62 - The News

428 97 6
                                        


"Phillip!"

Di tengah api yang membara si sekitar kami, Phillip menunduk, menatap sesuatu di tangannya. Sebuah mahkota. Mahkota yang seingetku disimpan di tempat penyimpanan kerajaan yang tersimpan jauh sekali dari tempat kami beristirahat. Entah bagaimana, mahkota indah itu berada di tangannya sekarang. Sudah rusak. Besinya meleleh, permatanya berjatuhan di antara kaki Phillip yang telajang. Mata hijau Noah menatap kosong benda itu. Seperti biasa, sebuah senyum yang tidak berarti apa pun ada di wajahnya yang pucat, berkilauan karena api yang mengamuk.

"Phillip! Kemarilah! Kumohon! Di sana berbahaya!"

Aku tidak bisa bergerak di tempatku bersimpuh. Tidak ada api di sekitarku, tidak seperti di sekitar Phillip. Fiammo dan Massimo merumput di belakangku dengan pelana indah mereka masih berada di punggung. Aku menunduk dan melihat tubuhku dibalut dengan gaun emas terbaik yang bisa dibuat Renaud. Namun, aku tidak bisa bergerak. Seperti ada seseorang yang menyuntikku dengan sesuatu yang membuatku lumpuh. Andai aku bisa berlari dan menarik tubuh Phillip dari lautan api yang mengelilinya itu dan membawanya ke tempat aman bersamaku. Kumohon tubuhku, bergeraklah! Saat itulah aku mendengar sesuatu yang sama sekali tidak kusangka.

Sebuah tangisan bayi.

Bayi di dalam dekapan tanganku.

"Jaga ibumu, Elliot."

Sebuah kecupan di kepala bayi itu. Phillip yang entah sejak kapan sudah menekuk lututnya bersamaku, merangkul tubuhku dan bayi di tanganku ke dalam pelukannya. Kemudian dia mengangkat wajahnya dan tersenyum padaku. Kali itu senyumnya berbeda. Ia tidak menutup matanya, hingga aku bisa melihat apa yang ada di mata indah itu.

"Maafkan aku karena mencintaimu, Gisela."

"Phillip!"

Tubuh pria itu dilahap api di hadapanku sementara aku masih membatu di tempat bersama bayi di tanganku. Sedikit demi sedikit sosok itu menjauh, hingga aku tidak dapat meraihnya lagi. Tidak! Aku tidak ingin meninggalkan Phillip sendirian di sana. Aku tahu, aku sedang bermimpi. Saat-saat menyebalkan yang pernah dialami semua orang saat mereka sadar, mereka sedang bermimpi dan tidak bisa menghentikan apa pun yang terjadi dalam dunia alam bawah sadarnya ini. Mimpi yang sangat buruk. Tapi aku masih tidak bisa membiarkan Phillip menderita sendirian seperti sekarang. 

Meski itu hanya mimpi.

"Cara Mia!"

Tubuhku terangkat oleh sepasang lengan kuat yang membawaku seperti aku hanyalah seberat bulu angsa. Kepalaku terasa berputar dan berat bukan main. Aku tidak bisa merasakan pijakan kakiku sendiri.

"T-tuan Franceso?"

Sosok pria itu yang memenuhi pandanganku saat aku membuka mata. Tidak ada api, tidak ada Phillip. Aku berada dalam gendongan kedua tangan besar Tuan Franceso di depan, sedangkan angin kencang. Setengah wajah pria itu tertutupi rambutnya yang terurai. Tentu saja, dengan angin kesencang itu, topi panamanya akan terbang begitu saja.

"D-di mana kita?"

Saat aku menolehkan kepalaku ke sekitar, aku baru menyadari bahwa aku sudah tidak berada di kamarku (jelas sekali), atau di kastel. Kami berada di sebuah lapangan datar yang luas. Dan sebuah helikopter bergerak mendekat.

"Kita akan pergi," ucapnya setengah berteriak di antara deru angin. "Kau akan baik-baik saja. Kau akan mendapatkan penjelasan yang kauinginkan nanti. Jadi, tolong bekerjasamalah dengan baik. Oke?"

Mengesampingkan semua sikap tukang gombalnya dan segala perilaku aneh itu, Tuan Franceso, Andrea, sama sekali kehilangan sikap tenang dan santai yang khasnya. Secara meresahkan, ketenangan itu sama sekali tidak kulihat pagi ini. Ya, yang kutahu ini masih pagi buta. Matahari masih belum menunjukkan dirinya, tapi aku bisa melihat terang di arah timur kami. Wajah Andrea tegang, dan aku bisa merasakan ketegangan itu juga menguasai anak buahnya yang selalu berada di sekitar kami. Mellihat itu semua, aku menyadari, ada sesuatu yang buruk sedang terjadi, dan aku tidak ingin menjadi tokoh utama perempuan yang selalu minta penjelasan tanpa memberikan solusi yang berguna karena aku sama sekali ragu aku bisa memberikan bantuan dalam kondisi ini. Aku percaya pada keputusan Andrea. Aku mengangguk sekali padanya.

Miss Brown (COMPLETED)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang