"Kau bercanda, Jo!"
Itulah kalimat pertamaku saat aku sampai di kantor kami.
"Kau yang bercanda, Sel!" Joanne nunjukkan layar tablet-nya padaku. "Ada masalah di beberapa dealer kita di Asia. Kau akan bicara dengan pimpinan cabang jika kau datang tepat waktu!" Joanne melirik jam tangannya. "... Satu jam yang lalu."
Aku meletakkan tas dari pundakku, ke atas meja sembarangan. "Aku minta print-outnya, tolong." Kemudian aku membalikkan badan. "Dan tolong katakan kau tidak mulai berkencan dengan pria asing itu."
Joanne yang tadi berkutat dengan pekerjaannya, kini melirik padaku dan tersenyum sambil memegangi coretan sketsa desain di kedua tangannya yang dilipat.
"Kenapa kauingin aku berbohong?"
"Dia adalah pria yang baru kautemui kemarin, Jo!" Aku mendelik padanya, aku menyadari bahwa aku bukan ibunya beberapa saat kemudian. Dengan helaan napas panjang, aku mengangkat tangan, lalu menggeleng. "Aku tahu aku sedang bersikap menyebalkan. Secangkir kopi akan sangat membantu," gumamku sambil bermaksud untuk berjalan ke keluar.
Tangan Joanne menahan pundakku. "Aku akan mengirimkan laporan-laporan itu bersama dengan kopimu," ujar gadis yang kini menunjukkan senyum curiga padaku. "Seingatku aku tak mengabarimu soal aku dan Winzy-"
"Apa? Winzy? Maksudmu Tuan Winston Gutmann?"
"Ya, Yang Mulia. Jadi, apa Si Ganteng Pirang itu yang memberitahumu?"
"Tak perlu ada yang memberi tahuku. Kau memasang Instastory bersama pria itu semalaman."
"Sejujurnya, aku masih bersamanya sampai tadi pagi. Dia mengantarkanku dan katanya akan menjemputku nanti."
"Oke," jawabku singkat, ogah berdebat dengan si rambut merah ini. Joanne sudah gila. Dan aku juga sudah gila bermaksud untuk mengerti dirinya. Aku mengangkat kedua tanganku, menyerah. "Terserah kau saja." Dia sudah dua puluh lima tahun dan seharusnya tahu nomor telepon darurat jika ia membutuhkan.
Aku duduk di tempat kerjaku dan mulai mengecek beberapa laporan dari kepala divisi. Di sebelah mejaku sudah berdiri Tiana, gadis kulit hitam berkacamata tebal yang sangat cerdas, baik, terlalu baik dan polos. Gadis ini adalah salah satu aset yang penting bagi perusahaanku. Dari luar, Tiana terlihat seperti wanita yang selalu gugup, meski laporan yang dia buat selalu memuaskan. Sementara Joanne sudah kembali dan menambah beberapa dokumen di samping milik Tiana, plus secangkir kopi hitam. Gadis itu kemudian duduk manis di sofa, menunggu dengan sabar sampai Tiana pergi membawa semua persetujuanku bersama dokumen-dokumennya.
"Aku ingin mengambil libur, dua hari saja," katanya saat aku mengirim Tiana kembali ke meja kerjanya.
Aku meletakkan pulpenku, melipat tangan dan menyandarkan punggung di kursi. Tanpa menyahuti ucapannya, aku menaikkan sebelah alisku, cukup membuat Joanne memberi penjelasan lebih lanjut.
"Phillip berulang tahun besok."
Oh, benarkah?
"Lalu?"
"Akhir minggu ini kita akan berpisah karena mereka akan pulang, benar?"
"Melanjutkan pekerjaan masing-masing. MFW tidak akan memaafkan pendatang baru seperti kita jika kita melakukan kesalahan." Aku menghela napas panjang, mencoba untuk tidak terdengar terlalu lelah untuk mendengarkan ocehan Joanne. "Kau tahu betapa pentingnya ini bagiku, bukan?"
"Aku memilih Gazelle dari pada Roland Schafer, Sel. Kau tahu betapa pentingnya perusahaan ini bagi kita."
Roland Schafer adalah banker yang dulu hampir menikahi Joanne. Aku tahu hingga sekarang, Joanne yang ceria pasti menyembunyikan semua dukanya setelah kehilangan pria tampan itu. Robert adalah pria yang baik, sopan, tenang, sangat sesuai untuk mengimbangi Joanne yang tidak stabil. Joanne pun terlihat begitu nyaman berhubungan dengan pria itu. Sampai kemarin, kupikir ia masih hidup di masa lalunya. Tuan Gutmann menjelaskan banyak hal padaku dengan membuat Joanne jatuh cinta lagi. Jatuh lebih gila karena Tuan Winston Gutmann membuat si workaholic culun tukang gambar anti-sosial seperti Joanne, ingin libur bekerja dan mengajakku ke pesta ulang tahun temannya besok.
KAMU SEDANG MEMBACA
Miss Brown (COMPLETED)
RomanceGisela Brown tak pernah menyangka ia akan mengalami hal ini. Ia, seorang wanita berkulit hitam, Afrika-Amerika, sedang melihat seorang pria berkulit putih, tengah menatapnya hangat dan dramatis, dan berkata bahwa pria itu menginginkannya. Tidak, s...
