein bukan salah satu anggota Uni Eropa dan tidak memiliki sejarah perang seperti Jerman. Sebelumnya kami tidak pernah membukakan lahan kami untuk mereka. Sebelum aku berpikir bahwa itu adalah hal yang harusnya kami lakukan sejak dulu."
Tuan Phillip memandang jauh ke arah kota di bawah bukit. Pandangannya jauh ke tempat yang tidak bisa kujangkau.
"Sebelum kemudian sesuatu yang buruk terjadi, bukan?" tebakku ragu setelah melihat pandangan sendu di wajah pria dihadapanku ini.
Dia mengangguk kecil sebelum kemudian menatapku sambil sedikit mencebik dan tersenyum. Senyuman yang membuatku tidak mengerti apa yang sedang dipikirkan pria itu.
"Ya. Tidak seperti Jerman, hidup kami selalu aman dari krisis perang. Saat kami mengulurkan tangan untuk membantu, tangan lain bersembunyi karena takut akan hal baru yang kami terima."
Oh, aku tahu ke mana arah pembicaraan ini. Dan Tuan Phillip terlihat ragu untuk mengatakannya padaku karena aku bukan seorang dari komunitasnya. Ini bukan hanya masalah perbedaan warna kulit, namun juga ketakutan akan kepercayaan dan budaya, juga pola pikir dan jalan hidup yang dibawa oleh para imigran. Dan itu bukan sesuatu yang menjadi mungkin untuk diatasi begitu saja. Tidak melalui proses dan adaptasi panjang. Selama ini aku berpikir bahwa pemerintah harusnya melakukan sesuatu untuk menangani ketakutan-ketakutan sepihak itu. Tapi ketika berhadapan langsung dengan seseorang pemimpin negara dan melihat bagaimana dia memandang negerinya di bawah sana, aku segera tahu, aku bahkan tidak cukup untuk bisa sekadar memberinya saran. Pria ini dan negaranya telah melalui banyak hal yang tidak aku mengerti dan aku tidak berada di tempat yang pantas untuk ... mendampinginya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Miss Brown (COMPLETED)
RomanceGisela Brown tak pernah menyangka ia akan mengalami hal ini. Ia, seorang wanita berkulit hitam, Afrika-Amerika, sedang melihat seorang pria berkulit putih, tengah menatapnya hangat dan dramatis, dan berkata bahwa pria itu menginginkannya. Tidak, s...
