Mereka menyebut mereka mafioso, pria terhormat, bukan tanpa alasan. Saat aku berjalan dengan mereka, aku merasa seluruh mata tertunduk hormat dan tidak ada yang berani menatap pria ini dengan matanya. Seakan mereka akan mati jika melakukan itu.
"T-Tuan Franceso—"
"Setelah semua kepopuleran yang kaumiliki, aku tidak menduga kau masih gagap, Cara Mia."
"Aku bukan cara mia-mu, Tuan!"
"Kenapa kau tidak memanggilku dengan nama depanku saja?"
"Tidak."
"Kenapa?"
"Karena hubungan kita adalah hubungan formal."
"Ah, kaku sekali," ucap Tuan Franceso sambil terkekeh kecil. "Kita sampai."
"J-jadi," ucapku berusaha tidak tergagap di depan sebuah gedung kosong yang megah di via Monte Montenapoleone. "Jadi kenapa kau membawaku ke sini?"
"Mau masuk?"
Sejujurnya aku ingin. Tapi aku menolak. Pria ini terlalu mencurigakan! Mana bisa aku memercayakan diriku dan eksistensi yang ada di daalm perutku dengan menurutinya begitu saja? Beruntung, dia tidak memaksaku. Kami kemudian begitu saja melanjutkan perjalanan dengan mobil menuju bandara.
"Jadi apa maksudnya itu tadi? Kenapa kau membawaku ke via Monte Montenapoleone, di jalanan paling fashionable di Milan yang tersohor itu, hanya untuk melihat sebuah gedung kosong dan pergi begitu saja?"
"Aku sudah mengosongkan satu. Gunakan itu untuk membuka butik Gazelle di sana. Kudengar kau kesulitan mendapatkan izin untuk membuka di sana karena kau adalah orang Amerika. Afrika-amerika, malah."
Joanne akan melompat dari kursinya dan menyembah kakimu, jika itu bukan bercandaan. Tapi bagaimana pun, pria ini adalah seorang mafia. Aku pernah mendengar jalanan itu selalu ramai, dan jarang sekali ada butik yang menutup gerai mereka di sana. Aku berterima kasih sepantasnya pada Tuan Franceso dan bilang padanya bahwa dia tidak perlu mengosongkan apa pun lagi untukku di masa depan. Demi Tuhan! Apa yang sudah pria ini lakukan pada pemilik sebelumnya?
"Kau terlihat sangat bersemangat untuk menyongsong masa depan denganku, Cara Mia?" katanya sambil tertawa kecil.
Jelas-jelas aku sedang merasa runyam berdekatan denganmu! Berhenti mengucapkan semuanya dengan sarkastik, Tuan!
"Kenapa? Kau adalah orang yang sangat sibuk. Semua orang tahu itu. Kenapa kau menyempatkan diri untuk mengurusi sebuah butik di via Montenapoleone untuk Gazelle? Apa motifmu? Apa yang kauinginkan dariku?"
Aku tidak mungkin begitu saja masuk ke perangkapnya setelah tahu siapa Andrea Franceso yang sebenarnya.
"Hm, itu adalah hadiah pernikahan dariku."
"Hadiah pernikahan?"
"Ya, kau adalah pacarku dan Noah adalah ... kau bisa menyebutnya, seorang teman bagiku. Ya, teman, kau bisa menganggapnya demikian. Jadi, ketika kalian, dua orang kenalanku yang akrab, menikah, sudah semestinya aku memberi kalian hadiah pernikahan, bukan begitu?"
Apa yang sedang pria ini bicarakan?! Aku adalah seorang istri dari Noah Phillip Wenzel, pemegang tahta Kerajaan Liechtenstein yang dicintai rakyatnya. Mana bisa kau bilang aku adalah kekasihmu di depan orang lain? Aku melirik ke arah supir yang sedang menyetiri kami ke arah bandara. Pria plontos dengan bekas luka di jidatnya itu terlihat sama sekali tidak tertarik—atau bahkan mendengar percakapan kami. Dia masih fokus ke jalanan dan memasang ekspresi datar.
"Dengar," bisikku pada pria yang duduk di sebalahku ini. "Aku bukan kekasihmu lagi. Dan Phillip—"
"Aku menyuruhmu pergi dari rumahku, aku tidak mengingkari itu. Tapi kita sama sekali tidak pernah mengatakan kalau hubungan kita selesai, bukan begitu?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Miss Brown (COMPLETED)
Storie d'amoreGisela Brown tak pernah menyangka ia akan mengalami hal ini. Ia, seorang wanita berkulit hitam, Afrika-Amerika, sedang melihat seorang pria berkulit putih, tengah menatapnya hangat dan dramatis, dan berkata bahwa pria itu menginginkannya. Tidak, s...
