9 - Monalisa

1.4K 285 9
                                        

Tuan Phillip memintaku untuk menyembunyikan kenyataan bahwa aku melihatnya di bawah laut?

"Haha!" Itu lucu sekali! "Kau takut seseorang akan melaporkanmu pada pihak berwajib karena sudah memakai fasilitas dari penangkaran yang sudah ditutup?"

Tuan Phillip membulatkan mata ketika melihatku tertawa, kemudian tertawa kecil bersamaku dan mengangguk. Ada bagian kecil diriku yang emngatakan bahwa Tuan Phillip menyembunyikan sesuatu yang lain dibalik anggukan itu. Tapi apa memangnya yang bisa kukatakan jika ia memang tidak ingin mengatakan apa yang ada di pikirannya?

"Baiklah. Aku tidak melihat apa pun di penangkaran itu," jawabku menyetujui. "Sebagai gantinya, kita harus sepakat menyembunyikan kejadian tadi dari Joanne. Dia tidak akan berhenti sampai tiga hari ke depan untuk mengungkitnya dan merundungku di kantor."

"Seorang CEO yang dirundung pegawainya sendiri. Sudah juduga kau terlalu manis dan baik untuk kebaikanmu sendiri."

Hanya dengan kalimat itu, lalu bibirku bungkam. Tuan Phillip kemudian memintaku untuk menunggu sementara dia berganti baju di dalam salah satu ruangan dalam bangunan itu. Bisik angin di luar sana membuatku kembali menatap jauh ke arah laut. Karyawanku selalu bilang mereka ingin pergi ke pantai untuk berenang di musim panas. Aku baru menyadari, berenang di bawah terik matahari yang begitu terang memang sangat menyenangkan. Ya, seharusnya aku akan bisa lebih menikmatinya lagi jika tidak melibatkan hewan buas. Airnya terasa sejuk, pemandangan di bawah sana indah, dan tidak ada suara yang berisik seperti di kota. Lalu wajah Tuan Phillip yang membiaskan cahaya matahari, sentuhan bibir kami, rangkulannya di sekitar tubuhku.

Jantungku hampir lepas dari tempatnya saat sebuah kain tebal menyelimuti pundakku. Itu adalah Tuan Phillip yang keluar dari ruangan dan menyampirkan jasnya padaku sementara ia memakai setelan kemejanya.

"Tubuhmu gemetaran," ujar Tuan Phillip saat kami memutuskan untuk beristirahat di bangunan kecil di dekat dek di mana Tuan Phillip mengembalikan beberapa perlengkapan menyelamnya.

"Aku baik-baik saja. Terima kasih."

Tuan Phillip memeriksa wajahku. "Apa kau kedinginan?"

"T-tidak. Aku baik-baik saja. Sebaiknya kita cepat kembali."

"Oke," jawabnya sambil mengambil sebelah tanganku dan membimbingku keluar.

Pria itu dengan santainya menautkan kelima jemari di sela jemariku, kemudian menggenggamnya erat dan membawaku berjalan santai bersamanya.

"A-aku bisa berjalan sendiri—"

"Tanganmu dingin," katanya sambil tersenyum ke arahku. " Akan kubuatkan teh hangat untukmu di vila jika kau tidak keberatan."

"Aku sudah berhutang satu cangkir kopi dan satu cangkir teh."

Tuan Phillip terkekeh kecil dan menggeleng, lalu berjalan keluar bangunan. Kali itu, suara deru ombak berlombaan meramaikan seluruh sisi pantai. Ingatanku kembali menerawang. Aku menunduk lagi, sambil mengeratkan jas Tuan Phillip di sekitar cardigan tipisku. Masih jelas bagaimana paniknya aku saat menanggalkan cardigan ini dari tubuhku dan masuk ke dalam air, berdoa agar aku tidak terlambat menyelamatkan Tuan Phillip. Ujung jemariku masih bergetar. Bahkan aku baru bisa merasakan bahwa kakiku lemas sekarang. Apa tubuhku memang gemetar seperti yang dikatakan Tuan Phillip? Jika tidak karena dingin, mungkin karena aku syok. Atau tubuhku dikuasai trauma karena rasa takut.

Bodohnya aku. Bagaimana jika itu menjadi akhir dari hidupku? Itu adalah kali pertama aku berada sedekat itu dengan seekor hiu. Secara sengaja dan sadar. Tentu saja sangat takut, siapa yang tidak? Tanganku tidak bisa berhenti gemetar saat aku mengingat tubuh besar hiu itu, meski aku mengepalkannya dengan begitu kuat, berharap berhenti untuk tremor. Persendianku terasa lemas. Aku tidak tahu, berada begitu dekat dengan kematian akan terasa begitu mengerikan.

Miss Brown (COMPLETED)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang