Jadi ... pernikahan itu bukan hanya bualan Renaud?
"Seperti yang mungkin sudah kaudengar, itu adalah pernikahan politik."
Pernikahan politik.
"Jadi kau benar-benar adalah seorang Pangeran Mahkota?"
"Sejujurnya, if I can put it plainly, aku adalah seorang pemimpin negara."
Aku mendelik padanya yang masih tersenyum dengan tenang sambil mengamati tangannya yang dingin itu menggenggam tanganku di atas pahanya.
"Liechtenstein, negaraku yang kaulupakan namanya itu, adalah negara kepangeranan--"
"Maafkan aku melupakan namanya."
"Tidak apa," ucapnya sambil tertawa kecil dan kembali mengamati panggung saat model-model pria mulai memasuki barisan. "Satu-satunya yang harus meminta maaf adalah diriku. Aku tidak tahu kapan waktu yang tepat untuk membicarakan ini dengan benar padamu."
"Tuan," panggilku seraya sedikit menarik tanganku agar ia mengalihkan perhatiannya padaku. "Kenapa kau harus menutupi identitasmu, memangnya?"
Bibir Tuan Phillip tertutup rapat seketika. Tidak ada senyuman lagi di sana. Wajahnya menatapku seakan aku dengan ekspresi wajah yang ... entah bagaimana menggambarkannya. Seakan aku baru saja menceritakan sebuah cerita sedih padanya. Matanya yang hijau itu bergetar. Menatap kedua mataku.
"Karena aku ...," ucapnya getir. Ia tersenyum, sebuah senyuman sedih yang sangat kubenci saat ia menunjukkannya seperti itu. "Aku tidak tahu, Nona Brown. Aku hanya tidak ingin kau tahu siapa aku sebenarnya. Dan aku ingin jatuh cinta padamu begitu saja sebagai diriku sendiri. Tanpa kau tahu siapa aku yang sebenarnya, sebagaimana aku jatuh cinta padamu tanpa tahu siapa kau sebenarnya dibalik wajah cantikmu ini."
Ia melepaskan genggamannya untuk mengusap pipiku dengan jemarinya yang putih dan dingin.
"Sayangnya, pikiran itu begitu naif, bukan begitu?"
"Ya," jawabku sambil menggenggam tangannya di pipiku. "Itu sangat naif. Sampai kapan kau akan mengatakan kau mencintaiku, tapi kau mendorongku menjauh seperti ini?"
Dia selalu tersenyum saat aku menghangatkan tangannya yang membeku ini. Dan begitu pun saat ini. Dia tersenyum begitu hangat.
"Aku bahkan tidak tahu apa yang harus kulakukan padamu sekarang, Tuan Phillip. Aku tidak tahu bagaimana aku harus memanggilmu. Apa aku harus memanggilmu sebagaimana Winston memanggilmu waktu itu, Yang Mulia?"
"Kau memang sangat lambat, bukan begitu? Belum lagi, sikap formalmu itu. Memangnya kita sedang hidup di era apa?"
"Tapi aku ... kau tahu, aku tidak bisa memanggil orang lain dengan nama kecilnya begitu saja. Rasanya tidak benar."
Pria itu masih tersenyum, memandangku dalam diam sambil memicingkan matanya, seakan ia sedang merencanakan sesuatu yang licik.
"Lihatlah dirimu, kau hanya tersenyum saat membuatku kesal."
"Oh, maafkan aku, Yang Mulia."
"Hentikan, Yang Mulia," candanya membalasku.
Setelah puas menertawakannya, aku menarik diriku darinya, membuat jarak yang memang dibutuhkan di antara kami. Bodoh sekali diriku melupakannya.
"Jadi, kapan?"
"Apanya?"
"Pernikahanmu dengan Adeline."
Senyum Tuan Phillip sekali lagi menghilang sama sekali. Seperti tidak pernah ada di sana sebelumnya.
"Secepatnya setelah penobatan."
KAMU SEDANG MEMBACA
Miss Brown (COMPLETED)
RomanceGisela Brown tak pernah menyangka ia akan mengalami hal ini. Ia, seorang wanita berkulit hitam, Afrika-Amerika, sedang melihat seorang pria berkulit putih, tengah menatapnya hangat dan dramatis, dan berkata bahwa pria itu menginginkannya. Tidak, s...
