60 - Imagination

372 91 1
                                        

Philip tidak berada di Liechtenstein lebih dari seminggu, dia hanya menghabiskan waktu bersamaku selama beberapa jam sehari di sela kerjanya di kastel Vaduz, kemudian dia dan Winston kembali berkelana. Ini sudah bulan ketiga kehamilanku. Perutku sudah mulai sedikit membuncit meski aku belum merasakan gerakan apa pun di dalam. Yang paling terasa hanyalah kelelahan dan beberapa kali muntah. Beruntung, aku tidak pernah benar-benar sendirian. Tuan Franceso selalu memantauku dan memastikan dokter akan selalu datang tiap minggu, atau tiap kapan pun pria itu merasa aku sedang membutuhkannya.

"Kau terlihat kurang istirahat, Cara Mia."

"Selamat pagi, Tuan Franceso." Aku berusaha tersenyum padanya. "Kau juga, lihat kantung matamu."

"Aku memang memilikinya sejak dulu."

Bohong. Dia memang tidak memiliki kulit yang selembut Phillip atau pria bangsawan lain. Jauh dari itu. Namun Andrea tidak memiliki kantung mata yang membiru dan menggelap seperti beberapa hari belakangan menggantung di bawah mata Tuan Franceso. Siapa memangnya yang dia pikir bodoh? Aku tahu Tuan Franceso berjaga saat aku tertidur. Dia bertingkah seperti layaknya seorang suami yang panik di saat kehamilan pertama istrinya, bahkan lebih mudah panik daripada ayah kandung dijabang bayi yang selalu melakukan semuanya dengan tenang dan cekatan. Aku terkadang masih tidak percaya pria selembut dirinya adalah seorang pemimpin kelompok kriminal yang paling ditakuti di Italia. Itu meresahkan. Karena semakin lama aku berada di dekatnya, semakin jelas aku melihat sosok Andrea yang dulu pernah merajai hatiku.

Pagi ini seperti pagi lainnya. Tuan Franceso akan berada di sekitarku saat aku menggambar, atau menunjungi Olivia. Bedanya adalah ... hari ini Tuan Franceso terlihat sangat tegang. Hal terburuknya adalah aku tidak tahu apa yang kira-kira menyebabkan pria seperti Tuan Franceso bisa menjadi setegang itu seakan-akan ... perang dunia akan terjadi. Secara harfiah.

Aku mengalihkan pandanganku ke arah jendela, menatap langit biru dan dataran yang perlahan kembali menjadi hijau setelah putihnya musim dingin. Hari ini pun tidak ada kabar dari Phillip. Dan sejak diagnosis kandungan lemah, Phillip membatasi penggunaan ponselku. Dia bilang, sebaiknya aku menagan diri untuk mengetahui informasi apa saja di dunia luar sana yang kian meresahkan. Dia tidak ingin aku mengkhawatirkan sesuatu yang tidak perlu, katanya. Panggil ini kuno, tapi inilah yang terjadi. Aku tidak bisa melakukan apa pun untuk mengubah itu sejak Phillip memiliki mata-mata yang selalu mengikutiku ke mana pun; Tuan Franceso, yang memiliki hobi untuk tidak pernah meninggalkanku seharian. Pria yang tengah menatap langit dengan kerutan tajam di antara darinya itu.

"Apa yang mengganggu pikiranmu, Tuan Franceso?"

"Tidak ada," jawabnya cepat tanpa menggodaku seperti biasanya.

Oh, aku bahkan sudah bisa membayangkan rayuan gombal macam apa yang akan keluar dari mulut Tuan Franceso jika saja dia tidak seperti sekarang. 'Oh, lihatlah dirimu, Cara Mia. Kau mulai memperhatikanku terang-terangan sekarang? Tuan Putri penggoda' atau semacamnya, diikuti dengan tawa serak khasnya. Tapi dia diam. Semua orang bersikap seperti Phillip sekarang; menyembunyikan segalanya dariku. Bahkan Angela yang belakangan tidak mengunjungiku sama sekali setelah aku menyerahkan desain terakhir gaun pengantin yang dia minta. Aku mencoba memahami apa yang sedang mereka lakukan. Mereka mengkhawatirkan kesehatanku dan bayiku. Mereka tidak ingin aku memikirkan sesuatu yang berat dan menjadi stres. Mereka menyembunyikan semuanya dariku kecuali apa yang mereka ingin aku lihat; festival, kelahiran anak selebritas, atau kabar-kabar bahagia lainnya. Tidak ada Winston yang cukup baik dan pengertian untuk dengan jujur memberitahuku apa yang terjadi di luar sana. Apa yang sedang dihadapi suamiku sendirian di luar sana.

"Jangan tiba-tiba membuat ekspresi murung seperti itu, Cara Mia."

"Aku tidak membuat-buatnya." Mataku terarah pada langit, warna yang sama seperti mata pria yang sedang kurindukan. "Mungkin wajahku memang seperti ini."

Miss Brown (COMPLETED)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang