"Bagaimana kabarmu, Papa?"
Alih-alih segera menjawabku, mata Papa yang mulai kelabu kini menatapku penuh arti tersirat. Sebuah rasa sakit, kecewa, cinta, penyesalan. Dulu aku tak mengingat pandangan itu berpendar pedih seperti ini. Seperti bukan milik pria yang sama. Atau aku yang telah berubah?
"Aku baik, Gisela. Terima kasih sudah datang."
Apakah itu sebuah kebohongan?
Papa tersenyum. Kerutan di wajahnya terlihat lebih kentara dibanding saat terakhir aku datang kemari. Mungkin sebulan atau dua bulan yang lalu. Aku bahkan tidak mengingat apa yang kami bicarakan di pertemuan sebelumnya. Yang aku yakin, pertemuan lalu pasti kurang lebih juga sama canggungnya dengan yang kali ini. Kami diam dalam senyuman kami masing-masing. Ganggang telepon di tanganku terasa semakin dan terus bertambah berat saja. Aku menggenggamnya lebih erat sekarang. Semoga Papa tidak melihat tremor di tanganku.
Semoga ia tak bisa melihat apa yang kurasakan sekarang, seperti dirinya yang tak peduli dulu. Sayangnya, penyesalan kiranya telah mengubah sesuatu dalam diri Papa. Sedikit terlambat.
"Bagaimana kerjamu, Sayang?"
Embuskan napasmu, Gisela.
"Baik, Papa. Aku akan pergi ke Italia minggu depan dan akan menetap di sana untuk beberapa waktu. Mungkin ini adalah kunjungan terakhirku tahun ini."
"Italia?"
Siapa yang tidak melihat wajah khawatir di wajah Papa? Uh-oh. Papa masih mengingat laki-laki itu rupanya. Halo, luka lama. Kupikir kau sudah hilang tak berbekas.
"Iya, kami akan berpartisipasi dalam sebuah pameran besar tahunan di sana."
Papa tertegun, sedangkan kedua matanya masih tertuju padaku.
"Apa itu berarti natal tahun ini kau tidak akan datang?"
Aku tersenyum lemah dan menurunkan alis. Papa tersenyum kecil, kemudian terkekeh.
"Gisela."
Aku tak menjawab, hanya mengangkat alis padanya.
Papa menunduk, aku bisa melihat tangan Papa yang menggenggam ganggang telepon gemetar di balik kaca yang memisahkan bilik kami. Kemudian muncul sebuah senyuman ceria yang palsu di wajah Papa yang sangat menggangguku.
"Aku mulai berpikir, kau bisa berhenti datang, Nak."
Aku mengerutkan alis dalam-dalam. "Kenapa?"
Papa terlihat sedikit panik dengan kilatan amarah yang ia lihat di sorot mataku padanya.
"Bukan berarti aku tak senang melihatmu datang, Gisela. Sungguh. Di antara semua yang tertangkap mataku di tempat ini, sosokmulah yang terlihat hidup dan kaulah satu-satunya alasanku bertahan, Sayang."
Papa menghela napas panjang, menunduk lagi, lalu menggeleng.
"Kau tahu, Papa selalu mencintaimu."
Aku juga mencintaimu, Papa.
Seharusnya aku menjawabnya demikian. Seharusnya aku --mungkin-- berderai air mata dan mengatakannya berulang-ulang. Namun, bibirku terkatup, begitu rapat, hingga Papa juga kehilangan kata-kata yang tadinya sudah berada di ujung lidah.
Hening yang sama seperti saat terakhir Papa berbohong padaku dan meninggalkan rumah. Aku tak pernah menjawab kebohongannya. Dan sekarang, aku tak bisa menjawab kejujuran Papa. Dia membuatku, memaksaku untuk bungkam atas segala ucapannya.
"Papa hanya berpikir ...." Pria itu memaksakan sebuah senyuman lemah di bibirnya, "... kau memiliki cukup banyak pekerjaan sebagai seorang pemimpin perusahaan, bukan? Para wanita itu bersandar padamu untuk hidup. Persiapanmu ke Italia tidak boleh terhalangi olehku. Aku tak ingin mengacaukan apa pun lagi. Setidaknya lebih dari ini."
KAMU SEDANG MEMBACA
Miss Brown (COMPLETED)
Lãng mạnGisela Brown tak pernah menyangka ia akan mengalami hal ini. Ia, seorang wanita berkulit hitam, Afrika-Amerika, sedang melihat seorang pria berkulit putih, tengah menatapnya hangat dan dramatis, dan berkata bahwa pria itu menginginkannya. Tidak, s...
